Dunia Terbakar Perang Tak Berujung, Perusahaan Senjata Pesta Cuan
Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi perang Iran dan Amerika Serikat membuat ketidakpastian global kembali meningkat. Risiko gangguan pasokan energi, lonjakan harga minyak, hingga potensi meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah membuat pelaku pasar lebih berhati-hati.
Namun, di tengah kondisi tersebut, emiten pertahanan global justru menunjukkan kinerja yang relatif solid. Laporan keuangan semester I-2026 memperlihatkan mayoritas kontraktor pertahanan besar di Amerika Serikat dan Eropa mencatat kenaikan pendapatan, penguatan profit operasional, serta backlog kontrak yang masih tebal.
Hal ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak selalu langsung tercermin pada laba bersih dalam jangka pendek. Pada industri pertahanan, dampaknya biasanya lebih dulu terlihat melalui kontrak baru, pesanan jangka panjang, dan kenaikan backlog.
Realisasi ke pendapatan dan laba baru terjadi secara bertahap sesuai pengiriman produk, progres proyek, serta skema pembayaran dari pemerintah.
Amerika Serikat: Mayoritas Pendapatan dan Laba Naik
Di Amerika Serikat, kinerja emiten pertahanan besar masih terlihat kuat. Lockheed Martin mencatat pendapatan H1 2026 sebesar US$38,08 miliar, naik 5,44% dibandingkan H1 2025. Laba bersihnya melonjak 61,83% menjadi US$3,32 miliar.
RTX juga mencatat pertumbuhan solid. Pendapatannya naik 11,69% menjadi US$46,78 miliar, sementara laba bersih naik 31,52% menjadi US$4,20 miliar. Northrop Grumman, General Dynamics, L3Harris, HII, BWX Technologies, Leonardo DRS, dan Curtiss-Wright juga membukukan kenaikan pendapatan serta profit.
Boeing menjadi pengecualian karena masih mencatat rugi bersih. Meski demikian, kerugiannya mengecil dari minus US$643 juta pada H1 2025 menjadi minus US$435 juta pada H1 2026.
Eropa: Rearmament Jadi Pendorong Utama
Di Eropa, tren rearmament atau peningkatan kembali belanja pertahanan juga menjadi katalis penting. Negara-negara NATO terus meningkatkan anggaran militer, sementara perang Ukraina dan eskalasi Timur Tengah memperkuat kebutuhan sistem pertahanan udara, rudal, amunisi, kendaraan tempur, sensor, hingga teknologi elektronik militer.
Kinerja sejumlah emiten pun ikut terdorong. BAE Systems mencatat sales H1 2026 sebesar US$21,30 miliar, naik 7,87% secara tahunan. Airbus membukukan pendapatan US$38,27 miliar, naik 12,04%, dengan net income naik 47,08% menjadi US$2,59 miliar.
Leonardo dan Rheinmetall menjadi dua nama yang paling mencolok. Leonardo mencatat adjusted net result naik 74,36%, sedangkan Rheinmetall mencatat operating result melonjak 73,51%. Saab juga menunjukkan pertumbuhan kuat, dengan pendapatan naik 25,41% dan net income naik 29,26%.
Meski demikian, pembacaan profit emiten Eropa perlu hati-hati karena tidak semuanya memakai net income murni. Beberapa menggunakan metrik seperti underlying EBIT, operating result, atau adjusted net result.
Secara umum, sektor pertahanan masih mendapat angin belakang kuat dari ketidakpastian geopolitik, tetapi dampaknya lebih dulu terlihat pada kontrak dan backlog sebelum sepenuhnya masuk ke laba bersih.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/luc)