MARKET DATA
Newsletter

Awas! Drama Review MSCI Kembali Guncang IHSG, Rupiah Dihantam Kabar AS

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
12 August 2026 06:27
Ilustrasi Wall Street. (AP/Richard Drew)
Foto: (AP/Richard Drew)

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street semua melemah pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Indeks melemah tertekan oleh saham-saham teknologi utama. Harapan investor bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka mulai memudar, memperkuat keraguan yang masih ada mengenai kemungkinan Amerika Serikat dan Iran mencapai penyelesaian yang lebih luas atas konflik tersebut.

Indeks pasar yang lebih luas ini turun 0,32%, mencatat pelemahan untuk hari kedua berturut-turut dan ditutup di level 7.728,20.

Nasdaq Composite melandai 0,60% menjadi 26.445,45. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average melemah 184,13 poin atau 0,34% menjadi 53.791,85.

Sektor jasa komunikasi menjadi sektor dengan kinerja terburuk di S&P 500, anjlok lebih dari 2%, seiring saham Alphabet dan AppLovin masing-masing turun 3,8% dan hampir 6%.

Saham Alphabet belakangan berada di bawah tekanan dan mencatat sesi penurunan keempat dalam lima hari setelah Google pekan lalu mengumumkan perombakan divisi kecerdasan buatannya (AI).

Sektor teknologi informasi juga berada di zona merah.

Saham Nvidia menghapus kenaikan pada perdagangan pagi dan ditutup sedikit di bawah level sebelumnya.

Produsen chip tersebut pada Senin mengumumkan kemitraan dengan enam perusahaan manajemen aset besar untuk menghimpun lebih dari US$500 miliar guna membiayai infrastruktur kecerdasan buatan. Saham Apple juga melemah lebih dari 1%.

Pergerakan pasar tersebut terjadi ketika harga minyak naik di tengah ketidakpastian konflik di Timur Tengah. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran kembali menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sampai tuntutan Iran dipenuhi, menurut Reuters.

Kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup naik 1,3% menjadi US$83,20 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent, yang menjadi patokan internasional, naik sekitar 1,4% menjadi US$88,91 per barel.

 

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya mengatakan pada pekan ini bahwa "tidak ada kemungkinan dimulainya kembali perundingan" selama AS terus melanggar nota kesepahaman Juni dan tidak memberikan kompensasi kepada Iran atas pelanggaran tersebut, menurut kantor berita semi-resmi Tasnim.

Namun, investor menangkap pernyataan Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif sebagai sinyal positif pada Selasa.

Dia mengatakan bahwa situasi kembali mengarah ke kesepakatan damai atau sebuah perjanjian.

Selanjutnya, perhatian investor akan tertuju pada serangkaian data inflasi penting. Data inflasi konsumen Juli akan dirilis pada Rabu, disusul indeks harga produsen (PPI) pada Kamis. Data tersebut menjadi semakin penting setelah laporan ketenagakerjaan AS yang lemah membuat prospek kebijakan The Fed menjadi lebih rumit.

Data inflasi tersebut dapat menempatkan The Federal Reserve dalam posisi sulit.

Kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran mengenai tekanan inflasi, sementara perlambatan tajam perekrutan tenaga kerja menimbulkan pertanyaan mengenai kekuatan konsumsi masyarakat dan perekonomian secara keseluruhan.

"Saya memperkirakan laporan CPI akan terus menunjukkan tren penurunan, yang semakin memperkuat alasan bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga daripada menaikkannya, bahkan setelah laporan ketenagakerjaan yang lemah pada Jumat lalu," kata Dennis Follmer, Chief Investment Officer Montis Financial, dikutip dari CNBC International.

"Inflasi sektor jasa mungkin masih menjadi masalah yang sulit mereda, tetapi sektor tersebut tidak terlalu sensitif terhadap suku bunga, sehingga seharusnya tidak terlalu mengganggu alasan untuk mempertahankan suku bunga tetap," tambahnya.

(gls/gls)


Most Popular
Features