MARKET DATA

Dolar Turun, Harga Emas Naik

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
17 August 2026 08:50
Ini 8 Perusahaan RI Punya Gudang Emas Terbesar, Siapa Jadi Raja?
Foto: infografis/Ini 8 Perusahaan RI Punya “Gudang” Emas Terbesar, Siapa Jadi Raja?/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas kembali bergerak menguat pada perdagangan awal pekan. Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve, serta ketegangan geopolitik masih menjadi penopang logam mulia.

Merujuk data terbaru pukul 08.44 WIB, harga emas berada di US$4.386,76 per troy ons. Harga tersebut menguat sekitar 0,54% dibandingkan penutupan Jumat (14/8/2026) di US$4.375,89 per troy ons.

Jika dibandingkan dengan perdagangan Jumat pekan sebelumnya, harga emas telah naik sekitar 1,04%. Penguatan tersebut menunjukkan bahwa emas masih mempertahankan momentum positif setelah bangkit tajam dari level terendah pertengahan Juli.

Harga emas kini hanya berjarak sekitar 0,3% dari level US$4.400. Sementara untuk mencapai resistance psikologis US$4.500, emas masih membutuhkan kenaikan sekitar 2,6%.

Pelemahan dolar AS masih menjadi salah satu sumber tenaga bagi emas. Dolar yang lebih murah membuat emas menjadi lebih terjangkau bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

Ekspektasi kebijakan The Fed juga berubah lebih mendukung logam mulia. Pasar mulai mengurangi taruhan kenaikan suku bunga setelah data ekonomi dan inflasi AS tidak menunjukkan tekanan yang jauh lebih kuat dari perkiraan.

Suku bunga yang tidak naik biasanya menjadi sentimen positif bagi emas. Logam mulia tidak memberikan imbal hasil, sehingga daya tariknya meningkat ketika potensi keuntungan dari deposito dan obligasi mulai terbatas.

Kendati demikian, emas belum benar-benar terbebas dari tekanan jual. Pada 12 Agustus, harga sempat mencapai US$4.407 sebelum jatuh kembali ke US$4.350 pada sesi berikutnya. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa area US$4.400 masih dipenuhi aksi ambil untung.

Harga perlu melewati US$4.407 untuk membuka jalan menuju US$4.500. Jika mampu menembus dan bertahan di atas US$4.500, ruang kenaikan menuju US$4.650-4.750 dapat terbuka.

Sebaliknya, kegagalan bertahan di atas US$4.375 dapat membawa emas kembali menguji US$4.350. Apabila level tersebut ikut ditembus, tekanan koreksi berpotensi berlanjut menuju US$4.240.

Dengan kata lain pelemahan ekonomi, perubahan arah suku bunga dan meningkatnya risiko geopolitik dapat mendorong emas kembali menuju US$4.500 atau lebih tinggi. Sebaliknya, ekonomi yang kuat, kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar dapat menahan pergerakan emas.

Dengan harga di US$4.386,76, posisi emas kini semakin dekat dengan area penentuan. Penembusan US$4.400 akan menjadi sinyal awal, tetapi kemenangan sebenarnya baru terjadi jika emas mampu bertahan di atas US$4.500.

Harga perak ikut melesat pada perdagangan awal pekan.

Berdasarkan data pukul 07.20 WIB, perak berada di US$65,2093 per troy ons, menguat sekitar 0,85% dibandingkan penutupan Jumat di US$64,6569 per troy ons.

Pergerakan perak pagi ini lebih kencang dibandingkan emas. Jika dibandingkan dengan posisi Jumat pekan sebelumnya, harga perak sudah menguat sekitar 2,61%, sedangkan emas naik sekitar 1,04%.

Penguatan tersebut membuat perak kembali mendekati resistance US$65,30. Harga hanya membutuhkan kenaikan sekitar 0,14% untuk mencapai level tersebut.

Namun, zona US$65,30-65,75 masih menjadi ujian besar. Perak beberapa kali menyentuh area tersebut dalam sepekan terakhir, tetapi belum mampu bertahan secara konsisten.

Jika perak berhasil melewati US$65,75, peluang kenaikan menuju US$68-70 akan semakin terbuka. Penembusan US$70 dapat menjadi sinyal bahwa tren naik perak mulai terbentuk dengan lebih kuat.

Sebaliknya, kegagalan melewati US$65,30-65,75 dapat kembali memicu aksi ambil untung. Support terdekat berada di sekitar US$64,65, kemudian US$63,55. Jika keduanya ditembus, harga berpotensi turun menuju US$61,50-62.

Rasio emas terhadap perak kini berada di sekitar 67,27 kali, turun dari 67,68 kali pada Jumat. Penurunan rasio menandakan perak sedang bergerak lebih kuat daripada emas.

Dari sisi fundamental, pasar perak global masih diperkirakan mengalami defisit pada 2026. Keterbatasan pasokan fisik dapat menopang harga, meskipun permintaan dari panel surya mulai menghadapi tekanan akibat penghematan material dan substitusi.

Permintaan dari pusat data, kecerdasan buatan dan industri otomotif diharapkan menjadi penyeimbang.

Perak memiliki potensi kenaikan yang lebih agresif dibandingkan emas, tetapi volatilitasnya juga lebih tinggi. Posisi harga pagi ini terlihat positif, hanya saja pasar masih membutuhkan penembusan US$65,75 untuk mengonfirmasi kelanjutan kenaikan.


(gls/gls) Next Article Ramalan Harga Emas Pekan Ini, Awas Terjun ke Bawah US$4.000!


Most Popular
Features