MARKET DATA

Beda Nasib Mata Uang Asia: Rupiah-Ringgit Perkasa, Yen - Won Jatuh

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
10 August 2026 09:46
Mata uang asia. (Dok. Pexels)
Foto: Mata uang asia. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia mengawali perdagangan awal pekan dengan mayoritas menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan dolar AS dalam beberapa hari terakhir masih menjadi angin segar bagi mayoritas mata uang Asia, termasuk rupiah.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, tujuh dari 10 mata uang yang dipantau berhasil menguat terhadap dolar AS, sementara tiga lainnya melemah.

Rupiah menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pada pagi ini. Mata uang Garuda menguat 0,36% ke posisi Rp17.820/US$. Penguatan tersebut membuat rupiah semakin menjauh dari level psikologis Rp18.000/US$.

Dong Vietnam menyusul dengan kenaikan 0,19% ke posisi VND 26.154/US$. Baht Thailand juga menguat 0,12% ke THB 32,99/US$, disusul peso Filipina yang naik 0,07% ke PHP 60,781/US$.

Ringgit Malaysia dan dolar Taiwan sama-sama menguat 0,05%. Yuan China turut menguat tipis 0,03% ke posisi CNY 6,745/US$.

Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia.

Won melemah 0,60% ke posisi KRW 1.416,17/US$. Yen Jepang juga melemah 0,29% ke JPY 158,26/US$, sedangkan dolar Singapura terkoreksi 0,09%.

Penguatan mayoritas mata uang Asia pagi ini terjadi ketika dolar AS masih bergerak dekat level terendah dalam dua bulan. Indeks dolar AS (DXY) pada pagi ini memang terpantau naik 0,14% ke posisi 99,679.

Namun, posisi DXY masih berada di bawah level 100 dan bertahan dekat level terendah sejak awal Juni. Kondisi ini membuat tekanan dari greenback terhadap mata uang kawasan tidak sebesar pekan-pekan sebelumnya.

Kondisi ini terjadi seiring pelaku pasar menunggu data inflasi AS pekan ini untuk membaca arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).

Tekanan terhadap dolar AS muncul setelah data tenaga kerja AS pada Jumat pekan lalu menunjukkan ekonomi AS secara tak terduga kehilangan pekerjaan pada Juli. Selain itu, penambahan pekerjaan untuk dua bulan sebelumnya juga direvisi jauh lebih rendah.

Data tersebut meredam ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September mendatang. Imbal hasil Treasury AS ikut turun setelah laporan tenaga kerja melemah, dengan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di 4,637%.

Pasar berjangka kini memangkas peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi sekitar 44%, turun dari 67% pada pekan sebelumnya.

Geoff Yu, senior EMEA market strategist BNY, menilai sinyal pelemahan pasar tenaga kerja AS ikut menekan ekspektasi suku bunga riil dan memperpanjang pelemahan dolar AS.

"Sinyal pasar tenaga kerja AS yang lebih lemah telah menurunkan ekspektasi suku bunga riil dan memperpanjang penurunan dolar AS, tetapi belum menjadi cerita pelonggaran yang jelas," tulis Yu dalam catatannya, dikutip dari Reuters.

Meski begitu, perhatian pasar pekan ini akan tertuju pada data inflasi AS. Konsensus memperkirakan inflasi inti AS naik 0,2% secara bulanan pada Juli, dengan laju tahunan diperkirakan menjadi 2,5%.

Rodrigo Catril, senior FX strategist NAB, menilai The Fed kemungkinan masih akan menunggu perkembangan data sebelum mengambil langkah berikutnya.

"Meski ada banyak dinamika inflasi, The Fed untuk saat ini akan tetap menunggu dan melihat bagaimana perkembangannya," ujar Catril dalam sebuah podcast, dikutip dari Reuters.

Selain inflasi, pelaku pasar juga akan mencermati data harga produsen dan penjualan ritel AS yang dirilis pekan ini. Seluruh data tersebut akan menjadi petunjuk tambahan mengenai arah inflasi dan kebijakan suku bunga AS.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular