MARKET DATA

Adu Kuat Manufaktur ASEAN: Filipina - Thailand Ngebut, RI Mulai Loyo

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
03 September 2026 16:15
Gak Takut Pilpres, PMI Manufaktur RI Catat Rekor Tertinggi 5 Bulan
Foto: Infografis/ Gak Takut Pilpres, PMI Manufaktur RI Catat Rekor Tertinggi 5 Bulan/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Kegiatan manufaktur di kawasan ASEAN kembali melanjutkan ekspansi nya pada sepanjang Agustus 2026. Meskipun, laju ekspansi nya sedikit mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya. 

Melansir dari laporan S&P Global yang baru dirilis awa bulan ini, Purchasing Managers's Index (PMI) Manufaktur ASEAN turun menjadi 52,3 di Agustus, dari 52,8 pada periode Juli. 

Meski mengalami penurunan, namun posisi PMI masih berada di atas level 50 yang menunjukkan aktivitas di sektor manufaktur ASEAN tetap mengalami ekspansi. 

Sebagai catatan, PMI manufaktur merupakan indikator untuk melihat kondisi aktivitas industri. Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi, sedangkan angka di bawah 50 menandakan kontraksi. 

Survei PMI Manufaktur ASEAN mencakup sekitar 2.100 perusahaan manufaktur di tujuh negara, yakni Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Yang mewakili sekitar 98% nilai tambah pada sektor manufaktur ASEAN. 

Melambatnya PMI ASEAN terutama dipengaruhi pertumbuhan produksi yang sedikit lebih rendah dibandingkan Juli.

Perusahaan manufaktur juga kembali mengurangi tenaga kerja dan stok pembelian, meski penurunannya masih tergolong tipis.

Namun, permintaan terhadap barang manufaktur ASEAN tetap kuat. Pesanan baru tumbuh tajam dengan laju tercepat kedua sepanjang sejarah survei, hanya sedikit di bawah rekor yang tercatat pada Februari 2026.

Manufaktur Filipina Melesat

Filipina mencatat kenaikan PMI paling besar di ASEAN.

PMI Manufaktur Filipina berhasil melonjak menjadi 54,9 pada Agustus, dari 51,8 pada Juli.

Kenaikan tersebut membawa kondisi manufaktur Filipina mencapai level terkuat sejak Desember 2016 atua lebih dari sembilan setengah tahun.

Kenaikan tersebut ditopang masuknya pesanan baru yang lebih kuat.

Pertumbuhan pesanan baru menjadi yang tercepat dalam enam bulan terakhir. Pesanan ekspor juga kembali meningkat untuk pertama kalinya dalam enam bulan.

Perusahaan merespons kenaikan permintaan dengan menambah tenaga kerja dan meningkatkan aktivitas pembelian bahan baku. Stok pembelian ikut bertambah untuk mengantisipasi kebutuhan produksi.

Tekanan biaya juga mulai mereda, sedangkan tingkat optimisme perusahaan terhadap produksi setahun ke depan naik ke posisi tertinggi dalam 21 bulan.

Ekonom S&P Global Market Intelligence Maryam Baluch mengatakan momentum sektor manufaktur Filipina terus menguat pada Agustus setelah mencatat kinerja cenderung datar pada kuartal sebelumnya akibat konflik di Timur Tengah.

"Yang menggembirakan, produksi meningkat dengan laju tercepat sejak 2016, ditopang oleh kondisi permintaan yang lebih kuat," ujar Baluch dalam laporan S&P Global.

"Perusahaan merespons dengan meningkatkan aktivitas pembelian dan perekrutan untuk mengimbangi kebutuhan produksi yang lebih besar. Pada saat yang sama, tekanan biaya mereda dan keyakinan terhadap prospek setahun ke depan naik ke level tertinggi dalam 21 bulan," lanjutnya.

Thailand-Vietnam Tetap Kuat, Malaysia Nyaris Stagnan

Selain Filipina, aktivitas manufaktur Thailand dan Vietnam juga masih mencatat ekspansi yang cukup kuat pada Agustus 2026.

