Menanti Efek 'Salaman Erat' Purbaya & Bos BI Selamatkan Rupiah
Jakarta, CNBC Indonesia-Salaman erat Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo pada akhir pekan lalu diharapkan berpengaruh pada pergerakan nilai tukar rupiah pada hari ini, Senin (8/6/2026)
Konsolidasi yang diinisiasi oleh Wakil Ketua DPR dari Fraksi Gerakan Indonesia Raya Sufmi Dasco Ahmad tersebut ingin menunjukkan sinergi fiskal dan moneter yang katanya erat menjadi semakin erat lagi.
"Pada hari ini DPR sengaja berkumpul dengan teman-teman dari lembaga otoritas moneter maupun kebijakan fiskal serta dari pihak pemerintah untuk mengadakan evaluasi mengenai perkembangan ekonomi," ujar Dasco dalam konferensi pers saat itu.
Secara lebih spesifik, ekonomi yang dimaksud adalah nilai tukar rupiah. Sejak awal tahun rupiah melemah 7,5%, semakin jauh dari level fundamentalnya. Pekan lalu menjadi krusial, karena dalam waktu singkat dolar Amerika Serikat (AS) sudah bertengger di level Rp18.000.
Rupiah masuk dalam indikator utama perekonomian. Pergerakan rupiah sangat berpengaruh terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), investasi, ekspor dan impor serta konsumsi masyarakat. Maka dari itu, menahan pelemahan rupiah turut menyelamatkan masyarakat Indonesia.
Dasco Kumpulkan Menkeu Sampai Bos BI Bahas Nasib Rupiah. (Dokumentasi Tim Media Pimpinan DPR) Foto: Dasco Kumpulkan Menkeu Sampai Bos BI Bahas Nasib Rupiah. (Dokumentasi Tim Media Pimpinan DPR) |
Kembali ke pertemuan mendadak itu. Ini disebut sebagai langkah untuk mempererat hubungan, bukan sebagai dua instansi yang saling ribut, egois dan tidak mau bekerjasama sehingga membuat investor bingung regulator mau apa sebenarnya. Tentu bukan.
Seperti yang disampaikan Perry dalam konferensi pers bahwa penguatan kerja sama sangat dibutuhkan. "Penguatan koordinasi fiskal-moneter yang sudah kuat selama ini sekarang diperkuat dan secara berkesinambungan terus akan diperkuat saling mendukung."
"Dalam perjalanannya tentu kita akan meningkatkan juga koordinasi dengan bank sentral. Kita akan mendukung bank sentral, memperkuat koordinasi supaya kebijakan semakin sinkron, supaya dampak kebijakan antara moneter dan fiskal lebih signifikan ke perekonomian," kata Purbaya pada kesempatan yang sama.
Salah satu yang disepakati dalam rapat itu adalah komitmen otoritas fiskal dan moneter fokus dalam tugasnya.
Purbaya dalam tugasnya hanya akan berfokus pada kebijakan fiskal, salah satunya pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Defisit APBN dalam posisi aman dengan capaian Rp180,4 triliun atau 0,70 % dari PDB. Pendapatan negara Rp 1.185 triliun dan belanja negara mencapai Rp 1.365,4 triliun hingga akhir Mei 2026. Adapun, keseimbangan primer tercatat surplus sebesar Rp58,6 triliun.
Sementara BI akan berfokus pada sisi rupiah. Salah satu yang dilakukan sebelumnya menaikkan suku bunga acuan (BI rate) menjadi 5,25% dan tetap intervensi agar pelemahan rupiah dapat diredam.
"Agar masing-masing mengoptimalkan perannya dalam menahkodai bidang masing-masing baik moneter dan fiskal dan saling medukung upaya meningkatkan kepercayaan investor baik asing dan dalam negeri kepada pengelolaan perekkonomian Indonesia dan mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah," jelas Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Mohamad Hekal dalam konferensi pers usai pertemuan.
Kemudian ada permintaan agar kas pemerintah kembali dikelola oleh BI. BI siap memberikan bunga yang lebih tinggi kepada pemerintah. Atas kebijakan tersebut, BI memastikan tidak akan mengganggu operasi fiskal oleh pemerintah.
Potensi Rupiah Kembali Menguat
"Menurut saya, pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur BI di DPR dapat memberi pengaruh positif terhadap pergerakan rupiah pada Senin 8 Juni 2026, tetapi pengaruhnya kemungkinan lebih bersifat menahan tekanan, bukan langsung membalikkan arah secara kuat," kata Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede kepada CNBC Indonesia.
Dasco Kumpulkan Menkeu Sampai Bos BI Bahas Nasib Rupiah. (Dokumentasi Tim Media Pimpinan DPR) Foto: Dasco Kumpulkan Menkeu Sampai Bos BI Bahas Nasib Rupiah. (Dokumentasi Tim Media Pimpinan DPR) |
Pelemahan rupiah tidak hanya disebabkan oleh sentimen global dan kekhawatiran situasi di dalam negeri. Besarnya permintaan di dalam negeri juga menjadi pemicu, antara lain pembelian bahan bakar minyak, musim haji dan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan swasta serta pembagian dividen.
Menurutnya, komitmen untuk memperkuat koordinasi, menjaga daya tarik imbal hasil aset rupiah, dan memastikan ketersediaan likuiditas bisa membantu meredakan kekhawatiran jangka pendek. "Namun, penguatan rupiah tetap sangat bergantung pada apakah komitmen tersebut segera diikuti langkah nyata, bukan hanya pernyataan bersama," tegasnya.
Josua menilai arah ke depan dalam kerangka pengetatan likuiditas. BI sudah menaikkan suku bunga acuan (BI rate) menjadi 5,25%. Kemudian kas pemerintah akan dikelola BI. Artinya dana yang selama ini ditempatkan ke perbankan untuk mendorong kredit akan kembali lagi ke BI.
"Saya melihatnya sebagai sinyal pengetatan yang halus. Maksudnya, BI tidak selalu harus menaikkan suku bunga acuan lagi untuk memberi sinyal tegas ke pasar," ujarnya
Risiko yang kemudian harus dipantau adalah sisi perbankan dan sektor rill. Josua menyampaikan pengetatan likuiditas yang terlalu cepat dapat menaikkan biaya dana bank, menahan penurunan bunga kredit, dan memperlambat pembiayaan ke dunia usaha.
"Karena itu, langkah ini harus sangat terukur. BI perlu menjaga agar sinyal pengetatan tidak berubah menjadi tekanan berlebihan terhadap kredit, konsumsi, dan investasi."
(mij/mij) Addsource on Google

