MARKET DATA

Harga Emas Ambruk 2% dalam Semalam, Utang Amerika Jadi Musuh Berat

mae,  CNBC Indonesia
19 August 2026 06:53
Emas
Foto: Pixabay

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas turun setelah yield Treasury Amerika Serikat (AS) melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Kenaikan harga energi akibat meningkatnya ketegangan AS-Iran juga memperkuat kekhawatiran inflasi dan menekan emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Selasa (18/8/2026) ditutup di posisi US$ 4333,33 per troy ons. Harganya ambruk 1,85% atau hampir 2% dalam semalam.

Pelemahan ini memutus tren positifnya yang selalu naik dalam dua hari beruntun.

Harga emas masih melemah pada hari ini. Pada Rabu (19/8/2026), harga emas melemah 0,09% ke US$ 4329,05 per troy ons.

Peter Grant, wakil presiden sekaligus senior metals strategist Zaner Metals, mengatakan kenaikan tajam yield obligasi menjadi hambatan bagi emas. Harga minyak yang menguat juga menjadi salah satu faktor yang menekan harga emas.

Grant mengatakan meski harga emas saat ini mengalami koreksi, pihaknya tetap optimistis terhadap prospek emas.

"Meski harga emas saat ini mengalami koreksi, kami tetap bullish terhadap emas dan melihat masih ada potensi kenaikan. Namun, pasar mungkin perlu melewati periode konsolidasi terlebih dahulu sebelum minat beli kembali muncul." Tutur Grant dikutip dari Refinitiv.

 

Sementara itu, analis Bank of America menilai aktivitas pembelian investor saat ini lebih mencerminkan harga emas di sekitar US$4.000 per troy ounce, bukan US$5.000. Untuk mencapai level US$5.000, permintaan investasi emas perlu tumbuh sekitar 21% secara tahunan (YoY).

"Aktivitas pembelian investor saat ini lebih konsisten dengan harga emas yang berada di kisaran US$4.000 per troy ounce dibandingkan US$5.000," ujarnya.

Dengan demikian, minat beli investor harus meningkat lebih cepat agar harga emas berpeluang menembus US$5.000 per troy ounce.

Biaya pinjaman jangka panjang di AS, Jepang, dan Jerman mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade. Kondisi ini menekan emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga. Di sisi lain, harga minyak mentah masih menguat untuk sesi ketiga berturut-turut.

Harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran juga semakin meredup. Presiden AS Donald Trump mengatakan Teheran kemungkinan tidak akan menerima persyaratan yang dibutuhkan untuk mengakhiri konflik.

Iran pun menyatakan akan mengambil posisi militer yang sepenuhnya ofensif dan menegaskan Selat Hormuz tetap ditutup hingga Washington memenuhi sejumlah persyaratan dalam kesepakatan sementara.

Harga energi yang lebih tinggi memperkuat alasan bagi bank sentral untuk mempertahankan atau menaikkan suku bunga guna menekan inflasi. Ini terjadi meskipun data ekonomi AS terbaru menunjukkan kehilangan lapangan kerja yang tidak terduga, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan, serta penjualan ritel Juli yang lemah.

Investor kini menunggu risalah rapat kebijakan Federal Reserve (The Fed) terbaru yang akan dirilis pada Rabu untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga AS.

Harga perak ambruk. Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Selasa (18/8/2026) ditutup di posisi US$ 63,3 per troy ons. Harganya jatuh 3,8%.

Harga perak masih melemah pada hari ini. Pada Rabu (19/8/2026), harga perak melemah 0,16% ke US$ 63,19 per troy ons.



Most Popular
Features