Era Tol Berakhir, Emiten Konstruksi Berebut Proyek Baru, Siapa Juara?
Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja emiten di sektor tersebut masih terbelah. Sejumlah kontraktor mulai mencatat pemulihan laba dan peningkatan perolehan kontrak baru, sementara sebagian lainnya masih bergulat dengan kerugian besar serta penurunan pendapatan.
Perbedaan kinerja terlihat dari PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL), dan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA).
Data keuangan menggunakan laporan konsolidasian terbaru yang tersedia per 22 Juli 2026.
PTPP dan WSKT telah menerbitkan laporan semester I-2026, sedangkan empat emiten lainnya masih menggunakan laporan kuartal I-2026. Khusus kontrak baru, batas data dikunci maksimal 31 Maret 2026.
Pendapatan Emiten Kontraktor
Angka berikut merupakan pendapatan konsolidasian dalam laporan laba rugi. Karena itu, nilainya dapat berbeda dari angka "pendapatan produksi" dalam presentasi perusahaan yang kadang memasukkan porsi kerja sama operasi atau joint operation.
Laba Pemilik Entitas Induk
Tabel ini tidak memakai laba bersih konsolidasian secara umum, melainkan laba atau rugi yang secara khusus dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.
Dari sisi kualitas laba, TOTL paling konsisten. Laba 2025 naik 56,1% menjadi Rp414,3 miliar dan kembali tumbuh 37,3% pada kuartal I-2026. NRCA juga tetap membukukan laba, meskipun laba kuartal I-2026 turun sekitar 5%.
Angka 2024 ADHI dan PTPP menggunakan angka komparatif yang telah disajikan kembali dalam laporan audit 2025. ADHI berubah dari laba Rp252,5 miliar menjadi rugi Rp86,8 miliar, sedangkan PTPP berubah dari laba Rp415,7 miliar menjadi rugi Rp1,52 triliun.
Angka semester I-2025 WSKT juga menggunakan angka komparatif terbaru, yakni rugi Rp2.309,5 miliar
Jenis Konstruksi Dominan dan Proyek Terbesarnya
Agar tidak mencampur proyek yang berbeda jenis, analisis dibagi menjadi dua tabel. Tabel pertama menunjukkan satu jenis konstruksi yang paling dominan. Tabel kedua hanya mengambil proyek besar yang masih berada dalam jenis konstruksi tersebut.
Perlu dicatat, perusahaan tidak menyajikan komposisinya dengan basis yang seragam. ADHI, PTPP, dan WSKT menggunakan komposisi nilai kontrak baru; WIKA dan TOTL menggunakan komposisi pendapatan sedangkan NRCA tidak mengungkap persentase nilai sehingga dihitung berdasarkan jumlah proyek utama yang disebutkan perusahaan.
DHI paling banyak mengantongi kontrak pekerjaan gedung, sebesar 43% dari kontrak baru 2025. Porsi tersebut lebih besar daripada sumber daya air sebesar 15% dan jalan-jembatan 14%.
Pada PTPP, kategori resmi building and residential menyumbang 40% kontrak baru sampai Maret 2026. Karena perusahaan tidak memisahkan persentase gedung dan hunian, angka 40% tidak boleh diklaim sebagai gedung perkantoran murni.
WIKA memperoleh pendapatan Rp6,25 triliun dari segmen gabungan infrastruktur dan gedung pada 2025, setara sekitar 46,9% pendapatan konsolidasian. Karena laporan WIKA tidak memisahkan persentase infrastruktur dan gedung, jenis yang dipilih adalah infrastruktur berdasarkan profil proyek besar di dalam segmen tersebut.
WSKT paling banyak memperoleh kontrak konektivitas, yakni 46% dari kontrak kuartal I-2026. Posisi berikutnya ditempati infrastruktur air sebesar 33,9% dan gedung hanya 6,3%.
TOTL berbeda. Berdasarkan komposisi pendapatan proyek 2025, kategori terbesar adalah utilities sebesar 29%, disusul industri dan hotel masing-masing 21%. Dalam portofolio TOTL, data center ditempatkan sebagai proyek utilities.
