Fenomena Tak Terduga! Gen Z Pria Kini Lebih Religius dari Perempuan
Jakarta, CNBCÂ Indonesia - Selama puluhan tahun, perempuan hampir selalu lebih religius dibanding laki-laki. Namun, pola itu mulai berubah di Generasi Z Australia.
Analisis terhadap 27.478 responden dalam Australian Election Study (AES) menunjukkan laki-laki Gen Z kini lebih mungkin mengidentifikasi diri memiliki agama dibanding perempuan seusianya.
Temuan tersebut berasal dari analisis data AES yang dikumpulkan sepanjang 1987 hingga 2025. Penelitian membandingkan enam generasi, mulai dari war generation yang lahir pada 1920-an hingga Generasi Z yang lahir setelah 1994.
Di hampir seluruh generasi sebelumnya, polanya konsisten. Perempuan lebih banyak mengaku memiliki afiliasi agama dibanding laki-laki. Meski tingkat religiusitas sama-sama menurun dari generasi ke generasi, perempuan tetap berada di atas laki-laki.
Namun, Generasi Z menunjukkan arah berbeda.
Dalam survei 2025, 55,7% laki-laki Gen Z menyatakan memiliki afiliasi agama. Angka itu lebih tinggi dibanding 43,2% perempuan Gen Z.
Perubahan tersebut juga tidak muncul dalam satu tahun saja. Afiliasi agama pada laki-laki Gen Z meningkat dari 35,3% pada 2019, menjadi 49,1% pada 2022, lalu mencapai 55,7% pada 2025. Sebaliknya, pada generasi milenial, pola lama masih bertahan. Pada survei 2025, 46,2% perempuan Gen Y memiliki afiliasi agama, dibanding 40,3% laki-laki Gen Y.
Peneliti juga menguji apakah pola tersebut dipengaruhi faktor lain, seperti orientasi politik, tempat tinggal, status perkawinan, hingga negara kelahiran orang tua. Hasilnya tetap menunjukkan kecenderungan yang sama, meski ukuran sampel Gen Z lebih kecil dibanding generasi sebelumnya.
Tidak Terjadi di Semua Negara
Jepang, Thailand, China, India, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat juga menunjukan pola yang serupa. Meski konteks sosial dan keagamaannya berbeda, laporan dari berbagai negara tersebut memiliki satu benang merah, yakni meningkatnya ketertarikan sebagian anak muda terhadap agama yang dalam banyak kasus lebih terlihat pada laki-laki muda.
Meski demikian, bukti paling kuat dalam artikel ini tetap berasal dari Australia karena didukung analisis data jangka panjang AES. Karena itu, temuan tersebut sebaiknya dipahami sebagai perubahan yang sedang diamati pada sejumlah negara, bukan sebagai tren global yang sudah pasti terjadi di semua tempat.
Apa yang Berubah?
Data AES menunjukkan perubahan itu tidak berdiri sendiri. Setelah memasukkan faktor seperti orientasi politik, status perkawinan, negara kelahiran orang tua, hingga tempat tinggal, perbedaan religiusitas antara laki-laki dan perempuan Gen Z tetap terlihat.
Analisis lanjutan mengindikasikan orientasi politik menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan perubahan tersebut. Kelompok yang paling religius masih didominasi warga Australia berusia lebih tua dengan kecenderungan politik kanan, terutama perempuan dari generasi war generation dan builders.
Sebaliknya, kelompok dengan tingkat afiliasi agama terendah ditemukan pada responden muda yang mengidentifikasi diri berada di spektrum kiri. Di antara seluruh kelompok yang dianalisis, perempuan Gen Z dengan orientasi politik kiri menjadi yang paling kecil kemungkinannya memiliki afiliasi agama.
Ini sejalan dengan kecenderungan yang mulai dibahas dalam berbagai studi di negara demokrasi. Dalam beberapa tahun terakhir, perempuan muda cenderung bergerak ke arah politik yang lebih progresif, sementara sebagian laki-laki muda menunjukkan kecenderungan yang lebih konservatif. Menurut penulis, perubahan religiusitas pada Gen Z kemungkinan menjadi bagian dari pergeseran politik yang lebih luas tersebut.
Namun, pola itu tidak berlaku merata pada semua generasi. Pada kelompok usia yang lebih tua, perempuan tetap tercatat lebih religius dibanding laki-laki, terlepas dari preferensi politik mereka. Perbedaan baru benar-benar terlihat pada Generasi Z, terutama di kalangan responden yang berada di spektrum politik kiri.
Bukan Berarti Gen Z Lebih Religius
Temuan ini juga tidak berarti Generasi Z secara keseluruhan menjadi lebih religius dibanding generasi sebelumnya.
Justru sebaliknya, data AES menunjukkan afiliasi agama di Australia terus menurun dari generasi ke generasi. Warga Australia yang lebih tua masih jauh lebih mungkin mengidentifikasi diri memiliki agama dibanding kelompok usia yang lebih muda.
Perubahan yang diamati penelitian ini berada pada arah yang berbeda. Yang bergeser bukan tingkat religiusitas seluruh Generasi Z, melainkan pola perbedaan antara laki-laki dan perempuan di dalam generasi tersebut.
Â
Menurut peneliti, perubahan tersebut kemungkinan lebih berkaitan dengan identitas sosial daripada praktik keagamaan.
Dalam artikelnya, ia mengemukakan bahwa agama dapat menjadi ruang untuk memperoleh rasa memiliki, tujuan hidup, dan komunitas, terutama bagi sebagian laki-laki muda yang menghadapi ketidakpastian ekonomi maupun perubahan peran sosial.
Di sisi lain, media sosial disebut ikut mengubah cara anak muda berinteraksi dengan agama. Konten dari influencer, podcast, hingga komunitas daring membuat agama lebih mudah diakses tanpa harus selalu melalui institusi keagamaan formal.
Pada saat yang sama, penulis mencatat perempuan Gen Z juga cenderung lebih progresif dibanding generasi sebelumnya, sehingga hubungan mereka terhadap afiliasi agama berkembang dengan arah yang berbeda.
Walau belum bisa digeneralisasi ke semua negara, riset ini memberi gambaran bahwa perubahan identitas generasi muda tidak hanya tercermin dalam pilihan politik atau gaya hidup, tetapi juga dalam cara mereka memandang agama dan rasa memiliki terhadap sebuah komunitas.
source on Google