Bukan Emas: Harga Barang Tambang Ini Meroket 622%, Jadi Rebutan Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar mineral kritis kembali memanas. Setelah sempat lesu dalam beberapa tahun terakhir, harga berbagai komoditas strategis melonjak sepanjang 2025 hingga April 2026. Kenaikan paling ekstrem terjadi pada tungsten yang melesat 622%, jauh meninggalkan mineral lain.
Harga tungsten saat ini berada di kisaran US$2.500 hingga US$2.800 per metric ton unit (mtu) untuk konsentrat spot global dengan skema CIF (cost, insurance, and freight). Bila dirupiahkan harganya, Rp 45-50,4 juta per mtu (US$1= Rp 18.000)
Global Critical Minerals Outlook 2026 dari International Energy Agency (IEA) memperlihatkan lonjakan tersebut terjadi ketika permintaan dari industri pertahanan, energi, hingga teknologi tinggi meningkat dalam waktu bersamaan. Pasokan yang terkonsentrasi di segelintir negara membuat pasar semakin sensitif terhadap kebijakan ekspor.
Tungsten menjadi contoh paling nyata. Logam ini digunakan untuk mata bor industri, peralatan pemotong, komponen pesawat, semikonduktor, hingga perlengkapan militer. Ketika China memperketat ekspor mineral tertentu, pasokan global menyusut dan harga langsung melonjak.
Kenaikan harga tungsten bahkan lebih dari tiga kali lipat dibanding tantalum yang berada di posisi kedua.
Material baterai ikut mengalami pemulihan harga. Cobalt naik 134% setelah Republik Demokratik Kongo menerapkan pembatasan ekspor, sementara lithium menguat 108% seiring pertumbuhan kebutuhan penyimpanan energi dan pasokan yang lebih ketat.
IEA mencatat permintaan baterai global sepanjang 2025 tumbuh lebih dari 35% hingga melampaui 1,5 terawatt-hour (TWh).
Angka tersebut memperbesar kebutuhan terhadap lithium, cobalt, nikel, mangan, dan bahan baku lain yang menjadi fondasi kendaraan listrik maupun sistem penyimpanan energi.
Kelompok rare earth juga mencatat kenaikan tajam. Harga neodymium naik 116%, praseodymium 107%, dan terbium 37%. Ketiga unsur tersebut digunakan untuk memproduksi magnet permanen berkinerja tinggi yang menjadi komponen utama motor kendaraan listrik, turbin angin, robot industri, hingga perangkat elektronik.
Lonjakan harga berbagai mineral tersebut memperlihatkan satu pola yang sama. Rantai pasok global semakin bergantung pada negara produsen tertentu. IEA memperkirakan China menguasai sekitar 70% produksi olahan sejumlah mineral penting untuk transisi energi pada 2025.
Konsentrasi pasokan itu membuat kebijakan perdagangan memiliki dampak besar terhadap harga dunia. Ketika ekspor dibatasi atau produksi terganggu, industri manufaktur global langsung menghadapi biaya bahan baku yang lebih tinggi. Kondisi ini diperkirakan masih akan menjadi faktor utama yang membentuk pasar mineral kritis dalam beberapa tahun ke depan.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)