MARKET DATA

Hari Ini Rupiah Pimpin Asia Tendang Dolar AS

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
03 September 2026 09:52
Karyawan menghitung uang di tempat penukaran uang di money Changer Valuta Artha Mas, Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, (21/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Karyawan menghitung uang di tempat penukaran uang di money Changer Valuta Artha Mas, Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, (21/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (3/9/2026). Pelemahan dolar AS pagi ini memberi ruang bagi mata uang kawasan untuk bergerak positif.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.18 WIB, dari 10 mata uang Asia yang CNBC Indonesia pantau, tujuh mata uang diantaranya berhasil menguat terhadap greenback. Sementara dua mata uang melemah dan satu lainnya stagnan.

Rupiah menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pagi ini. Rupiah Garuda berhasil mengalami penguatan sebesar 0,31% ke posisi Rp17.695/US$.

Yen Jepang menyusul dengan penguatan 0,25% ke JPY 158,3/US$. Baht Thailand juga terapresiasi 0,18% ke THB 33,12/US$, disusul ringgit Malaysia yang menguat 0,17% ke MYR 4,036/US$.

Peso Filipina turut menguat 0,09% ke PHP 62,474/US$. Yuan China hijau namun tipis 0,02% ke CNY 6,7178/US$, sementara dolar Taiwan menguat 0,01%.

Di sisi lain, dong Vietnam menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pagi ini. Dong melemah 0,08% ke VND 26.090/US$.

Won Korea Selatan juga melemah 0,03% ke KRW1.358,85/US$. Sementara dolar Singapura bergerak stagnan di posisi SGD 1,27/US$.

Kinerja positif sebagian besar mata uang Asia sejalan dengan melemahnya dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.17 WIB turun 0,06% ke level 99,537.

Pelemahan dolar AS terutama dipengaruhi oleh penguatan tajam yen Jepang. Yen mendapat dorongan setelah pasar mencermati kemungkinan adanya rate check dari otoritas Jepang, di tengah tekanan nilai tukar yen yang sebelumnya sempat kembali melemah melewati level psikologis 160 per dolar AS.

Penguatan yen juga terjadi setelah anggota dewan Bank of Japan (BOJ) Hajime Takata menyampaikan bahwa bank sentral Jepang perlu menaikkan suku bunga secara lincah untuk merespons tekanan inflasi yang semakin kuat.

Gubernur BOJ Kazuo Ueda sebelumnya juga memberi sinyal kuat bahwa bank sentral akan membahas peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan ini. Pernyataan tersebut membuat pasar kembali mencermati arah kebijakan moneter Jepang.

"Ini pergerakan yang cukup besar dan ini bisa menjadi waktu yang tepat bagi AS atau Jepang untuk setidaknya melakukan rate check, setelah komentar BOJ pagi ini," ujar Chris Scicluna, head of economic research Daiwa Capital Markets Europe, dikutip dari Reuters.

Meski dolar AS melemah, tekanannya masih tertahan oleh sejumlah faktor. Harga minyak yang naik dan imbal hasil Treasury AS yang masih tinggi sempat menopang greenback pada perdagangan sebelumnya.

Harga minyak Brent naik sekitar 1% setelah konflik antara AS dan Iran kembali memanas. Ketegangan tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia dan risiko inflasi global.

"Pasar jelas khawatir terhadap perkembangan terbaru AS-Iran," ujar Eric Theoret, currency strategist Scotiabank, dikutip dari Reuters.

Kenaikan harga minyak berpotensi menjaga inflasi AS tetap tinggi. Kondisi ini membuat pasar kembali memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).

Fed funds futures memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sebesar 63%. Angka ini naik dari 35% sebelum pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pekan lalu.

Dengan dolar AS yang melemah pagi ini, sebagian besar mata uang Asia berhasil masuk zona hijau.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular