MARKET DATA
Newsletter

Dunia Menanti Pertemuan Fed-Bankir Global, Ancaman Karhutla Bayangi RI

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
24 August 2026 06:16
FILE PHOTO: A street sign for Wall Street is seen outside of the New York Stock Exchange (NYSE) in New York City, New York, U.S., June 28, 2021. REUTERS/Andrew Kelly//File Photo
Foto: Ilustrasi Trading (Dok MIFX)

Bursa saham AS ditutup menguat pada perdagangan Jumat (21/8/2026). Investor kembali masuk ke pasar setelah aksi jual pada sesi sebelumnya yang dipicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Indeks S&P 500 naik 0,43% ke posisi 7.674,37. Nasdaq Composite juga menguat 0,43% menjadi 26.180,45.

Sementara itu, Dow Jones Industrial Average melonjak 517,80 poin atau 0,98% dan ditutup di level 53.277,01. Penguatan indeks ditopang kenaikan saham perusahaan kesehatan, termasuk Merck dan Johnson & Johnson.

Sektor keuangan turut menopang pasar. Saham-saham yang berkaitan dengan mata uang kripto mencatat penguatan setelah harga bitcoin melonjak 22% sepanjang pekan.

Saham Robinhood naik hampir 14%, sementara Coinbase menguat 8%. Sektor bahan baku juga bergerak positif dengan kenaikan sekitar 2%.

Meski kembali menguat pada Jumat, Wall Street belum mampu menghapus tekanan sepanjang pekan.

S&P 500 tercatat melemah 1,4% dalam sepekan, sedangkan Nasdaq turun 2%. Kedua indeks tersebut menghentikan tren penguatan yang sebelumnya berlangsung selama tiga pekan berturut-turut.

Dow Jones juga turun 0,9% sepanjang pekan dan mencatat pelemahan mingguan kedua secara beruntun.

Tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham AS. Indeks MSCI All Country World, yang mencerminkan pergerakan saham di berbagai negara, juga turun hampir 1% dalam sepekan.

Pelemahan pasar berlangsung di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Investor mencemaskan kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah dapat kembali mendorong inflasi.

Pada Jumat, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik lebih dari tiga basis poin ke posisi 4,734%. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun juga meningkat lebih dari tiga basis poin menjadi 5,273%.

Kenaikan imbal hasil obligasi meningkatkan daya tarik aset berpendapatan tetap sekaligus memperbesar biaya pendanaan, sehingga dapat menekan pasar saham.

Pendiri sekaligus CEO Verdence Capital Advisors, Leo Kelly, memperingatkan pasar saham berpotensi menghadapi tekanan lebih besar apabila imbal hasil obligasi terus meningkat dan ketegangan di Timur Tengah tidak mereda.

"Pasar sudah menyesuaikan diri dengan imbal hasil 4% sampai 5% untuk obligasi tenor 10 tahun. Jika terjadi sesuatu dan imbal hasil melonjak ke kisaran 6% hingga 7%, itu akan menjadi masalah dan pasar akan merespons negatif," kata Kelly, dikutip dari CNBC International.

Pelaku pasar selanjutnya menantikan pidato Ketua bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), Kevin Warsh, dalam Simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole pekan ini.

Pidato tersebut diharapkan memberikan gambaran mengenai arah kebijakan moneter AS di tengah kenaikan imbal hasil obligasi, perkembangan inflasi, dan ketidakpastian global.

(evw/evw)


Most Popular
Features