MARKET DATA

Won, Yuan-Ringgit Gantian Jadi Raja Asia, Rupiah Melemah

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
11 August 2026 09:28
Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Dolar Asia, Melawai, Blok M, Jakarta, Selasa, (3/10). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Dolar Asia, Melawai, Blok M, Jakarta, Selasa, (3/10). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia menguat dalam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Selasa (11/8/2026). 

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.12 WIB, laju mata uang Asia pagi ini didominasi penguatan. Dari 10 mata uang yang dipantau, sebanyak tujuh mata uang menguat terhadap dolar AS, sementara tiga lainnya melemah.

Penguatan terbesar pagi ini dicatatkan won Korea Selatan dan dolar Taiwan yang sama-sama naik 0,14%. Won berada di posisi KRW 1.415,5/US$, sementara dolar Taiwan berada di TWD 32,197/US$.

Ringgit Malaysia turut menguat 0,10% ke posisi MYR 4,092/US$. Yen Jepang juga naik meski tipis 0,08% ke JPY 159,18/US$, disusul dong Vietnam yang menguat 0,05%.

Dolar Singapura naik 0,04%, sementara yuan China menguat tipis 0,01%.

Di sisi lain, peso Filipina menjadi mata uang dengan tekanan terdalam di Asia pagi ini. Peso melemah 0,39% ke posisi PHP 60,957/US$.

Rupiah juga belum mampu mengikuti penguatan mayoritas mata uang Asia. Rupiah Garuda melemah 0,28% ke posisi Rp17.800/US$.

Baht Thailand turut melemah tipis 0,03%.

Pergerakan mata uang Asia pagi ini masih dipengaruhi oleh dinamika dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah tipis 0,05% ke posisi 99,758.

Namun, pelemahan tipis pagi ini terjadi setelah dolar AS sempat menguat pada perdagangan sebelumnya. DXY pada perdagangan Senin (10/8/2026) ditutup naik 0,27%.

Penguatan terjadi karena harga minyak naik menjelang rilis data inflasi konsumen AS periode Juli. Data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi pasar dalam membaca arah suku bunga The Federal Reserve/The Fed.

Sebelumnya, data tenaga kerja AS yang jauh lebih lemah dari perkiraan membuat pasar mulai meragukan peluang kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Fed funds futures kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada September sebesar 52%, turun dari 67% pada pekan sebelumnya.

"September sempat terlihat sangat mungkin, lalu kita tidak hanya mendapatkan laporan tenaga kerja yang buruk, tetapi juga revisi yang sangat buruk," ujar Adam Button, chief currency analyst investingLive, dikutip dari Reuters.

Meski peluang kenaikan suku bunga menurun, pasar masih menunggu data inflasi AS pada Rabu. Jika inflasi kembali menunjukkan tekanan yang lebih kuat, ekspektasi terhadap jalur suku bunga The Fed dapat kembali berubah.

Analis TD Securities menilai tekanan terhadap dolar AS mulai terbentuk setelah sejumlah sentimen negatif muncul.

"Tren pelemahan baru dolar AS mulai terbentuk setelah serangkaian katalis negatif bagi dolar," tulis analis TD Securities dalam laporannya, dikutip dari Reuters.

Namun, TD Securities juga menilai dolar AS masih bisa bertahan terhadap mata uang utama sampai data inflasi yang lebih lunak memberi ruang bagi pasar untuk memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga jangka pendek The Fed.

Dari sisi energi, harga minyak sempat mereda dari level tertinggi terbaru karena harapan kesepakatan untuk mengakhiri konflik Iran. Namun, volatilitas masih tinggi. Harga minyak melonjak lebih dari 4% pada Senin setelah Iran dan AS saling mengajukan tuntutan kompensasi, sehingga prospek pembukaan kembali Selat Hormuz kembali tidak pasti.

Kondisi tersebut membuat pergerakan dolar AS masih berayun. Di satu sisi, data tenaga kerja AS yang lemah menekan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Namun di sisi lain, kenaikan harga minyak dan risiko inflasi masih memberi dukungan bagi greenback.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular