Hujan Kabar Baik, Cuma AS yang Bikin Cemas: IHSG- Rupiah Lanjut Pesta?
Dari pasar saham Amerika, bursa Wall Street menguat pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.
Bursa menguat setelah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS turun. Sentimen pasar terdorong harapan Federal Reserve (The Fed) menahan suku bunga pada pertemuan September.
Indeks S&P 500 naik 1,06% ke 7.747,71, sedangkan Nasdaq Composite menguat 1,4% menjadi 26.584,06. Dow Jones Industrial Average melonjak 624,16 poin atau 1,18% ke 53.686,11, mencatat penguatan harian terbaik sejak 4 Agustus.
Yield Treasury AS 10 tahun turun ke 4,77%, setelah sebelumnya pada Rabu menyentuh level tertinggi sejak November 2023.
Penurunan yield terjadi setelah Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan dirinya cenderung mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga jika tidak ada kejutan dalam data inflasi mendatang.
Pernyataan tersebut langsung mengubah ekspektasi pasar. Berdasarkan CME FedWatch, peluang The Fed menaikkan suku bunga dalam dua pekan mendatang turun menjadi 50,4%, dari 63,2% sehari sebelumnya.
Sentimen positif turut didukung penguatan yen terhadap dolar AS yang menekan yield Treasury. Namun, harga minyak masih menjadi risiko bagi inflasi.
Harga minyak WTI naik 0,32% menjadi US$91,30 per barel, sementara Brent turun tipis 0,12% ke US$95,52 per barel.
Harga minyak yang bertahan tinggi berpotensi kembali mendorong inflasi dan membuat The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Analis CFRA Research Sam Stovall mengingatkan pasar belum sepenuhnya aman. Menurutnya, jika harga minyak tetap tinggi, kenaikan suku bunga masih menjadi hambatan bagi investor.
Di pasar saham, Snowflake menjadi salah satu penguat utama setelah sahamnya melonjak lebih dari 16% berkat kinerja laba dan pendapatan kuartal II yang melampaui ekspektasi serta prospek yang kuat.
Sebaliknya, saham Broadcom turun hampir 3% setelah perusahaan memberikan proyeksi pendapatan kuartal IV fiskal yang mengecewakan.
(mae/mae)