MARKET DATA

Harga Emas Terbang, Rekor Tertinggi 2,5 Bulan: Dolar Jadi Bahan Bakar

mae,  CNBC Indonesia
18 August 2026 07:15
Emas
Foto: Pexels

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas kembali menguat seiring pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Senin (17/8/2026) ditutup di posisi US$ 4415,19 per troy ons. Harganya melesat 0,9%. Penguatan ini membawa harga emas ke posisi teringgi sejak 4 Juni 2026 atau 2,5 bulan terakhir.

Pada hari ini, Selasa (18/8/2026) pukul 06.49 WIB, harga emas ada di posisi US$ 4421,57 per troy ons atau menguar 0,14%.

Analis TD Securities Bart Melek menilai pergerakan emas menunjukkan pasar mulai memperhitungkan kemungkinan stagflasi, yakni kondisi ketika pertumbuhan ekonomi melemah sementara inflasi tetap tinggi.

"Pasar emas tampaknya sedang memperhitungkan lingkungan stagflasi, dengan pasar tenaga kerja yang melemah dan ekspektasi bahwa The Fed akan mentoleransi tingkat inflasi saat ini," ujar Melek, dikutip dari Refinitiv.

Dolar AS Jadi Bahan Bakar Emas

Pelemahan dolar AS menjadi salah satu pendorong utama kenaikan emas. Indeks dolar turun ke level terendah dalam lebih dari dua bulan dan kini ada di level 99.

Dolar yang lebih lemah membuat emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga meningkatkan permintaan terhadap logam mulia.

"Faktor besar di sini adalah dolar AS telah melemah ke level psikologis penting 100," kata Melek.

 

Harga emas juga ditopang ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang mereda. Ekspektasi melemah setelah data payrolls AS pekan lalu lebih lemah dari perkiraan dan inflasi konsumen menunjukkan tekanan yang relatif terkendali.

Pelaku pasar kini menunggu risalah rapat The Fed pada Juli yang akan dirilis Rabu. Dokumen tersebut diharapkan memberikan petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September sekitar 33%, turun dari 51,2% sebulan sebelumnya.

Bagi emas, ekspektasi suku bunga yang lebih rendah menjadi katalis positif. Sebagai aset yang tidak memberikan bunga, emas cenderung lebih menarik ketika suku bunga turun karena biaya peluang memegang bullion ikut berkurang.

Konflik AS-Iran Kembali Jadi Penggerak

Dari sisi geopolitik, ketegangan AS-Iran juga kembali menjadi perhatian pasar.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran akan meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya jika upaya diplomasi dengan Amerika Serikat gagal. Pernyataan tersebut mengindikasikan Iran mengambil pendekatan yang lebih ofensif.

Jika ketegangan kembali meningkat, permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven berpotensi mendapatkan dorongan tambahan.

 

Dengan kombinasi dolar AS yang melemah, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang menyusut, potensi stagflasi, serta risiko geopolitik, emas masih memiliki sejumlah katalis untuk mempertahankan tren penguatannya.

Bank Sentral Borong Lebih dari 530 Ton

Harga emas juga mendapat dukungan kuat dari bank sentral dunia.

Pembelian bersih bank sentral mencapai 289 ton pada kuartal II 2026, melonjak 62% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada kuartal I, pembelian mencapai 244 ton. Artinya, akumulasi bank sentral sepanjang semester I telah menembus 530 ton.

Tren tersebut diperkirakan masih berlanjut. Survei World Gold Council menunjukkan 89% pengelola cadangan devisa memperkirakan kepemilikan emas bank sentral dunia akan meningkat dalam 12 bulan ke depan. Bahkan, 45% bank sentral yang disurvei berencana menambah cadangan emas mereka sendiri.

Bank sentral Polandia menjadi salah satu pembeli terbesar dengan tambahan 51 ton, sementara Bank Sentral China menambah 33 ton, terbesar sejak kuartal IV 2023.

Harga perak juga ikut melambung.  Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Senin (17/8/2026) ditutup di posisi US$ 65,8 per troy ons. Harganya melonjak 1,77%. Penguatan ini membawa harga perak ke posisi teringgi sejak 17 Juni 2026 atau 2 bulan terakhir.

Pada hari ini, Selasa (18/8/2026) pukul 06.53 WIB, harga perak ada di posisi US$ 65,9 per troy ons atau menguat 0,15%.


(mae/mae) Next Article Harga Emas Hadapi Ujian Berat Pekan Ini, Peluang Naik Sudah Habis?


Most Popular
Features