Gebrakan Dony Oskaria: Bisnis, Organisasi - Keuangan BUMN Direformasi
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) tengah menjalankan transformasi besar-besaran terhadap perusahaan negara.
Lahir pada Februari 2025, Danantara kini banyak melakukan pembenahan yang tidak hanya menyasar struktur perusahaan tetapi juga model bisnis, organisasi, investasi, tata kelola, hingga kualitas laporan keuangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus Chief Operating Officer BPI Danantara Dony Oskaria mengatakan, Danantara memiliki mandat untuk menjadi salah satu motor perekonomian Indonesia.
Berbeda dengan sovereign wealth fund di sejumlah negara yang menginvestasikan kelebihan fiskal, sumber dana investasi Danantara berasal dari hasil pengelolaan BUMN. Oleh karena itu, kesehatan perusahaan negara menjadi faktor penting yang menentukan keberlanjutan Danantara.
"Pengelolaan BUMN ini menjadi core yang akan menentukan keberlanjutan Danantara," kata Dony dalam program Danantara BUMN Progress Update 2026 bersama CNBC Indonesia.
Danantara Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) |
Separuh Perusahaan BUMN Merugi
Dony menjelaskan, sebelum pembentukan Danantara, perusahaan-perusahaan BUMN belum dikelola sebagai satu kesatuan yang terkonsolidasi. Masing-masing perusahaan membangun kelompok usaha dan anak-anak perusahaan sendiri, termasuk pada bidang bisnis yang sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan kompetensi utamanya.
Kondisi tersebut membuat satu perusahaan BUMN tidak memiliki mekanisme untuk membantu perusahaan BUMN lain yang sedang menghadapi permasalahan. Setelah perusahaan negara ditempatkan dalam satu ekosistem Danantara, pemetaan secara menyeluruh mulai dilakukan.
Hasil pendataan awal menemukan terdapat 1.074 entitas di dalam ekosistem BUMN. Dari jumlah tersebut, sekitar 52% berada dalam kondisi merugi. Total kerugian langsung dari perusahaan-perusahaan tersebut mencapai sekitar Rp20 triliun.
Persoalan lain ditemukan pada sumber pendapatan anak usaha. Dony menyebut sekitar 80% perusahaan masih menjalankan bisnis dengan induknya sendiri.
Dalam sejumlah kasus, induk perusahaan memberikan pekerjaan kepada anak usaha, tetapi pekerjaan itu kemudian diserahkan kembali kepada pihak ketiga. Setiap lapisan perusahaan mengambil margin meskipun pendapatan tersebut tidak berasal dari pasar eksternal.
Danantara memperkirakan inefisiensi transaksi antarperusahaan itu mencapai sekitar Rp30 triliun per tahun. Jika digabungkan dengan kerugian langsung sebesar Rp20 triliun, terdapat potensi perbaikan sedikitnya Rp50 triliun.
Nilai efisiensi dari keseluruhan proses perampingan, termasuk berkurangnya jumlah pengurus perusahaan dan komponen biaya lainnya, diperkirakan mendekati Rp70 triliun hingga akhir tahun.
Empat Jalan Penanganan Perusahaan
Setelah pemetaan selesai, Danantara melakukan fundamental business review terhadap seluruh perusahaan secara satu per satu. Setiap perusahaan dibandingkan dengan tolok ukur global pada industri masing-masing.
Penilaian mencakup model bisnis, sumber dan komposisi pendapatan, struktur biaya, ukuran serta pertumbuhan pasar, pangsa pasar, kondisi keuangan, organisasi, dan kualitas sumber daya manusia.
Berdasarkan hasil penilaian tersebut, perusahaan dibagi ke dalam empat kelompok penanganan.
Kelompok pertama adalah perusahaan yang harus dilikuidasi. Kategori ini mencakup perusahaan dengan utang lebih besar daripada aset, ukuran dan pangsa pasar kecil, serta tidak mempunyai kemampuan finansial maupun nonfinansial yang memadai.
Kelompok kedua adalah perusahaan noninti yang masih memiliki nilai ekonomi sehingga dapat didivestasi.
Kelompok ketiga adalah perusahaan dengan bidang usaha sejenis yang akan dikonsolidasikan. Merger dilakukan untuk membentuk perusahaan dengan skala usaha lebih besar dan posisi yang lebih kompetitif di industrinya.
Adapun kelompok keempat adalah perusahaan yang membutuhkan restrukturisasi keuangan atau restrukturisasi bisnis.
Restrukturisasi keuangan dapat dilakukan melalui injeksi ekuitas, restrukturisasi kredit, haircut, dan aksi korporasi lainnya. Sementara itu, restrukturisasi bisnis mencakup perubahan model bisnis, organisasi, dan fokus kegiatan usaha.