NRCA tidak mengumumkan persentase kontrak berdasarkan jenis proyek. Namun, dari 21 proyek utama 2025 yang dicantumkan SSIA, 20 di antaranya berupa gedung atau pekerjaan struktur. Artinya, sekitar 95,2% secara frekuensi-bukan berdasarkan nilai kontrak.
Total Kontrak Baru Kumulatif
Angka kontrak kuartalan merupakan nilai year-to-date atau YTD. Artinya, nilai 1Q, 1H, 9M, dan pada tahun yang sama tidak boleh langsung dijumlahkan karena proyeknya saling tumpang tindih.
Tren Menguat: TOTL, NRCA, ADHI, PTPP dan WSKT
TOTL memiliki tren fundamental paling solid. Pendapatan 2025 naik 26,4% dan laba pemilik induk melesat 56,1%. Pada kuartal I-2026, pendapatan memang turun tipis 1,1%, tetapi laba masih tumbuh 37,3%. Catatannya, kontrak baru Maret 2026 sebesar Rp1,50 triliun lebih rendah sekitar 24,2% dibandingkan Rp1,98 triliun pada periode sama tahun lalu.
NRCA juga relatif sehat. Pendapatan 2025 tumbuh 7,1% dan laba melonjak sekitar 115%. Kuartal I-2026 sedikit melemah, dengan pendapatan turun 5,8% dan laba turun 5%. Namun, kontrak baru naik sekitar 29,5% menjadi Rp893,5 miliar, memberikan bantalan untuk pendapatan berikutnya.
ADHI memperlihatkan pemulihan tajam pada kuartal I-2026. Laba mencapai Rp154,1 miliar dibandingkan hanya Rp0,3 miliar pada kuartal I-2025. Kontrak baru naik 131,5% menjadi Rp4,72 triliun, walaupun pendapatan masih turun tipis 1,1%. Pemulihan ini tetap perlu dibaca hati-hati karena ADHI baru mencatat rugi Rp5,40 triliun pada 2025.
PTPP mulai pulih dari sisi laba. Laba semester I-2026 meningkat 196,5% menjadi Rp193,5 miliar. Namun, pendapatan turun 11,2% dan kontrak baru Maret turun sekitar 25,2%. Jadi, tren PTPP menguat pada profitabilitas jangka pendek, tetapi belum pada pertumbuhan pendapatan dan kontrak.
WSKT menunjukkan perbaikan operasional, meskipun belum keluar dari kerugian. Pendapatan semester I-2026 naik 58,5%, sementara kerugian berkurang sekitar 17% menjadi Rp1,92 triliun. Dengan kata lain, arahnya membaik, tetapi level kerugiannya masih sangat besar.
Tren Memburuk: WIKA Paling Tertekan
WIKA menjadi emiten dengan tren paling negatif. Pendapatan 2025 turun 30,8% menjadi Rp13,33 triliun, sedangkan kerugian pemilik induk membengkak menjadi Rp9,71 triliun.
Tekanan berlanjut pada kuartal I-2026. Pendapatan kembali turun 16,3% dan kerugian melebar 45,7% menjadi Rp1,14 triliun.
Sisi positifnya, kontrak baru WIKA naik 17,2% menjadi Rp2,53 triliun hingga Maret 2026. Namun, kenaikan kontrak tersebut belum tercermin pada pendapatan maupun laba. WIKA perlu membuktikan bahwa kontrak baru dapat dieksekusi dengan margin positif dan tidak kembali menghasilkan pembengkakan biaya.
Sebagai catatan, WIKA sedang menjalani restrukturisasi keuangan menyeluruh dengan pendampingan PPA dan dukungan Danantara Asset Management sebagai pemegang saham.
Program tersebut mencakup penataan utang, divestasi aset non-inti, penguatan likuiditas, dan efisiensi operasional. Dukungan Danantara tersebut bukan jaminan pendanaan ataupun kepastian suntikan modal.
Secara keseluruhan, TOTL menjadi emiten dengan kualitas tren terbaik, disusul NRCA. ADHI, PTPP, dan WSKT sedang berada dalam fase pemulihan dengan risiko yang masih tinggi.
Adapun WIKA masih menghadapi tekanan paling berat. Klasifikasi ini merupakan pembacaan tren operasional dan keuangan, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Addsource on Google