Dolar Jatuh, BI Tahan Suku Bunga: Ada Harapan IHSG - Rupiah Berpesta
Dari bursa saham AS, burs Wall Street akhirnya bangkit pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Indeks S&P 500 mengakhiri penurunan selama tiga hari berturut-turut setelah imbal hasil obligasi turun menyusul pengumuman Departemen Keuangan AS mengenai peningkatan program pembelian kembali (buyback) surat utang pemerintah berjangka panjang.
Indeks S&P naik 0,21% dan ditutup di level 7.707,98, sementara Nasdaq Composite menguat 0,16% menjadi 26.331,09. Indeks Dow Jones Industrial Average, yang terdiri dari 30 saham, terapresiasi 119,65 poin atau 0,22% dan berakhir di level 53.463,05.
Namun, penguatan saham mulai kehilangan momentum sepanjang sesi perdagangan. Pada awal perdagangan, Dow sempat melonjak lebih dari 360 poin atau 0,7%, yang menjadi level tertinggi hari itu. S&P 500 juga sempat naik 0,7%, sementara Nasdaq menguat 0,6%.
Kenaikan awal saham terjadi ketika imbal hasil obligasi Treasury AS tenor panjang turun setelah Departemen Keuangan AS mengatakan akan setidaknya menggandakan jumlah pembelian kembali surat utangnya.
Peningkatan buyback tersebut ditujukan untuk obligasi dengan tenor 10 hingga 30 tahun, termasuk obligasi tenor 20 tahun.
Imbal hasil Treasury 30 tahun yang pada sesi perdagangan sebelumnya mencatat level tertinggi baru dalam 19 tahun, yakni di atas 5,33% turun lebih dari 10 basis poin menjadi 5,184%. Sementara itu, imbal hasil Treasury 10 tahun turun lebih dari 6 basis poin menjadi 4,637%.
Saham-saham yang dipandang mendapat keuntungan dari penurunan suku bunga turut menguat. Saham Lowe's dan Home Depot masing-masing naik sekitar 2%.
"Saham-saham berbasis value, misalnya, berkinerja sangat baik hari ini. Ini menunjukkan bahwa perekonomian dan siklus laba perusahaan masih sangat kuat," kata Massimo Santicchia, Kepala Ekuitas AS di Procyon, dikutip dari CNBC International.
Namun, menurutnya, saat ini terdapat "ketegangan di pasar", karena di satu sisi fundamental ekonomi masih solid, tetapi di sisi lain biaya modal meningkat akibat tingginya imbal hasil obligasi.
Secara keseluruhan, Santicchia menilai kondisi saat ini masih merupakan "lingkungan yang sangat, sangat baik bagi saham" karena prospek laba perusahaan tetap kuat.
Saham Moderna melonjak lebih dari dua kali lipat, dengan kenaikan sekitar 177%, mencatatkan kinerja harian terbaik sepanjang sejarah perusahaan.
Lonjakan tersebut terjadi setelah vaksin eksperimental kanker kulit yang dikembangkan bersama Merck menunjukkan hasil positif dalam uji klinis tahap akhir. Saham Merck juga melonjak lebih dari 12%, sehingga turut menopang indeks Dow.
Saham Marvell Technology naik hampir 10% setelah perusahaan mengumumkan kesepakatan dengan Google terkait tensor processing unit (TPU) milik Google. Marvell juga memberikan waran kepada Alphabet untuk membeli saham biasa Marvell senilai hingga US$12,2 miliar.
Namun, sejumlah saham teknologi lainnya justru melemah setelah The Wall Street Journal melaporkan, mengutip sejumlah sumber, bahwa OpenAI mengungkap hasil kuartal II yang mengecewakan investor. Meskipun pendapatan meningkat 18% antara kuartal pertama dan kedua, kerugian perusahaan juga membesar.
Saham Broadcom turun lebih dari 4%, sementara Advanced Micro Devices (AMD) merosot hampir 4%. ETF iShares AI Innovation and Tech Active (BAI) juga turun sekitar 2%.
Sebelumnya, rata-rata indeks saham utama AS melemah pada Selasa setelah imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun, salah satunya akibat kekhawatiran terhadap inflasi.
Selain imbal hasil Treasury 30 tahun AS yang mencapai level tertinggi dalam 19 tahun, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi dalam tiga dekade. Imbal hasil obligasi Prancis tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2008, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2011.
Risiko suku bunga yang lebih tinggi juga masih membayangi. Risalah rapat terbaru Federal Reserve yang dirilis pada Rabu menunjukkan bahwa pejabat The Fed melihat kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tidak mereda.
Dalam rapat The Fed pada Juli lalu, terdapat tiga pejabat yang berbeda pendapat (dissenters) dan memilih untuk menaikkan suku bunga.
(emb/emb)