Usai Terbang ke US$ 4.600, Harga Emas Pekan Ini Bakal Nyungsep?
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas terbang pada pekan lalu. Harganya diperkirakan menghadapi tekanan pada pekan ini.
Pada hari ini, Senin (24/8/2026) pukul 06.37 WIB, harga emas menguat 0,27% ke US$ 4615,17 per troy ons.
Penguatan ini memperpanjang tren positif setelah harganya terbang pada pekan lalu.
Merujuk Refinitiv, harga emas melesat 1,89% pada Jumat (21/8/2026) ke US$ 4602,61 per troy ons. Dalam sepekan, harganya melesat 5,18%.
Harga emas saat ini adalah yang tertinggi sejak 14 Mei 2026 atau tiga bulan lebih.
Lonjakan harga emas pekan lalu salah satunya ditopang oleh meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Selain itu, nada kebijakan dan reformasi struktural yang disampaikan oleh Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, turut memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama. Warsh menekankan perlunya menjaga mandat stabilitas harga The Fed.
Data ketenagakerjaan terbaru Amerika Serikat yang dirilis pada Agustus 2026 menunjukkan ekonomi AS justru kehilangan 23.000 lapangan kerja, berbanding terbalik dengan perkiraan sebelumnya yang memperkirakan penambahan 85.000 pekerjaan.
Data ketenagakerjaan pada Mei dan Juni juga direvisi turun dengan total 103.000 pekerjaan. Sementara itu, inflasi berdasarkan CPI Juli tercatat 3,4%, sesuai dengan ekspektasi pasar.
Dengan munculnya sejumlah data ekonomi AS yang lebih lemah, pasar dengan cepat mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga pada September. Kondisi ini meningkatkan daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Ramalan Harga Emas Terbaru
Setelah terbang pekan lalu, harga emas berpotensi mengalami koreksi setelah reli terbaru.
Goldman Sachs belum memberikan target harga emas baru secara spesifik. Namun, sinyal yang diberikan lebih berkaitan dengan perubahan rezim pasar ketimbang target harga tertentu.
Volatilitas kebijakan yang lebih tinggi, meningkatnya pertanyaan terhadap kredibilitas fiskal AS, serta dolar yang semakin menyerap tekanan dari pasar obligasi menjadi faktor positif bagi emas, terutama selama ekspektasi imbal hasil riil jangka panjang tidak kembali meningkat.
Fenomena serupa juga terlihat dari kombinasi harga komoditas yang tinggi, imbal hasil obligasi yang tinggi, dan dolar AS yang melemah. Kombinasi tersebut mengindikasikan meningkatnya kegelisahan investor terhadap arah kebijakan AS.
Goldman Sachs menilai perilaku investor yang kembali memburu aset safe haven menjadi sinyal penting.
Lonjakan tajam pada aset-aset safe haven seperti emas dan franc Swiss (CHF) dinilai menjadi ciri episode ketika volatilitas kebijakan meningkat dan pasar kembali mencermati kondisi fiskal AS.
Goldman juga menyoroti pengaruh perdagangan terhadap pergerakan harga emas. Hal ini turut menjelaskan mengapa franc Swiss dan sejumlah mata uang yang terkait dengan komoditas ikut menguat.
Analis American Gold Exchange Jim Wyckoff mengatakan emas menghadapi aksi ambil untung setelah mencatat kenaikan kuat pada sesi sebelumnya. Sinyal hawkish The Fed dan kenaikan harga minyak menjadi alasan bagi investor untuk tidak mengejar reli secara agresif.
Tetapi tarik-menarik tersebut tidak berlangsung lama.
Proyeksi harga dari sejumlah bank juga masih menunjukkan prospek bullish. UBS sebelumnya memproyeksikan harga emas bergerak dari sekitar US$4.600 pada akhir 2026 menjadi US$5.000 pada Maret 2027, kemudian mencapai US$5.200 pada Juni 2027.