PMI Manufaktur Thailand berada di level 53,8. Angka tersebut memang sedikit melambat dibandingkan Juli yang sebesar 54,2, tetapi masih menjadi salah satu yang tertinggi di ASEAN.

Produksi manufaktur Thailand meningkat tajam dengan laju tercepat kedua sepanjang 2026. Pesanan baru juga kembali bertambah, memperpanjang periode pertumbuhan menjadi 16 bulan berturut-turut.

Kondisi rantai pasok mulai membaik setelah waktu pengiriman pemasok relatif stabil. Kenaikan harga jual juga melambat, sementara optimisme perusahaan terhadap produksi setahun mendatang mencapai level tertinggi sejak Januari.

Sementara itu, PMI Manufaktur Vietnam meningkat menjadi 53,3 pada Agustus, dari 52,9 pada Juli. Kenaikan ini membuat manufaktur Vietnam bertahan di zona ekspansi selama 14 bulan berturut-turut.

Produksi dan pesanan baru sama-sama tumbuh dengan laju tercepat dalam lebih dari dua tahun. Pesanan ekspor juga kembali meningkat untuk pertama kalinya dalam empat bulan, meski kenaikannya masih tipis.

Namun, perbaikan tersebut belum sepenuhnya berdampak pada tenaga kerja. Perusahaan manufaktur Vietnam kembali mengurangi jumlah pekerja, sehingga penurunan tenaga kerja telah terjadi dalam lima dari enam bulan terakhir.

Berbeda dengan Thailand dan Vietnam, aktivitas manufaktur Malaysia nyaris stagnan. PMI Manufaktur Malaysia turun menjadi 50,2 pada Agustus, dari 50,7 pada Juli.

Malaysia memang masih berada di zona ekspansi selama tiga bulan berturut-turut. Namun, posisi PMI yang hanya sedikit di atas 50 menunjukkan perbaikannya sangat terbatas.

Produksi kembali menurun setelah sempat tumbuh dalam dua bulan sebelumnya. Pesanan baru masih bertambah, tetapi lajunya melambat karena permintaan yang lebih lemah dan kondisi ekonomi yang masih menantang.

Di tengah perlambatan tersebut, perusahaan manufaktur Malaysia menambah tenaga kerja untuk pertama kalinya dalam empat bulan. Tekanan biaya juga kembali mereda, sehingga dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk menjaga harga jual.

Indonesia Justru Terkontraksi 

Sangat disayangkan, Indonesia harus menjadi satu-satunya negara dari daftar tersebut yang PMI manufakturnya harus mengalami kontraksi. 

PMI Manufaktur Indonesia turun menjadi 49,8 pada Agustus 2026, dari 50,2 pada Juli. Posisi di bawah 50 menunjukkan kondisi manufaktur kembali mengalami penurunan, meski masih tergolong ringan.

Tekanan terutama datang dari produksi yang kembali menurun setelah sempat meningkat pada Juli. Penurunan produksi terjadi di tengah lemahnya permintaan dan tingginya harga sejumlah barang.

Ada sedikit kabar baik dari sisi pesanan. Pesanan baru kembali meningkat untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, meski kenaikannya masih sangat tipis.

Perusahaan juga menahan aktivitas pembelian bahan baku, sementara jumlah tenaga kerja kembali dikurangi. Penurunan pekerja terjadi karena pengunduran diri maupun pemutusan hubungan kerja untuk menyesuaikan kebutuhan produksi.

Pekerjaan yang belum terselesaikan ikut turun untuk bulan keempat berturut-turut. Hal ini menunjukkan kapasitas produksi perusahaan masih cukup untuk menangani pesanan yang tersedia.

Dari sisi biaya, tekanan inflasi mulai mereda. Tingkat optimisme perusahaan juga meningkat ke posisi tertinggi dalam tujuh bulan, seiring harapan bahwa produksi akan kembali tumbuh dalam 12 bulan mendatang.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular