MARKET DATA

Mengenal Gedung "Kura-Kura" Nusantara, Tempat Ikonik Pidato Kenegaraan

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
14 August 2026 10:07
Gedung Nusantara di Kompleks MPR, DPR, DPR (Parlemen RI), Jakarta. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: CNBC Indonesia/Faisal Rahman

Jakarta, CNBC Indonesia -  Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan kembali mendatangi Kompleks Parlemen, Senayan, untuk menghadiri rangkaian Sidang Tahunan dan penyampaian Nota Keuangan/RAPBN.

Di balik agenda ekonomi penting tersebut, gedung tempat para wakil rakyat bersidang menyimpan sejarah yang tak kalah menarik.

Sidang Tahunan akan dihadiri seluruh pejabat terpenting di Indonesia mulai dari Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Ketua Dewan Perwakilan rakyat (DPR), Presiden dan Wakilnya, Ketua Mahkamah Agung, Panglima TNI, Kapolri, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), hingga mantan presiden.

Mengenal Gedung Nusantara

Agenda penting Sidang Tahunan digelar di Gedung Nusantara. Gedung Nusantara dengan atap hijaunya yang ikonik ternyata tidak sejak awal dirancang sebagai gedung parlemen Indonesia.

Gedung Nusantara di Kompleks MPR, DPR, DPR (Parlemen RI), Jakarta. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Gedung Nusantara di Kompleks MPR, DPR, DPR (Parlemen RI), Jakarta. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: CNBC Indonesia/Faisal Rahman

Dibangun pada 1965, Gedung Nusantara ternyata berawal dari proyek yang sama sekali berbeda dari fungsi parlemen yang dikenal saat ini.

Menariknya, dalam pidato pembukaan Sidang Tahunan pada 14 Agustus 2015, Ketua DPR RI saat itu, Setya Novanto, sempat mengulas sejarah gedung tersebut sebelum Presiden Joko Widodo menyampaikan Nota Keuangan RAPBN 2016.

Momen tersebut menunjukkan bagaimana gedung legendaris ini telah lama menjadi bagian dari rangkaian agenda kenegaraan penting, termasuk penyampaian arah kebijakan fiskal dan anggaran negara.

Rombongan Presiden tiba di Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD dalam Rangka HUT ke-81 RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026). (Tangkapan layar youtube Setotres RI)Rombongan Presiden tiba di Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD dalam Rangka HUT ke-81 RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026). (Tangkapan layar youtube Setotres RI) Foto: (Tangkapan layar youtube Setotres RI)

Jauh sebelum menjadi pusat kegiatan parlemen seperti sekarang, kompleks parlemen di Senayan dibangun sebagai Jakarta Political Venue untuk mendukung penyelenggaraan Conference of the New Emerging Forces (CONEFO). Forum tersebut merupakan gagasan Soekarno untuk menghimpun negara-negara berkembang di tengah persaingan dua blok kekuatan dunia saat itu.

Soekarno menginginkan kompleks tersebut memiliki bentuk yang berbeda dari gedung parlemen di negara-negara lain.

Dalam sayembara desain arsitektur pada November 1964, ia juga meminta rancangan yang mencerminkan kepribadian Indonesia sekaligus mampu menjawab perkembangan zaman. Rancangan karya arsitek Soejoedi Wirjoatmodjo kemudian terpilih untuk proyek tersebut.

Salah satu ciri paling khas Gedung Nusantara adalah atap hijaunya yang disebut menyerupai kepakan sayap Garuda. Berdasarkan catatan DPR, bentuk tersebut lahir dari pengembangan desain Soejoedi setelah berkonsultasi dengan insinyur sipil Sutami.

Pergolakan politik 1965 kemudian membuat proyek CONEFO terhenti. Pembangunan dilanjutkan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto dengan fungsi baru sebagai gedung parlemen.

