MARKET DATA

Rupiah Melemah, Warga RI Malah Ramai-Ramai Nabung Dolar

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
25 June 2026 14:15
Simpanan Dollar Masyarakat RI
Foto: Infografis/Simpanan Dolar/Edward Ricardo

Jakarta, CNBC Indonesia - Tabungan dana pihak ketiga (DPK) perbankan dalam bentuk valuta asing atau valas tumbuh cukup kencang. Kenaikannya bahkan jauh lebih agresif dibandingkan tabungan dalam bentuk rupiah.

Melansir dari laporan uang beredar oleh Bank Indonesia pada Mei 2026, tabungan rupiah masih menjadi yang paling besar jika dilihat dari sisi nominal. Pada Mei 2026, tabungan rupiah di perbankan tercatat sebesar Rp2.904,2 triliun. Angka ini memang masih sangat besar, tetapi sedikit turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar Rp2.914,6 triliun.

Kondisi sebaliknya terlihat pada tabungan dalam bentuk valas. Pada periode yang sama, tabungan valas tercatat sebesar Rp260,9 triliun. Nilainya naik cukup besar dibandingkan April 2026 yang sebesar Rp246,1 triliun.

Artinya, dalam sebulan saja, tabungan valas bertambah sekitar Rp14,8 triliun. Kenaikan ini terjadi saat tabungan rupiah justru turun sekitar Rp10 triliun pada periode yang sama.

Jika dilihat sejak awal tahun, kenaikan tabungan valas juga terlihat sangat konsisten. Pada Januari 2026, tabungan valas masih sebesar Rp218,6 triliun. Setelah itu naik menjadi Rp219 triliun pada Februari, melonjak ke Rp242,9 triliun pada Maret, lalu kembali naik menjadi Rp246,1 triliun pada April dan Rp260,9 triliun pada Mei. 

Secara year-to-date (ytd), tabungan DPK di perbankan dalam bentuk valas telah meningkat Rp51,8 triliun.

Dengan begitu, tabungan valas terus bertambah dari bulan ke bulan sepanjang 2026. Ini menunjukkan bahwa simpanan masyarakat dan pelaku usaha dalam bentuk mata uang asing semakin tebal.

Pertumbuhan Tabungan Valas Jauh Lebih Kencang

Gambaran yang lebih jelas terlihat dari laju pertumbuhannya secara tahunan.

Pada Mei 2026, tabungan rupiah tumbuh 7,3% yoy. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang sebesar 6,6% yoy.

Namun, pertumbuhan tabungan valas jauh lebih kencang. Pada Mei 2026, tabungan valas melesat 29,9% yoy. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam periode data yang tersedia.

Kenaikan tabungan valas juga bukan terjadi sekali saja. Sejak awal 2026, pertumbuhannya terus berada di level dua digit. Pada Januari 2026, tabungan valas tumbuh 14,4% yoy. Lalu naik menjadi 14,5% yoy pada Februari, melonjak ke 25,1% yoy pada Maret, bertahan tinggi di 23,5% yoy pada April, dan kembali naik menjadi 29,9% yoy pada Mei.

Sementara itu, pertumbuhan tabungan rupiah bergerak lebih naik turun. Pada Januari 2026, tabungan rupiah sempat tumbuh tinggi 17% yoy. Namun pada Februari, pertumbuhannya justru minus 1,4% yoy. Setelah itu, pertumbuhannya kembali positif, tetapi belum sekencang tabungan valas.

Pada Maret 2026, tabungan rupiah hanya tumbuh 0,2% yoy. Kemudian naik menjadi 6,6% yoy pada April dan 7,3% yoy pada Mei.

Dari sini terlihat bahwa tabungan valas sedang tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan tabungan rupiah.

Rupiah Tertekan, Dolar AS Makin Jadi Pilihan

Kencangnya pertumbuhan tabungan valas tidak lepas dari kondisi rupiah yang dalam beberapa waktu terakhir berada di bawah tekanan dolar Amerika Serikat.

Tekanan terhadap rupiah sudah terasa sejak 2025 dan berlanjut hingga 2026. Dalam kondisi seperti ini, sebagian masyarakat maupun pelaku usaha biasanya menjadi lebih berhati-hati dalam menyimpan dana.

Sebagai catatan, melansir Refinitiv, sepanjang 2025 rupiah melemah 3,6% terhadap dolar AS. Kondisi ini membuat kinerja rupiah tertinggal dibandingkan mata uang sejumlah negara tetangga.

Pada periode yang sama, ringgit Malaysia, dolar Singapura, dan baht Thailand justru mampu menguat terhadap dolar AS. Ringgit mencatat penguatan paling kencang, yakni 9,22% sepanjang 2025.

Sementara itu, dolar Singapura menguat 5,84%, sedangkan baht Thailand naik 8,11% terhadap dolar AS sepanjang tahun lalu.

Perbedaan arah ini membuat tekanan terhadap rupiah menjadi lebih terasa. Di tengah kondisi tersebut, wajar jika sebagian masyarakat maupun pelaku usaha mulai lebih melirik simpanan dalam bentuk valas, terutama dolar AS.

Bagi sebagian orang, menyimpan uang dalam bentuk dolar AS bisa dianggap lebih aman ketika rupiah sedang melemah. Dolar AS juga sering dipilih karena dianggap lebih stabil saat pasar keuangan global sedang bergejolak.

Selain itu, ada juga kebutuhan praktis. Pelaku usaha yang banyak melakukan impor, memiliki kewajiban dalam mata uang asing, atau sering bertransaksi dengan luar negeri tentu membutuhkan dana dalam bentuk valas. Begitu juga masyarakat yang membutuhkan dolar AS untuk pendidikan, perjalanan, atau kebutuhan lain di luar negeri.

Faktor lain yang ikut berpengaruh adalah cara pencatatan data. Karena tabungan valas ini dihitung dalam rupiah, pelemahan rupiah terhadap dolar AS dapat membuat nilai tabungan valas terlihat lebih besar saat dikonversi ke rupiah.

Jadi, kenaikan tabungan valas bisa berasal dari dua hal. Pertama, memang ada tambahan simpanan dalam mata uang asing. Kedua, nilai valas tersebut ikut terdorong ketika rupiah melemah.

Kondisi ini membuat tabungan valas tumbuh sangat cepat dalam beberapa bulan terakhir. Di sisi lain, tabungan rupiah masih besar, tetapi pertumbuhannya tidak sekencang valas. Minat terhadap simpanan valas tampak semakin kuat di tengah tekanan rupiah terhadap dolar AS.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular