HUT Pasar Modal ke-49, Ini Sejarah & Daftar Emiten Tertua di Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar modal Indonesia merayakan hari ulang tahun ke-49 pada Senin, 10 Agustus 2026. Dalam rentang 49 tahun tersebut, ada seumlah emiten yang bertahan sangat lama.
Tanggal 10 Agustus diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Pasar Modal Indonesia. Peringatan ini merujuk pada pengaktifan kembali kegiatan pasar modal oleh pemerintah pada 10 Agustus 1977 setelah mengalami kevakuman panjang.
Selain 10 Agustus, pasar modal Indonesia juga memiliki hari penting lain setiap 13 Juli.Â
Sementara itu, 13 Juli berakar dari Hari Ulang Tahun Bursa Efek Jakarta atau BEJ. Pada 13 Juli 1992, pengelolaan BEJ diswastakan dan dipisahkan dari fungsi pengawasan pemerintah. BEJ kemudian menjadi salah satu cikal bakal Bursa Efek Indonesia.
Dengan kata lain, 10 Agustus merupakan hari jadi aktivitas dan ekosistem pasar modal Indonesia, sedangkan 13 Juli menandai perubahan kelembagaan pengelola bursanya.
Pada 2026, pasar modal Indonesia memperingati 49 tahun pengaktifan kembali, sedangkan 13 Juli menandai 34 tahun sejak swastanisasi BEJ.
Suasana layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Suasana layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) |
Pasar Modal Indonesia Sudah Ada Sejak 1912
Usia 49 tahun bukan berarti kegiatan pasar modal di Indonesia baru dimulai pada 1977. Sejarahnya justru telah berlangsung lebih dari satu abad.
Bursa efek pertama di Indonesia didirikan di Batavia pada Desember 1912 oleh pemerintah Hindia Belanda. Ketika itu, transaksi yang berlangsung terutama berkaitan dengan saham dan obligasi perusahaan-perusahaan yang memiliki kepentingan di wilayah kolonial.
Perjalanannya kemudian beberapa kali terhenti. Bursa ditutup ketika Perang Dunia I, kembali beroperasi, lalu mengalami gangguan lagi akibat Perang Dunia II serta perubahan kekuasaan dari pemerintah kolonial kepada Republik Indonesia.
Pemerintah sempat membuka kembali bursa di Jakarta pada 1952. Namun, aktivitasnya kembali meredup setelah nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda dan memburuknya kondisi ekonomi serta politik.
Setelah mengalami kevakuman pada periode 1956-1977, pemerintah akhirnya mengaktifkan kembali pasar modal pada 10 Agustus 1977. Peresmian dilakukan oleh Presiden Soeharto dan operasional bursa berada di bawah Badan Pelaksana Pasar Modal atau Bapepam.
Momentum tersebut ditandai dengan masuknya PT Semen Cibinong sebagai perusahaan pertama yang mencatatkan saham setelah pasar modal diaktifkan kembali. Perusahaan itu kini dikenal sebagai PT Solusi Bangun Indonesia Tbk dengan kode saham SMCB.
Dari BEJ hingga Menjadi BEI
Perubahan besar berikutnya berlangsung pada 13 Juli 1992, ketika Bursa Efek Jakarta diswastakan. Setelah perubahan tersebut, tugas menjalankan perdagangan efek berada di tangan PT Bursa Efek Jakarta.
Bapepam yang sebelumnya ikut menjalankan pasar kemudian berganti peran menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. Karena itulah, 13 Juli diperingati sebagai hari jadi BEJ dan kemudian melekat pada perjalanan kelembagaan bursa Indonesia.
Pada 2007, Bursa Efek Jakarta bergabung dengan Bursa Efek Surabaya. Penggabungan tersebut melahirkan PT Bursa Efek Indonesia atau BEI seperti yang dikenal sekarang.
Jadi, pasar modal merupakan keseluruhan ekosistem yang mempertemukan perusahaan pencari modal, investor, regulator, lembaga penunjang, dan berbagai instrumen investasi. Adapun BEI merupakan lembaga yang menyediakan serta mengoperasikan sistem perdagangan efek.
10 Emiten Penghuni Tertua Bursa Indonesia
Perjalanan panjang tersebut turut melahirkan sejumlah perusahaan tercatat yang telah menjadi penghuni bursa selama lebih dari empat dekade.
Berikut 10 emiten dengan tanggal pencatatan paling awal sebagaimana tersaji dalam data artikel rujukan:
SMCB menjadi emiten dengan tanggal pencatatan paling awal, sekaligus penanda diaktifkannya kembali pasar modal pada 1977. Nama-nama yang dekat dengan masyarakat seperti Multi Bintang Indonesia, Unilever Indonesia, Sepatu Bata, hingga Bank Pan Indonesia juga masuk dalam kelompok tersebut.
Bertahannya kode-kode saham itu menunjukkan panjangnya perjalanan korporasi di pasar modal. Namun, usia pencatatan tidak otomatis menggambarkan kualitas fundamental, likuiditas, maupun prospek investasinya. Status perdagangan dan pencatatan setiap emiten juga dapat berubah mengikuti ketentuan Bursa Efek Indonesia.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)