Pada 1968, Gedung Nusantara, Nusantara I, dan Nusantara II diserahkan kepada Sekretariat Jenderal DPR RI dan sejak itu digunakan sebagai fasilitas parlemen.

Gedung "Kura-Kura" Jadi Ikon

Gedung utama kompleks parlemen dikenal sebagai Gedung Nusantara.

Bangunan ini memiliki bentuk kubah setengah lingkaran yang secara arsitektural melambangkan kepakan sayap burung yang akan lepas landas.

Selain Gedung Nusantara, kompleks ini terdiri atas Nusantara I hingga V, Gedung Bharana Graha, Gedung Sekretariat Jenderal MPR/DPR/DPD, Gedung Mekanik, serta Masjid Baiturrahman.

Salah satu bangunan paling mencolok adalah Gedung Nusantara I yang memiliki tinggi sekitar 100 meter dengan 24 lantai.

Kompleks parlemen juga memiliki Patung Elemen Estetik, yang berada di area kolam air mancur dan diapit oleh 35 tiang bendera.

Patung tersebut merupakan karya Drs. But Mochtar, seniman dari Departemen Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB).

Bentuknya terdiri dari tiga bulatan yang saling terhubung dan berkesinambungan.

Patung tersebut dibuat menggunakan konstruksi rangka besi yang dilapisi sheet tembaga dan ditanam pada pondasi beton. Pembangunannya rampung pada 1977.

Gedung Nusantara disebut "Gedung Kura-Kura" karena bentuk arsitekturnya memang menyerupai kura-kura yang sedang merunduk, terutama jika dilihat dari depan atau dari udara.
Dari kejauhan, kubah tersebut terlihat seperti tempurung kura-kura, sementara bagian bangunan di bawahnya menyerupai badan kura-kura.

Gedung DPR/MPR Senayan: Saksi Pergantian Rezim hingga Lahirnya Reformasi

Salah satu peristiwa paling ikonik dalam sejarah Gedung DPR/MPR terjadi pada Mei 1998, ketika ribuan mahasiswa dan demonstran menduduki kompleks parlemen.

Aksi tersebut menjadi bagian dari gelombang gerakan Reformasi yang menuntut perubahan politik dan pengunduran diri Presiden Soeharto. Ribuan mahasiswa memenuhi halaman kompleks DPR/MPR, bahkan hingga naik ke bagian atas Gedung Nusantara.

Pendudukan ini kemudian menjadi salah satu simbol penting runtuhnya kekuasaan Orde Baru.

Selama puluhan tahun, Gedung DPR/MPR identik dengan kekuasaan politik Orde Baru. Namun pada Mei 1998, situasinya berbalik. Gedung tersebut justru menjadi pusat tekanan terhadap pemerintah.

Sejumlah tokoh masyarakat dan politik ikut mendatangi kompleks parlemen dan menyuarakan tuntutan reformasi.

 

Hanya beberapa hari setelah mahasiswa menduduki Gedung DPR, Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998.

Kekuasaan kemudian diserahkan kepada Wakil Presiden B.J. Habibie. Peristiwa ini menjadi penanda berakhirnya 32 tahun pemerintahan Orde Baru dan lahirnya era Reformasi.

Reformasi juga membawa perubahan di kompleks parlemen.

Sejumlah gedung berganti nama. Gedung utama yang sebelumnya bernama Grahatama kemudian menjadi Gedung Nusantara, sementara gedung lainnya menggunakan nama Nusantara I hingga V. Perubahan nama tersebut diputuskan pada Desember 1998.

Aksi demo di awal Reformasi kemudian menjadi awal dari strategisnya Gedung DPR/MPR sebagai tempat mengajukan protes.

Ada sejumlah peristiwa penting yang membuat gedung ini bukan sekadar tempat sidang parlemen, tetapi juga menjadi saksi pergantian rezim dan perubahan politik Indonesia.

(Salma Laiqa/slm)



Most Popular