MARKET DATA
Newsletter

Awas! RI Rawan Terguncang Pekan Ini: Ada 11 Kabar Genting dari BI-Fed

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
18 August 2026 06:45
FILE PHOTO: A street sign for Wall Street is seen outside of the New York Stock Exchange (NYSE) in New York City, New York, U.S., June 28, 2021. REUTERS/Andrew Kelly//File Photo
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street anjlok pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia (17/8/2026).

Indeks S&P turun 0,52% menjadi 7.745,06, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,32% ke level 26.644,91. Dow Jones Industrial Average jatuh 272,63 poin atau 0,51% menjadi 53.459,78.

Perhatian investor tertuju pada konflik di Timur Tengah. Gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berakhir pada Senin, sementara negosiasi kedua pihak mengalami kebuntuan. Iran juga menolak pembicaraan untuk memperpanjang nota kesepahaman tersebut, menurut kantor berita pemerintah Tasnim.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters pada Senin bahwa negaranya akan beralih ke posisi ofensif jika diplomasi dengan AS gagal.

 

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Fox News bahwa AS akan mengebom Oman jika negara tersebut menghalangi upaya AS.

Harga minyak pun menguat merespons perkembangan tersebut. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 2,6% menjadi US$84,50 per barel, sementara Brent, patokan minyak internasional, naik 2,7% menjadi US$90,87 per barel.

Kenaikan harga minyak turut mendorong imbal hasil (yield) Treasury AS bertenor 30 tahun ke level tertinggi sejak Juni 2007.

"Kami kembali memantau negosiasi secara langsung, dan saya pikir banyak orang hanya menutup mata terhadap hal ini," kata Jason Stephens, pendiri Evertern Wealth, dikutip dari CNBC International.

 

Menurutnya, saat ini risiko penurunan harga minyak lebih besar dibandingkan potensi kenaikannya karena masih ada peluang tercapainya kesepakatan, terutama menjelang pemilu paruh waktu AS.

"Tekanan terhadap pemerintahan saat ini sangat besar untuk benar-benar fokus pada masalah ini dan menyelesaikannya," tambah Stephens.

Di tengah pelemahan pasar, Micron Technology menjadi salah satu titik terang. Saham perusahaan tersebut melonjak 4%.

Pekan lalu, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa pemerintahan Trump tidak mendukung rencana Apple membeli chip memori dari China. Bloomberg juga melaporkan bahwa pendapatan Anthropic pada kuartal II mencapai lebih dari US$11,5 miliar, melonjak tajam dibandingkan setahun sebelumnya.

 

S&P 500 mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada pekan lalu setelah musim laporan keuangan yang kuat berhasil meningkatkan kepercayaan investor. Pasar saham AS terus menguat meski konflik di Timur Tengah masih berlangsung.

Pekan ini, investor menghadapi kalender ekonomi yang relatif lebih sepi. Namun, Federal Reserve (The Fed) akan merilis risalah rapat terbarunya pada Rabu. Sejumlah perusahaan ritel juga akan merilis laporan keuangan, termasuk Walmart pada Kamis. Sementara itu, Home Depot dan Lowe's masing-masing akan melaporkan kinerja pada Selasa dan Rabu.

(emb/emb)


Most Popular
Features