Namun, ujian berikutnya segera datang. Data inflasi pengeluaran konsumsi pribadi warga AS atau PCE Juli akan dirilis pada Rabu pekan ini, sementara simposium Jackson Hole berlangsung pada 27-29 Agustus.
Pesan hawkish dari The Fed dan kembali meningkatnya imbal hasil riil berpotensi memicu aksi ambil untung setelah reli emas yang sangat kuat sepanjang Agustus.
Sebaliknya, jika ketidakpastian kebijakan kembali menekan dolar AS, analisis Goldman Sachs menunjukkan bahwa emas masih menjadi salah satu aset yang paling diuntungkan.
Di level US$4.600, perdagangan emas yang didorong kekhawatiran pelemahan nilai mata uang AS bukan lagi sekadar teori.
Musim Pernikahan India Dorong Harga Emas
Pasar emas India mulai menunjukkan pemulihan seiring harga emas yang stabil serta memasuki musim pernikahan dan festival yang mendorong kembali permintaan konsumen, meningkatnya kunjungan ke toko perhiasan, dan pergeseran minat ke desain perhiasan yang lebih ringan serta modern.
Pemulihan ini menopang sektor perhiasan dan penjualan ritel, tetapi berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan akibat kenaikan impor emas. Di sisi lain, kondisi tersebut juga dapat mengalihkan sebagian modal ritel dari adopsi kripto dan DeFi, sehingga berdampak pada permintaan token dan arus investasi ritel.
Secara historis, periode musim pernikahan menyumbang porsi besar terhadap pembelian emas tahunan di India. Indikator awal menunjukkan minat konsumen cukup kuat.
Pedagang melaporkan peningkatan jumlah pengunjung di toko perhiasan serta bertambahnya permintaan informasi dari calon pembeli. Kondisi ini menunjukkan perubahan dari sikap konsumen yang sebelumnya cenderung menahan pembelian pada awal tahun.
Harga emas di India relatif stabil dalam beberapa pekan terakhir sehingga membantu memulihkan kepercayaan pembeli. Ketika harga bergerak sangat volatil, konsumen biasanya menunda pembelian. Namun, stabilitas harga saat ini mendorong investor maupun pembeli perhiasan kembali masuk ke pasar.
Selain itu, konsumen muda semakin menyukai desain perhiasan yang ringan dan modern. Tren tersebut memperluas daya tarik pasar emas India dan menjadi salah satu faktor penting dalam pemulihan karena menunjukkan basis permintaan yang semakin beragam.
Permintaan Investasi Barat Kembali Menguat
Kembalinya permintaan investasi dari investor Barat juga membantu menopang harga emas.
World Gold Council melaporkan bahwa ETF emas berbasis fisik global mencatat arus dana masuk bersih US$3 miliar sepanjang Juli, sekaligus mengakhiri aksi outflow selama dua bulan berturut-turut.
Total kepemilikan emas ETF meningkat 23 ton menjadi 4.068 ton, dengan aksi reposisi dana-dana Eropa menjadi pendorong utama pembelian.
Selain itu, episode intervensi AS-Jepang pada akhir Juli turut memberikan tekanan terhadap indeks dolar AS. Pelemahan dolar membuat emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga mendorong permintaan global dan mengangkat harga emas spot.
Pada hari ini, Senin (24/8/2026) pukul 06.49 WIB, harga perak melesat 1,99% ke US$ 69,10 per troy ons. Harga saat ini adalah yang tertinggi sejak 16 Juni 2026 atau dua bulan lebih. Harga emas bahkan mendekati level US$70 per troy ons.
Penguatan ini memperpanjang tren positif setelah harganya terbang pada pekan lalu.
Merujuk Refinitiv, harga perak pada Jumat pekan lalu melesat 1,3% ke US$ 68,96 per troy ons.
(mae/mae) Next Article Harga Emas Terbang, Rekor Tertinggi 2,5 Bulan: Dolar Jadi Bahan Bakar