Benarkah Amerika Penuh Senjata, Eropa Rawan Begal? Ini Faktanya
Jakarta, CNBC Indonesia - Eropa dan Amerika Serikat (AS) punya reputasi yang berbeda soal keamanan. Di media sosial, Eropa kerap digambarkan penuh pencopet dan perampok, sementara Amerika identik dengan senjata api dan kriminalitas jalanan.
Namun, ketika angka kejahatan dibandingkan dengan metode yang sama, ceritanya tidak sesederhana itu.
Sebuah dataset yang disusun Matt Ashby, kriminolog dari University College London (UCL), bersama sejumlah peneliti mencoba membandingkan tingkat kejahatan di 20 kota negara maju dengan populasi sedikitnya 2,5 juta jiwa.
Hasilnya menunjukkan Chicago menjadi kota dengan tingkat pembunuhan paling tinggi dalam data tersebut. Namun, untuk jenis kejahatan lain, perbedaan antara kota-kota Eropa dan Amerika jauh lebih tipis.
Chicago Jauh di Atas Kota Lain
Untuk mengukur tingkat keamanan, pembunuhan atau homicide menjadi salah satu indikator yang paling mudah dibandingkan antarnegara.
Pada 2024, Chicago mencatat 587 kasus pembunuhan atau sekitar 22 kasus per 100.000 penduduk. Angka tersebut sekitar 2,7 kali lebih tinggi dibandingkan Los Angeles yang berada di posisi berikutnya.
Kasus pembunuhan tercatat per 100.000 penduduk di kota-kota Eropa dan Amerika Serikat* Foto: Economist |
Sebagai pembanding, rata-rata tingkat pembunuhan di 10 kota Eropa dalam dataset tersebut hanya 1,7 kasus per 100.000 penduduk.
Perbedaannya cukup jauh. Tingkat pembunuhan Chicago lebih dari 12 kali rata-rata 10 kota Eropa yang dibandingkan.
London dan Paris Punya Masalah Berbeda
Namun, gambaran berubah ketika jenis kejahatan yang dibandingkan bukan pembunuhan.
Untuk perampokan terhadap individu yang melibatkan kekerasan atau ancaman, frekuensinya relatif mirip antara kota-kota di Eropa dan Amerika.
London dan Paris justru mencatat angka yang sangat tinggi, masing-masing lebih dari 300 kasus per 100.000 penduduk setiap tahun.
Kasus kejahatan yang tercatat per 100.000 penduduk di kota-kota Eropa dan Amerika Serikat Foto: Economist |
Pencurian kendaraan juga lebih banyak terjadi di Chicago dan Los Angeles. New York, sebaliknya, justru mencatat tingkat yang lebih baik dibandingkan sebagian besar kota Eropa.
Sementara itu, untuk kasus pembobolan rumah atau burglary, Eropa justru lebih tinggi.
Data Kriminal Tak Bisa Dibaca Mentah
Membandingkan tingkat kejahatan antarnegara bukan perkara sederhana. Data yang dicatat polisi bisa dipengaruhi oleh perbedaan definisi, batas wilayah, hingga kecenderungan masyarakat untuk melaporkan kejahatan.
Karena itu, Ashby dan timnya menyesuaikan batas wilayah 20 kota agar memiliki tingkat kepadatan penduduk yang lebih sebanding. Mereka juga menyelaraskan kategori kejahatan agar perbandingannya lebih konsisten.
Masalahnya, angka yang tercatat juga belum tentu menggambarkan jumlah kejahatan yang sebenarnya terjadi. Di Inggris dan Wales, misalnya, kasus pemerkosaan yang tercatat secara resmi meningkat dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Namun, survei terhadap masyarakat menunjukkan jumlah kasus relatif stabil.
Kenaikan tersebut diduga turut dipengaruhi semakin banyaknya korban yang melapor dan perbaikan pencatatan oleh polisi. Hal serupa terjadi pada perampokan bisnis di London, yang menurut Ashby bisa terlihat meningkat karena proses pelaporan dibuat lebih mudah.
Karena itu, angka kriminalitas tidak cukup dibaca sebagai "semakin tinggi berarti semakin banyak kejahatan". Cara kasus dilaporkan dan dicatat juga ikut menentukan apa yang terlihat dalam data.
Eropa dan Amerika Sama-sama Membaik
Meski perbandingan antarnegara memiliki banyak keterbatasan, ada satu pola yang justru cukup konsisten.
Tingkat pembunuhan di London dan New York kini berada pada level terendah sejak pencatatan dimulai.
Paris juga menunjukkan perbaikan. Meskipun tingkat perampokan terhadap individu masih relatif tinggi, angkanya telah hampir separuh dibandingkan satu dekade lalu.
Pada akhirnya kota-kota besar perlahan menjadi lebih aman dibandingkan generasi sebelumnya.
Kasus kejahatan yang tercatat per 100.000 penduduk di kota-kota Eropa dan Amerika Serikat Foto: Economist |
(mae/mae)


