MARKET DATA

200.000 Lahan & Hutan RI Terbakar Tahun Ini, Terburuk Sejak Kapan?

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
24 August 2026 13:45
BPBD bersama tim gabungan berusaha memadamkan karhutla di Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, Selasa (18/8/2026). (Dok. BPBD Kabupaten Bulungan)
Foto: BPBD bersama tim gabungan berusaha memadamkan karhutla di Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, Selasa (18/8/2026). (Dok. BPBD Kabupaten Bulungan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda Indonesia pada 2026.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sepanjang tahun ini ada 454 kejadian karhutla di berbagai wilayah Indonesia.

Sementara itu, data Sistem Monitoring Karhutla Kementerian Kehutanan menunjukkan sepanjang Januari-Juli 2026, total luas area terbakar mencapai 202.010,96 hektare.

Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan posisi akhir Juni yang masih sebesar 107.465,47 hektare. Artinya, sekitar 94.545,49 hektare terbakar hanya sepanjang Juli, membuat luas karhutla RI hampir dua kali lipat dalam satu bulan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, berhasil dipadamkan pada Sabtu (22/8/2026) malam. (Dok. Polda Lampung)Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, berhasil dipadamkan pada Sabtu (22/8/2026) malam. (Dok. Polda Lampung) Foto: (Dok. Polda Lampung)

Kejadian karhutla dikhawatirkan terus meningkat karena masih adanya El Nino. Efek El Niño bahkan diperkirakan bertahan setidaknya hingga awal 2027. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga masih mendeteksi titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terutama di Kalimantan dan Papua pada periode 18-24 Agustus 2026, sejalan dengan kondisi kering yang masih mendominasi sebagian besar Indonesia.

BMKG masih menyebut El Niño sangat kuat untuk periode 21-27 Agustus dan musim kemarau tetap dominan.

Cakupan Luas Karhutla RI, Seberapa Buruk?

Dalam beberapa tahun terakhir, luas karhutla di Indonesia bergerak cukup fluktuatif. Secara luas, karhutla hingga Juli 2026 memang masih jauh di bawah episode ekstrem 2015, 2019 maupun 2023. Namun, data tahun ini baru mencakup Januari hingga Juli 2026 sehingga kemungkinan besar akan terus bertambah.

Kondisi ini membuat perkembangan karhutla dalam beberapa bulan ke depan tetap perlu dicermati. 

Karhutla juga tidak hanya terjadi di kawasan yang secara administratif dikategorikan sebagai hutan. Data SIPONGI Kementerian Kehutanan menunjukkan bahwa dari luas kebakaran Januari-Juni 2026, sekitar 54% berada di kawasan hutan dan 46% berada di areal penggunaan lain (APL) atau non-kawasan hutan. 

Dampak Karhutla

Dampak karhutla tidak berhenti pada hilangnya tutupan hutan maupun lahan. Kerugiannya dapat merambat ke rumah dan fasilitas umum, kesehatan, pertanian dan perkebunan, transportasi, perdagangan, industri, pariwisata, hingga produktivitas dan aktivitas ekonomi.

Khusus dari sisi kesehatan, dampak karhutla dapat menjangkau wilayah yang sangat jauh dari titik api. Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat atau US Environmental Protection Agency (EPA) mencatat asap kebakaran dapat bergerak hingga ratusan bahkan ribuan mil. Paparannya dikaitkan dengan berbagai dampak, mulai dari batuk dan iritasi hingga memburuknya penyakit pernapasan dan kardiovaskular serta risiko kematian prematur.

Karhutla Membakar Ratusan Triliun Rupiah

Dampak ekonomi karhutla pernah terlihat jelas pada 2015, ketika sekitar 2,6 juta hektare hutan dan lahan terbakar. Ini menjadi salah satu episode karhutla terburuk dalam satu dekade terakhir.

Presiden Joko Widodo menyebut kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan saat itu mencapai sekitar Rp220 triliun. Kerugian tersebut antara lain berasal dari pembatalan penerbangan, perkantoran yang diliburkan, hingga aktivitas ekonomi yang terhenti.

Presiden Joko Widodo meninjau lokasi karhutla di Desa Merbau, Kecamatan Bunut, Kabupaten Pelalawan, Kota Pekanbaru, Selasa, (17/9/2019). (BPMI Setpres/Laily Rachev)Presiden Joko Widodo meninjau lokasi karhutla di Desa Merbau, Kecamatan Bunut, Kabupaten Pelalawan, Kota Pekanbaru, Selasa, (17/9/2019). (BPMI Setpres/Laily Rachev) Foto: Presiden Joko Widodo meninjau lokasi karhutla di Desa Merbau, Kecamatan Bunut, Kabupaten Pelalawan, Kota Pekanbaru, Selasa, (17/9/2019). (BPMI Setpres/Laily Rachev)


Dampaknya juga meluas ke kesehatan. Pada tahun yang sama, sekitar 504.000 orang mengalami gangguan kesehatan, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Pengalaman 2015 menunjukkan bahwa besarnya dampak karhutla tidak hanya tercermin dari luas area yang terbakar.

Dengan lebih dari 202 ribu hektare lahan telah terbakar hingga Juli 2026, musim kemarau yang masih berlangsung, serta ancaman El Niño yang diperkirakan bertahan hingga awal 2027, risiko kerugian tahun ini juga dapat mengancam aktivitas ekonomi RI.

Karhutla Jadi Ancaman Global

Kebakaran hutan dan lahan juga terjadi dalam skala luas di berbagai belahan dunia sepanjang 2026.

Berdasarkan data Global Wildfire Information System (GWIS) yang dihimpun Our World in Data, total area yang terbakar secara global telah mencapai sekitar 112,3 juta hektare hingga 1 Agustus 2026. Sebaran terbesarnya terkonsentrasi di Afrika, sementara Australia, Asia, dan Amerika juga mencatat area terbakar dalam skala jutaan hektare.

Data tersebut tidak seluruhnya merepresentasikan kebakaran liar yang bersifat destruktif karena cakupan GWIS juga dapat memasukkan pembakaran lahan pertanian maupun pembakaran yang direncanakan. 

Meski demikian, skala area terbakar menunjukkan bahwa risiko kebakaran pada 2026 terjadi di berbagai belahan dunia. Kondisi tersebut berlangsung di tengah penguatan El Niño yang turut memengaruhi pola suhu dan curah hujan global, meski dampaknya berbeda di setiap kawasan.

(slm/slm)



Most Popular