Tarif Premi Asuransi Global Terus Turun, Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar asuransi komersial global memasuki fase soft market yang semakin kuat yang ditandai dengan berlanjutnya tren penurunan tarif dalam delapan kuartal berturut-turut.
Berdasarkan Marsh Global Insurance Market Index Q2 2026, tarif premi asuransi komersial global pada kuartal II/2026 turun rerata 6% atau lebih dalam dibandingkan dengan penurunan sebesar 5% pada kuartal sebelumnya. Penurunan ini juga menjadi yang terdalam sejak pasar mulai melemah pada akhir 2024.
Penurunan tersebut didorong oleh kombinasi antara lain profitabilitas perusahaan asuransi yang tinggi, kapasitas underwriting yang sangat besar, biaya reasuransi yang semakin murah, hasil investasi perusahaan asuransi yang meningkat, serta persaingan yang semakin agresif antar-insurer.
Akibatnya, kompetisi tidak lagi hanya terjadi pada harga, tetapi juga pada perluasan cakupan polis, peningkatan limit pertanggungan, penurunan deductible, dan wording polis yang lebih fleksibel.
Marsh memperkirakan kondisi ini masih akan berlanjut sepanjang 2026 selama tidak terjadi bencana alam besar secara global.
John Donnelly, Presiden, Global Placement, Marsh Risk, mengatakan kondisi pasar saat ini kemungkinan akan berlanjut kecuali terjadi musim badai hebat di belahan bumi utara atau serangkaian bencana alam besar. "Hal ini kemungkinan menciptakan peluang tambahan bagi klien untuk meningkatkan cakupan dan menyempurnakan desain program, yang dapat memposisikan mereka lebih baik untuk menghadapi perubahan pasar di masa mendatang," katanya.
Secara teperinci, mayoritas lini bisnis menjadi kontributor penurunan tarif, kecuali lini bisnis casualty yang naik sebesar 2%. Tarif properti menjadi lini dengan penurunan terbesar yaitu -12%, disusul lini bisnis cyber sebesar -4% dan financial & professional lines sebesar -3%.
Penurunan tarif properti disebabkan antara lain kapasitas reasuransi yang sangat besar, tekanan kompetisi, dan banyak insurer yang mengejar pertumbuhan premi. Namun underwriting tetap ketat terhadap risiko CAT, kualitas manajemen risiko, dan akumulasi eksposur.
Sementara itu, penyebab kenaikan tarif casualty hampir seluruhnya berasal dari Amerika Serikat, sedangkan di sebagian besar negara justru mengalami penurunan tarif casualty. Penyebabnya adalah social inflation, nuclear verdict, litigasi yang meningkat, dan severity claim liability.
Pada lini bisnis cyber, penurunan tarif yang terjadi melanjutkan tren penurunan sejak 12 kuartal berturut-turut. Penyebabnya adalah peningkatan kapasitas, banyaknya pemain baru, dan kompetisi yang sengit. Namun demikian, perusahaan asuransi mulai memperketat AI exposure, ransomware, dan systemic cyber risk.
Berdasarkan wilayah, IMEA (India, Middle East, and Africa) mencatatkan penurunan tarif terbesar yaitu -16%, disusul Pasifik dan Amerika Latin masing-masing -13% dan -9%. Tarif di UK dan Kanada masing-masing turun sebesar 8% dan 7%, sedangkan tarif asuransi di Eropa, Asia, dan AS, masing-masing turun sebesar 6%, 5%, dan 2%.
Pasar Asia
Penurunan tarif di pasar Asia yang besarannya sama seperti kuartal sebelumnya menunjukkan bahwa pasar Asia relatif stabil dibanding kawasan lain. Penurunan terbesar disokong oleh lini bisnis cyber dan financial & professional.
Tarif asuransi siber di Asia pada kuartal II/2026 turun sebesar 8% dibandingkan dengan penurunan 6% pada kuartal sebelumnya. Para pembeli rumah pertama di Asia Tenggara tercatat semakin banyak membeli asuransi siber di tengah meningkatnya penekanan pemerintah pada ketahanan siber. Sebagian besar wilayah mengalami penurunan angka kecuali di Vietnam yang tetap stabil.
Pada lini keuangan dan profesional, tarifnya mengalami penurunan sebesar 7% atau sama seperti kuartal sebelumnya. Tingkat pertanggungjawaban profesional tercatat menurun di sebagian besar pasar Asia tetapi tercatat stabil di Indonesia, Vietnam, Jepang, dan Filipina.
Sementara itu, tarif lini properti mengalami penurunan sebesar 5% atau sama seperti empat kuartal sebelumnya. Kapasitas perusahaan asuransi dan tingkat persaingan meningkat di sebagian besar pasar dan industri. Kondisi tersebut memungkinkan beberapa klien untuk mendapatkan persyaratan yang lebih baik, termasuk mendapatkan batasan yang lebih tinggi dan mengurangi ketidaksesuaian.
Adapun lini casualty mencatatkan penurunan sebesar 3% atau lebih besar dibandingkan dengan penurunan 2% pada kuartal sebelumnya. Sebagian besar negara mengalami penurunan tetapi Jepang justru masih mengalami kenaikan tarif. Dengan demikian, pasar liability Asia masih sangat kompetitif.
Dampak bagi Indonesia
Berdasarkan indeks harga terbaru tersebut, Indonesia saat ini berada dalam kondisi pasar yang lebih menguntungkan bagi pembeli, seiring tarif asuransi komersial di Asia yang turun 5% dan tarif global yang turun 6%.
Di Asia secara keseluruhan, kondisi pasar tetap kompetitif, dengan penurunan tarif pada lini property (-5%), casualty (-3%), financial and professional lines (-7%), dan cyber (-8%).
Untuk Indonesia, salah satu poin pasar yang telah terverifikasi adalah bahwa tarif professional liability tetap stabil pada kuartal II/2026, sementara di sebagian besar pasar Asia justru mengalami penurunan.
Secara regional, kapasitas asuransi yang masih longgar dan kompetisi yang kuat membuka peluang bagi klien di Indonesia untuk meninjau kembali struktur program, limit, retensi, dan wording polis saat renewal.
Marsh menilai pasar saat ini juga semakin memberikan apresiasi kepada risiko yang dikelola dengan baik, terutama bagi klien yang dapat menunjukkan governance yang kuat, rekam jejak klaim yang baik, dan kontrol risiko yang solid.
Sementara itu, cyber tetap menjadi area yang penting untuk dicermati. Kompetisi meningkat dan kapasitas di Asia terus membaik, tetapi insurer juga semakin berhati-hati terhadap eksposur terkait AI dan systemic cyber risk.
Bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia, ini menjadi momentum yang tepat untuk meninjau kembali ketahanan siber, governance, dan kecukupan perlindungan asuransi, bersamaan dengan optimasi program asuransi secara keseluruhan.
Secara umum, menurut Marsh, kondisi pasar saat ini bukan hanya soal penurunan premi, tetapi juga tentang bagaimana klien di Indonesia dapat memperoleh nilai yang lebih baik dan perlindungan yang lebih kuat.
(ach/ach)