MARKET DATA

Kongo Tutup Keran Ekspor, Harga Tembaga Terbang ke Zona Berbahaya

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
07 August 2026 15:10
FILE PHOTO: An employee works at a electricity cable factory in Baoying, Jiangsu province, July 23, 2006. REUTERS/Aly Song/File Photo
Foto: Ilustrasi Copper. REUTERS/Aly Song

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga tembaga kembali mengirim sinyal panas ke pasar global.

Logam industri ini sempat menyentuh rekor baru di pasar Amerika Serikat (AS) dan mendekati puncak historis di London setelah Republik Demokratik Kongo (DRC) resmi menghentikan ekspor konsentrat tembaga dan kobalt.

Keputusan itu langsung memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap pasokan bahan baku peleburan. Meski volume konsentrat yang terdampak relatif terbatas, kabar tersebut cukup untuk mendorong aksi beli di tengah stok global yang sudah menipis.

Melansir Reuters, pemerintah DRC melarang ekspor konsentrat tembaga dan konsentrat kobalt melalui aturan yang mulai berlaku seketika. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah agar lebih banyak proses pengolahan mineral dilakukan di dalam negeri sehingga nilai tambah tidak lagi dinikmati negara lain.

 

Respons pasar berlangsung cepat. Kontrak tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) sempat melonjak hingga US$14.369,5 per ton, level tertinggi sejak Januari ketika harga mencetak rekor sepanjang masa di US$14.527,5 per ton.

Di pasar COMEX Amerika Serikat, harga futures bahkan sempat menembus US$6,72 per pon, rekor tertinggi sepanjang perdagangan.

Yang menarik, reli kali ini bukan semata dipicu larangan ekspor dari Kongo.

Dalam tiga bulan terakhir, pasar tembaga menghadapi tekanan dari berbagai arah.

Chile masih bergulat dengan gangguan produksi, China membatasi ekspor asam sulfat yang dibutuhkan proses pemurnian, sementara Kongo mulai menahan ekspor konsentrat. Bersamaan dengan itu, investasi jaringan listrik, pusat data AI, dan elektrifikasi terus menjaga permintaan tetap tinggi. Kombinasi tersebut membuat harga tembaga kembali mendekati rekor tertinggi.

 

Reuters melaporkan premi tembaga tunai terhadap kontrak tiga bulan di LME melebar menjadi US$123 per ton, tertinggi sejak Oktober tahun lalu. Kondisi tersebut biasanya muncul ketika pelaku industri berebut pasokan untuk kebutuhan jangka pendek.

Pada saat yang sama, persediaan tembaga di gudang resmi LME turun menjadi 226.650 ton, posisi terendah sejak pertengahan Februari. StoneX memperkirakan lebih dari 1,2 juta ton tembaga telah mengalir ke Amerika Serikat sejak Februari 2025.

Akibatnya sekitar 64% stok tembaga global yang terlihat kini berada di AS, membuat pasokan di kawasan lain semakin ketat.

Pasokan juga terganggu dari sisi produksi.

Pengembangan area Andes Norte di tambang El Teniente milik Codelco di Chile masih berpotensi tertunda hingga dua tahun akibat persoalan teknis di bawah tanah. Chile merupakan produsen tembaga terbesar dunia sehingga setiap gangguan operasi cepat memengaruhi sentimen pasar.

Di sisi lain, permintaan tetap tinggi. CNBC International melaporkan kebutuhan tembaga kini semakin banyak berasal dari investasi jaringan listrik, pembangunan pusat data, kendaraan listrik, hingga infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Artinya, konsumsi logam merah saat ini lebih didorong transformasi energi dan digital dibanding lonjakan aktivitas ekonomi secara umum.

China menjadi salah satu mesin utama permintaan tersebut. Investasi jaringan listrik negara itu pada semester pertama 2026 naik 13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Beijing juga telah mengumumkan rencana investasi sekitar US$574 miliar untuk modernisasi jaringan listrik dalam beberapa tahun ke depan.

Sementara itu, larangan ekspor dari DRC sebenarnya diperkirakan tidak memangkas pasokan global dalam jumlah besar.

Data pemerintah Kongo yang dikutip Reuters menunjukkan negara tersebut memang lebih banyak mengekspor tembaga dalam bentuk katoda hasil pemurnian. Pada kuartal I-2026, ekspor katoda mencapai 696.725 ton. Sebaliknya, ekspor konsentrat hanya 53.926 ton yang mengandung sekitar 18.863 ton logam tembaga.

 

Analis China-Global South Project, Christian-Geraud Neema, menilai dampak terbesar kemungkinan dirasakan beberapa perusahaan yang masih memperoleh pengecualian untuk mengirim konsentrat ke luar negeri.

Salah satunya kompleks tambang Kamoa-Kakula yang dioperasikan Ivanhoe Mines bersama Zijin Mining dan pemerintah Kongo. Selama ini perusahaan tersebut beberapa kali memperoleh izin khusus untuk tetap mengekspor konsentrat.

Karena itu, yang bergerak lebih dulu adalah ekspektasi pasar.

Broker Marex dalam risetnya yang dikutip Reuters menyebut Kongo memang hanya mengirim porsi kecil konsentrat dibanding total produksi tembaganya. Namun ketika persediaan global sedang menipis dan ketidakpastian tarif impor Amerika Serikat masih membayangi pasar, kabar sekecil apa pun mengenai gangguan pasokan mampu mengangkat harga.

Sebagai informasi, Republik Demokratik Kongo merupakan produsen tembaga terbesar kedua di dunia setelah Chile.

Berdasarkan data USGS, produksi tembaga negara tersebut mencapai 3,3 juta ton pada 2024, jauh di atas Peru di posisi ketiga dengan 2,6 juta ton.

Sementara itu, Indonesia berada di peringkat keenam dunia dengan produksi sekitar 1,1 juta ton, setara dengan Amerika Serikat.

Posisi Kongo sebagai salah satu pemasok utama logam merah membuat setiap perubahan kebijakan ekspor dari negara tersebut langsung menjadi perhatian pasar dan berpotensi memengaruhi pergerakan harga tembaga global.

Pergerakan harga tembaga tahun ini akhirnya semakin sulit dibaca menggunakan pendekatan lama.

Selama puluhan tahun logam merah dikenal sebagai "Dr. Copper", indikator kesehatan ekonomi global. Kini arah harga lebih banyak dipengaruhi perebutan pasokan, investasi elektrifikasi, pembangunan pusat data AI, serta kebijakan hilirisasi negara produsen.

Bagi pasar logam, kombinasi faktor tersebut membuat reli tembaga masih memiliki ruang bertahan meski pertumbuhan ekonomi dunia belum sepenuhnya pulih.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)



Most Popular