MARKET DATA

AI Mulai Kuasai Bisnis Asuransi, Tak Lagi Cuma Soal Underwriting

Achmad Aris,  CNBC Indonesia
21 August 2026 15:00
Ilustrasi Transformasi Digital. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi Transformasi Digital. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di industri asuransi mulai bergeser dari penggunaan yang terbatas pada underwriting menuju penerapan yang lebih luas di berbagai lini bisnis.

Menurut Survei GlobalData, underwriting dan risk profiling masih menjadi use case AI yang paling banyak dinilai akan memberikan manfaat bagi industri asuransi.

Dalam survei kuartal III/2026 yang dilakukan di seluruh situs Verdict Media itu, sebanyak 34,4% responden memilih underwriting dan risk profiling sebagai area yang paling berpotensi mendapatkan manfaat dari AI. Posisi berikutnya ditempati customer service sebesar 20,4%, claims management 18,3%, product development 16,1%, serta marketing and distribution 10,8%.

Namun, dominasi underwriting mulai berkurang. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, underwriting dan risk profiling dipilih oleh 45,8% responden. Artinya, terjadi penurunan sebesar 11,4 percentage points dalam setahun.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa AI tidak lagi hanya dipandang sebagai teknologi untuk membantu perusahaan asuransi menilai risiko dan menentukan harga polis. Penggunaannya mulai berkembang menjadi teknologi yang dapat diterapkan di seluruh rantai nilai industri.

Salah satu perubahan paling menonjol terlihat pada penggunaan AI untuk product development. Porsi responden yang melihat pengembangan produk sebagai area yang paling mendapatkan manfaat dari AI meningkat 8,9 percentage points dibandingkan periode sebelumnya.

Perkembangan ini menunjukkan semakin besarnya potensi AI untuk membantu perusahaan asuransi membaca kebutuhan konsumen, mengidentifikasi perubahan profil risiko, serta mempercepat pengembangan produk.

Dengan demikian, AI berpotensi mengubah proses pengembangan produk dari yang sebelumnya banyak mengandalkan proses manual dan historis menjadi lebih berbasis data.

Di sisi lain, customer service dan claims management juga menjadi area penting dalam penerapan AI. Customer service dipilih oleh 20,4% responden, sementara claims management mencapai 18,3%.

Pada proses klaim, AI dapat digunakan untuk membantu perusahaan melakukan klasifikasi klaim, memproses dokumen, mendeteksi indikasi fraud, hingga mempercepat proses penyelesaian klaim.

Dari Efisiensi Menuju Transformasi Bisnis

Perkembangan tersebut menunjukkan adanya perubahan paradigma dalam pemanfaatan AI di industri asuransi. Pada tahap awal, AI banyak digunakan untuk meningkatkan efisiensi proses tertentu, seperti underwriting, fraud detection, atau customer service.

Kini, perusahaan asuransi mulai melihat AI sebagai bagian dari transformasi bisnis yang mencakup berbagai fungsi, mulai dari pengembangan produk, distribusi, pelayanan nasabah, underwriting hingga klaim.

Dengan pendekatan tersebut, data dapat mengalir di sepanjang rantai bisnis asuransi, mulai dari informasi nasabah dan risiko, pengembangan produk, pricing, underwriting, hingga pengelolaan klaim. GlobalData menilai perkembangan tersebut mencerminkan semakin luasnya adopsi AI di industri asuransi.

Analis Asuransi di GlobalData Sahil Haider mengatakan adopsi AI yang lebih luas ini mencerminkan pemahaman yang semakin meningkat bahwa AI dapat menciptakan keunggulan kompetitif di seluruh rantai nilai asuransi. "Seiring dengan kematangan kemampuan AI, perusahaan-perusahaan tidak hanya berfokus pada peningkatan seleksi risiko, tetapi juga pada peningkatan keterlibatan pelanggan, percepatan inovasi produk, dan dukungan efisiensi operasional."

Meski prospeknya besar, peningkatan penggunaan AI juga membawa tantangan baru bagi perusahaan asuransi. Perusahaan perlu memastikan kualitas data, kemampuan sumber daya manusia, tata kelola model AI, serta mekanisme pengawasan terhadap keputusan yang dihasilkan oleh sistem.

Hal ini menjadi semakin penting karena keputusan AI dalam asuransi dapat berdampak langsung terhadap konsumen, misalnya dalam penilaian risiko, penetapan harga, penerimaan atau penolakan pertanggungan, hingga penyelesaian klaim.

Dengan demikian, semakin luas penggunaan AI justru membuat kebutuhan terhadap AI governance semakin besar. Bagi industri asuransi, tantangan ke depan bukan lagi sekadar apakah perusahaan akan menggunakan AI, melainkan seberapa jauh AI dapat diintegrasikan ke dalam proses bisnis tanpa mengorbankan akurasi, transparansi, keamanan data, dan perlindungan konsumen.

Perubahan peta penggunaan AI tersebut juga menunjukkan bahwa persaingan perusahaan asuransi di masa depan berpotensi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengelola risiko, tetapi juga oleh kemampuan mengubah data menjadi keputusan bisnis secara cepat dan bertanggung jawab.

Dengan underwriting yang masih menjadi use case terbesar, tetapi porsinya terus menurun, AI tampaknya sedang bergerak dari sekadar alat underwriting menuju menjadi infrastruktur digital bagi seluruh bisnis asuransi.

(ach/ach)



Most Popular