Harga Emas Mengamuk 4% dalam 24 Jam, ke Level Tertinggi 50 Hari!
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak melonjak setelah dolar Amerika Serikat (AS) melemah dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS turun.
Pelaku pasar juga terus memantau perkembangan konflik Timur Tengah untuk mencari petunjuk baru terkait inflasi dan arah suku bunga.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (5/8/2026) ditutup di posisi US$ 4245,39 per troy ons. Harganya melonjak 4,16% dalam sehari.
Posisi penutupan kemarin adalah yang tertinggi sejak 16 Juni 2026 atau 50 hari terakhir.
Kenaikan juga memperpanjang tren positif emas dengan menguat 5,06% dalam tiga hari terakhir.
Harga emas masih menguat pada hari ini. Pada Kamis (6/8/2026) pukul 06.36 WIB, harga emas menguat 0,38% ke US$ 4260,59 per troy ons.
Penguatan emas didorong oleh pelemahan dolar AS serta turunnya yield obligasi AS tenor 10 tahun.
Indeks dolar ditutup di 99,67 atau terendah sejak 16 Juni 2026. Pelemahan dolar membuat emas menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri.
Imbal hasil US Treasury juga jatuh ke 4,617% atau terendah dalam tujuh hari. Emas tidak menawarkan imbal hasil sehingga melemahnya yield membuat emas menarik.
"Dua hari penurunan imbal hasil obligasi dan sepekan pelemahan dolar AS tampaknya telah menyingkirkan berbagai hambatan yang menghadang laju emas dan perak," kata Tai Wong, trader logam independent, kepada Reuters.
Â
Sentimen tambahan datang dari data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan pertumbuhan payroll sektor swasta hanya bertambah 44.000 pada Juli, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 70.000.
Di sisi lain, sejumlah pejabat The Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi. Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September mencapai sekitar 57%.
Meski prospek suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan emas karena tidak memberikan imbal hasil, logam mulia tetap mendapat dukungan dari melemahnya dolar dan turunnya yield obligasi.
Kabar baik juga datang dari Timur Tengah di mana kesepakatan damai semakin mendekat. Meski perang bisa menjadi keuntungan emas tetapi perang yang berkelanjutan bisa memicu inflasi sehingga bisa membuat suku bunga naik.