Dony menyebut sekitar 290 perusahaan telah ditangani. Penyelesaiannya dilakukan melalui penutupan, divestasi, konsolidasi maupun restrukturisasi.
Perbaikan Mulai Terlihat
Hasil transformasi mulai terlihat pada sejumlah perusahaan. Salah satunya adalah PT Semen Indonesia Tbk atau SIG.
Sebelumnya, fungsi penjualan dipusatkan melalui distributor besar. Kondisi ini membuat pabrik seperti PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa kehilangan akses langsung kepada pasar sekaligus menciptakan lapisan margin tambahan.
Danantara kemudian mengembalikan fungsi penjualan kepada masing-masing perusahaan dengan pengawasan tetap berada di tingkat holding. Perusahaan juga membangun basis data toko, memperbaiki sistem insentif, menekan biaya produksi, dan menutup anak usaha yang memberikan kontribusi negatif.
Dony optimistis PT Semen Indonesia dapat kembali mencatatkan laba sekitar Rp1 triliun pada 2026.
Transformasi juga berlangsung di Pegadaian melalui digitalisasi, penetrasi pasar baru, dan penguatan bisnis emas. Dony memperkirakan keuntungan Pegadaian dapat mencapai Rp12 triliun tahun ini.
Sementara itu, Pupuk Indonesia mengubah model bisnis dari skema cost plus menuju harga pasar. Produksi ditingkatkan, biaya ditekan, dan pasar ekspor diperluas. Dony menyebut laba perusahaan tersebut meningkat lebih dari 200%.
Krakatau Steel juga disebut telah kembali mencatatkan keuntungan setelah menjalani restrukturisasi utang, memperoleh haircut dari sejumlah kreditur, serta menerima injeksi ekuitas untuk mengaktifkan kembali fasilitas produksinya.
Di Kimia Farma, transformasi dilakukan melalui restrukturisasi keuangan, injeksi ekuitas, dan digitalisasi inventori pada lebih dari 1.000 jaringan apotek. Dony menyebut perusahaan tersebut telah kembali membukukan kinerja positif.
Tiga Persoalan Besar BUMN
Dari pemetaan selama sekitar satu setengah tahun, Danantara menemukan tiga sumber utama persoalan perusahaan BUMN.
Pertama adalah investasi berlebihan tanpa perhitungan tingkat pengembalian yang memadai. Untuk mencegah persoalan tersebut kembali terjadi, setiap perusahaan diminta memiliki komite investasi dan menghitung return on investment sebelum mengeluarkan belanja modal.
Persoalan kedua adalah rekayasa keuangan yang membuat kondisi perusahaan terlihat lebih baik daripada keadaan sebenarnya. Rekayasa tersebut dapat berbentuk pencatatan piutang yang sebenarnya tidak dapat ditagih hingga penggelembungan posisi kas.
Dony mengatakan dirinya telah mengumpulkan 17 kantor akuntan publik yang mengaudit perusahaan BUMN dan meminta mereka menjaga kualitas serta independensi audit.
Sumber masalah ketiga adalah tindakan kecurangan atau fraud. Dalam proses pembenahan, Danantara melibatkan Kejaksaan Agung, BPKP, BPK, KPK, Kementerian Hukum, Kementerian Keuangan, dan sejumlah lembaga lainnya.
Koreksi Pembukuan Mencapai Rp135 triliun
Besarnya persoalan lama membuat Danantara harus melakukan koreksi laporan keuangan, impairment atau penurunan nilai aset, serta penghapusan piutang.
Dony menyebut koreksi pembukuan yang telah dilakukan mencapai sekitar Rp135 triliun. Langkah tersebut diperlukan agar pengelola mendapatkan gambaran sebenarnya mengenai kondisi perusahaan dan dapat mengambil keputusan berdasarkan data yang lebih akurat.
Secara keseluruhan, Dony memperkirakan sekitar 70% agenda transformasi telah diselesaikan. Sisa 30% pekerjaan memang lebih sedikit dari sisi jumlah, tetapi mempunyai skala persoalan yang besar.
Pekerjaan utama yang belum diselesaikan adalah restrukturisasi BUMN Karya, transformasi PT Pos Indonesia, dan pembenahan dana pensiun BUMN.
Dony menekankan bahwa transformasi bukan hanya pekerjaan manajemen Danantara. Eksekusi perbaikan tetap dijalankan oleh para pemimpin setiap perusahaan BUMN.
"Danantara hanya memimpin, membuat visi dan memastikan eksekusi. Semuanya dilakukan oleh para CEO yang memimpin perusahaannya masing-masing," pungkas Dony.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)