MARKET DATA

Daftar Gubernur BI, Perry Warjiyo Satu-Satunya Menjabat 2 Periode

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
27 July 2026 10:45
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Januari 2025 dengan Cakupan Triwulanan pada Rabu (15/1/2025). (REUTERS/Willy Kurniawan)
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Januari 2025 dengan Cakupan Triwulanan pada Rabu (15/1/2025). (REUTERS/Willy Kurniawan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya sejak Sabtu (25/7/2026). Surat pengunduran diri tersebut telah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.

Dalam penjelasan resminya, BI menyebut Perry mengundurkan diri secara sukarela karena alasan pribadi.

"Pengunduran diri Saudara Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia secara sukarela karena alasan pribadi," dikutip Senin (27/7/2026).

Sesuai Pasal 48 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, sebagaimana terakhir diubah melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, Dewan Gubernur BI menggelar rapat pada Minggu (26/7/2026).

Dalam rapat tersebut, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti ditetapkan sebagai pejabat Gubernur BI sementara sesuai Pasal 50 ayat (2) UU BI.

Dewan Gubernur BI memastikan pelaksanaan tugas dan wewenang bank sentral akan tetap berjalan, mulai dari menjaga stabilitas nilai rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran, hingga turut menjaga stabilitas sistem keuangan.

BI juga menegaskan akan tetap mengutamakan tata kelola kelembagaan yang baik dan profesional serta terus bersinergi dan berkoordinasi dengan pemerintah dalam menjalankan tugas masing-masing.

Pengunduran diri Perry Warjiyo menutup kepemimpinannya di Bank Indonesia yang telah berlangsung selama lebih dari delapan tahun sejak 2018.

Jika ditarik ke belakang, sejarah Bank Indonesia dimulai pada 1 Juli 1953. Saat itu, De Javasche Bank (DJB) resmi bertransformasi menjadi Bank Indonesia setelah pemerintah melakukan nasionalisasi dengan membeli sekitar 97% saham DJB.

Perubahan tersebut diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1953 tentang Pokok Bank Indonesia yang menggantikan De Javasche Bank Wet 1922. Sejak saat itu, Bank Indonesia resmi berdiri sebagai bank sentral Republik Indonesia.

Sjafruddin Prawiranegara kemudian menjadi Gubernur Bank Indonesia pertama setelah Indonesia merdeka. Sebelumnya, ia juga memimpin De Javasche Bank sejak 1951 hingga lembaga tersebut berubah menjadi Bank Indonesia pada 1953.

Perry merupakan satu-satunya gubernur BI di Era Reformasi yang menjabat dua periode dan terlama yakni 8 tahun, 3 bulan, dan 8 hari. Dia pertama kali dilantik pada 16 April 2018.

Namun, gubernur BI terlama yang memangku jabatan adalah Rachmat Saleh yang menjabat pada 1973-1983.

Sejak resmi berdiri, Bank Indonesia telah dipimpin oleh 16 gubernur definitif. Berikut daftarnya:

Dalam perjalanannya, posisi Gubernur BI juga sempat diisi oleh pejabat sementara. Miranda Goeltom menjalankan tugas tersebut pada Mei-Juli 2009 setelah Boediono mengundurkan diri untuk maju sebagai calon wakil presiden.

Setelah itu, Darmin Nasution menjadi pelaksana tugas sejak Juli 2009 sebelum resmi dilantik sebagai Gubernur BI pada September 2010.

Kini, posisi tersebut untuk sementara dipegang oleh Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri. Destry akan menjalankan tugas sebagai pejabat Gubernur BI sementara hingga ditetapkannya gubernur yang baru.

Dari Krisis Pandemi hingga QRIS, Jejak Perry Warjiyo Pimpin BI Dua Periode

"Pekerjaan bank sentral adalah khawatir." Kalimat yang pernah diucapkan mantan Wakil Ketua Federal Reserve era 1990-an Alice Rivlin itu kembali relevan setelah pandemi Covid-19 mengguncang ekonomi dunia. Inflasi melonjak, harga pangan dan energi meroket akibat perang serta ketegangan geopolitik, sementara bank-bank sentral dipaksa mengambil langkah luar biasa demi menjaga stabilitas ekonomi.

