Warga RI Ramai-Ramai Timbun Dolar, Deposito Valas Meledak 42%
Jakarta, CNBC Indonesia - Masyarakat Indonesia semakin gemar menabung dolar di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dn pelemahan rupiah.
Nilai simpanan valuta asing (valas) di perbankan Indonesia meningkat tajam pada Juni 2026. Pertumbuhannya bahkan hampir tiga kali lebih cepat dibandingkan simpanan dalam mata uang rupiah.
Bank Indonesia (BI) mencatat total dana pihak ketiga (DPK) pada Juni 2026 mencapai Rp9.718,8 triliun, tumbuh 8,1% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 10,8% yoy.
Meski pertumbuhan DPK secara keseluruhan melambat, terdapat perbedaan cukup lebar antara simpanan rupiah dan valas.
DPK rupiah tercatat sebesar Rp8.112,5 triliun atau tumbuh 6,3% yoy. Sementara itu, DPK valas melesat 18,5% menjadi Rp1.606,2 triliun.
Posisi DPK valas pada Juni 2025 masih sebesar Rp1.355,3 triliun. Dengan demikian, nilai simpanan valas di perbankan bertambah Rp250,9 triliun dalam setahun.
Sebagai perbandingan, DPK rupiah bertambah Rp479,5 triliun dari Rp7.633 triliun pada Juni 2025. Meski kenaikan nominalnya lebih besar, persentase pertumbuhannya jauh di bawah simpanan valas karena basis simpanan rupiah juga lebih tinggi.
Tabungan Valas Tumbuh Empat Kali Lebih Cepat
Pertumbuhan tinggi juga terlihat pada tabungan valas. Posisi tabungan valas mencapai Rp261,7 triliun pada Juni 2026, naik 27,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp205,3 triliun.
Dalam setahun, tabungan valas bertambah sekitar Rp56,4 triliun.
Pertumbuhannya sekitar empat kali lebih cepat dibandingkan tabungan rupiah yang hanya tumbuh 6,8% (yoy).
Tabungan rupiah meningkat dari Rp2.748,7 triliun pada Juni 2025 menjadi Rp2.935,7 triliun pada Juni 2026. Secara nominal, tabungan rupiah bertambah Rp187 triliun dalam setahun.
Meski masih tumbuh tinggi, pertumbuhan tabungan valas sedikit melambat dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 29,9% (yoy). Tabungan rupiah juga melambat dari 8,7% menjadi 6,8%.
Perbedaan juga terlihat pada simpanan giro. Giro valas hanya tumbuh 6% menjadi Rp850,2 triliun, sedangkan giro rupiah meningkat 11,8% menjadi Rp2.237,7 triliun.
Deposito Valas Melonjak 42%
Lonjakan paling besar terjadi pada simpanan berjangka atau deposito dalam bentuk valas.
BI mencatat deposito valas mencapai Rp494,3 triliun pada Juni 2026, melesat 42% dibandingkan Juni 2025 yang sebesar Rp348,1 triliun. Dalam setahun, nilainya bertambah Rp146,2 triliun.
Kondisi tersebut berbeda jauh dengan deposito rupiah yang hanya tumbuh 1,9%, dari Rp2.883 triliun menjadi Rp2.939,1 triliun.
Dari kenaikan total DPK valas sebesar Rp250,9 triliun sepanjang setahun terakhir, sekitar Rp146,2 triliun atau lebih dari separuhnya berasal dari deposito valas.
Kenaikan deposito valas semakin terlihat dalam pergerakan bulanan. Dibandingkan Mei 2026, deposito valas bertambah Rp43,3 triliun atau sekitar 9,6%.
Pada periode yang sama, giro valas justru turun Rp23 triliun, sedangkan tabungan valas hanya bertambah Rp800 miliar. Secara keseluruhan, DPK valas meningkat Rp21,1 triliun dalam sebulan.
Pergerakan tersebut memperlihatkan adanya perubahan komposisi simpanan valas. Penempatan dana pada giro berkurang, sementara dana yang masuk ke deposito meningkat tajam.
Lonjakan deposito juga terjadi bersamaan dengan kenaikan suku bunga simpanan berjangka di perbankan secara umum.
Rata-rata tertimbang suku bunga deposito tenor satu bulan naik dari 4,28% pada Mei menjadi 4,77% pada Juni 2026. Bunga deposito tiga bulan meningkat dari 4,73% menjadi 5,03%, sedangkan tenor enam bulan naik dari 4,65% menjadi 4,95%.
Kenaikan paling tinggi terjadi pada deposito tenor 12 bulan, dari 4,50% menjadi 5,44% hanya dalam satu bulan.
Ada Efek Pelemahan Rupiah
Meski pertumbuhan simpanan valas tercatat tinggi, terdapat satu hal yang perlu diperhatikan. BI menyajikan posisi simpanan valas dalam nilai rupiah.
Ketika rupiah melemah terhadap mata uang asing, nilai simpanan valas yang dikonversikan ke rupiah otomatis meningkat, meskipun jumlah valas yang tersimpan tidak berubah sebesar kenaikan dalam rupiah.
Karena itu, pertumbuhan tabungan valas sebesar 27,5% dan deposito valas sebesar 42% kemungkinan turut dipengaruhi oleh perubahan nilai tukar.
CNCB INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google