Perry Warjiyo ditunjuk dan menjalankan jabatan dalam dua periode tersebut.

Nama Perry pertama kali diusulkan sebagai gubernur BI pada Februari 2018 oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Nama dia kembali diusulkan Jokowi pada 2023 sebagai gubernur BI.

Pelantikan gubernur BI Perry Warjiyo di MA, Jakarta, Kamis (24/5). Perry Warjiyo telah lulus uji kepatuhan dan kelayakan (fit proper test) menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI).  Perry menggantikan Agus Martowardojo  sebagai calon tunggal gubernur BI. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Pelantikan gubernur BI Perry Warjiyo di MA, Jakarta, Kamis (24/5). Perry Warjiyo telah lulus uji kepatuhan dan kelayakan (fit proper test) menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI). Perry menggantikan Agus Martowardojo sebagai calon tunggal gubernur BI. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian dan pasca pandemi saat itu, Perry ditunjuk sebagai calon tunggal Gubernur BI untuk periode 2023-2028, melanjutkan masa jabatan pertamanya yang dimulai pada 2018.

Saat itu, Jokowi menilai koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter di bawah kepemimpinan Perry berjalan baik. Dalam kondisi dunia yang masih dibayangi krisis, Presiden menegaskan pemerintah tidak ingin mengambil risiko dengan mengganti nakhoda bank sentral.

Keputusan tersebut kemudian mendapat persetujuan DPR melalui uji kelayakan dan kepatutan pada Maret 2023. Perry resmi dilantik kembali pada 24 Mei 2023, menjadikannya gubernur BI pertama di era reformasi yang dipercaya memimpin selama dua periode berturut-turut.

Rekam Jejak Panjang di Bank Indonesia

Lahir di Sukoharjo pada 1959, Perry Warjiyo merupakan ekonom lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang kemudian melanjutkan pendidikan Master dan Ph.D di Iowa State University, Amerika Serikat.

Kariernya di Bank Indonesia dimulai pada 1984. Selama hampir empat dekade, Perry menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari bidang riset ekonomi, kebijakan moneter, makroprudensial, pengelolaan devisa, hingga hubungan internasional.

Sebelum menjadi Gubernur BI, Perry menjabat Deputi Gubernur BI periode 2013-2018. Ia juga sempat menjadi Direktur Eksekutif International Monetary Fund (IMF) mewakili 13 negara anggota South-East Asia Voting Group.

Mewariskan Instrumen Baru

Pada periode keduanya, Perry tidak hanya fokus menjaga stabilitas rupiah dan inflasi. BI juga memperkenalkan berbagai instrumen baru untuk memperdalam pasar keuangan domestik.

Beberapa instrumen yang diluncurkan antara lain:

  • Term Deposit (TD) Valas, untuk menampung devisa hasil ekspor (DHE).
  • Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik arus modal asing sekaligus memperkuat pendalaman pasar uang.
  • Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI).
  • Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI) sebagai instrumen baru untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan pasar valas domestik.

Instrumen-instrumen tersebut menjadi bagian dari strategi BI memperluas pilihan investasi sekaligus menjaga likuiditas sistem keuangan di tengah tingginya gejolak global.

Mendorong Rupiah Mendunia

Tak hanya memperkuat kebijakan moneter, Perry juga mendorong internasionalisasi sistem pembayaran Indonesia.

Di bawah kepemimpinannya, implementasi QRIS Cross Border mulai berjalan dengan sejumlah negara di Asia, termasuk Thailand, Malaysia, Singapura, dan kemudian diperluas ke negara lain. Warga Indonesia dapat bertransaksi di luar negeri menggunakan QRIS tanpa harus menukarkan uang tunai.

Bank Indonesia juga memperluas kerja sama Local Currency Transaction (LCT) dengan berbagai bank sentral, termasuk Korea Selatan, Jepang, China, Malaysia, Thailand, dan Singapura. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan dan investasi antarnegara.

Menjaga Stabilitas di Tengah Ketidakpastian

Selama dua periode kepemimpinannya, Perry menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pandemi Covid-19, lonjakan inflasi global, gejolak nilai tukar, hingga fragmentasi ekonomi dunia.

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia terus berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas harga, stabilitas nilai tukar rupiah, pendalaman pasar keuangan, dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular