Kelas Masih Frontier, Bursa Saham Vietnam Sudah Terbang 22%
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham Vietnam sedang memasuki periode penting. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, kebangkitan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO), serta kenaikan klasifikasi FTSE membuat negara tersebut semakin diperhitungkan dalam peta equity capital market Asia.
Pada 30 Juni 2026, kapitalisasi gabungan Ho Chi Minh Stock Exchange (HOSE), Hanoi Stock Exchange (HNX) dan UPCoM hampir mencapai VND10.600 triliun atau sekitar US$405 miliar. Sebagai perbandingan, kapitalisasi bursa saham Indonesia ada di US$ 571 miliar atau sekitar Rp 10.328 trililiun.
HOSE menjadi pusat aktivitas dengan kapitalisasi lebih dari VND8.765 triliun. Sementara itu, UPCoM memiliki kapitalisasi sekitar VND1.300 triliun dan HNX mendekati VND500 triliun.
Sepanjang tahun ini, bursa utama Hanoi (HNX) melonjak 22%. Bandingkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang jatuh 31%.
Padahal, posisi dan rating bursa saham Indonesia ataupun Indonesia secara keseluruhan lebih baik dari Vietnam.
Indeks Melonjak, tetapi Pasar Terkonsentrasi
VN-Index ditutup pada level 1.860,01 pada akhir Juni 2026. Setelah melonjak 40,87% sepanjang 2025, indeks masih bertambah sekitar 4,2% pada semester I-2026.
Valuasi VN-Index berada pada trailing price-to-earnings ratio sekitar 15,1 kali. Level tersebut menunjukkan Vietnam tidak lagi dapat disebut murah secara merata setelah reli kuat tahun sebelumnya.
Pergerakan indeks juga sangat terkonsentrasi. Kapitalisasi gabungan Vingroup dan Vinhomes melampaui VND2.300 triliun atau lebih dari seperlima kapitalisasi seluruh pasar. Keduanya menyumbang lebih dari 70% penambahan kapitalisasi pasar Vietnam selama semester I-2026.
Kondisi itu membuat VN-Index bisa menguat meskipun pergerakan mayoritas saham tidak sekuat indeks. Selain kelompok Vingroup, arah pasar banyak ditentukan bank besar seperti Vietcombank, BIDV, VietinBank dan Techcombank.
Investor Domestik Menahan Tekanan Asing
Rata-rata nilai transaksi saham di HOSE mencapai VND18.419 miliar per hari pada Juni 2026, turun 24,34% dibandingkan Mei. Namun, rata-rata nilai transaksi gabungan tiga papan sepanjang semester I-2026 masih meningkat sekitar 36% secara tahunan.
Likuiditas tersebut terutama ditopang investor domestik. Sebaliknya, investor asing membukukan penjualan bersih sekitar VND14.904 miliar di HOSE selama Juni. Untuk keseluruhan semester I-2026, foreign net sell pada tiga papan diperkirakan mencapai US$3,1 miliar.
Arus keluar memperlihatkan bahwa status emerging market belum otomatis menghasilkan dana masuk. Investor global masih mempertimbangkan risiko nilai tukar, batas kepemilikan asing, rendahnya free float serta konsentrasi indeks.
IPO Kembali, FTSE Beri Katalis Baru
Pasar IPO Vietnam mulai bangkit pada 2025 dengan dana dihimpun lebih dari VND35.000 miliar. Pada 2026, nilai rencana IPO dan penerbitan saham diperkirakan mencapai VND289.500 miliar atau US$11,13 miliar.
Namun, angka tersebut bukan realisasi IPO semata. Nilainya mencakup rights issue, private placement dan penerbitan saham lainnya. Sekitar 70% rencana itu belum dieksekusi hingga akhir Mei 2026. Adapun pipeline khusus IPO diperkirakan sekitar US$861,5 juta.
Katalis terbesarnya datang dari FTSE Russell. Vietnam dipastikan naik dari Frontier menjadi Secondary Emerging Market efektif 21 September 2026. Meski demikian, MSCI masih mempertahankan Vietnam sebagai Frontier Market karena persoalan foreign ownership, akses valuta asing, free float dan keterbukaan informasi.
Berikut adalah perusahaan dengan market cap terbesar di Vietnam:
Bursa Saham Digerakkan Investor Lokal
Secara historis, pasar saham Vietnam lebih banyak digerakkan oleh investor domestik ketimbang investor asing. Meski demikian, pergerakan dana asing tetap menjadi salah satu penentu sentimen, likuiditas, hingga valuasi saham-saham unggulan di Negeri Naga Biru.
Data hingga awal 2026 menunjukkan kepemilikan investor asing hanya sekitar 14,5% dari total saham beredar di bursa Vietnam. Bahkan pada 2025, investor asing mencatat arus keluar bersih (net outflow) sekitar US$5,1 miliar, terbesar dalam sejarah. Menariknya, di tengah derasnya aksi jual tersebut, VN-Index justru melesat sekitar 41%.
Dominasi investor lokal juga terlihat dari aktivitas perdagangan harian. Kontribusi transaksi investor asing hanya berkisar 10-15% dari total nilai perdagangan.
Rinciannya, pada Februari 2026 transaksi asing mencapai 15,24% dari total nilai perdagangan, kemudian turun menjadi 12,89% pada April dan 11,47% pada Mei. Artinya, sekitar 85-90% transaksi di bursa Vietnam berasal dari investor domestik.
Meski porsinya relatif kecil, dana asing tetap memiliki pengaruh besar terhadap pasar.
Salah satu alasannya, investor asing umumnya berinvestasi pada saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip), seperti sektor perbankan, properti, konsumer, hingga teknologi. Akibatnya, arus masuk maupun keluar dana asing kerap menentukan arah pergerakan saham-saham unggulan.
Â
Selain itu, aktivitas investor asing juga menjadi barometer kepercayaan global terhadap ekonomi Vietnam. Ketika dana asing mengalir masuk, pasar menilai prospek ekonomi Vietnam semakin positif. Sebaliknya, aksi jual asing sering memicu tekanan psikologis meski investor domestik masih mendominasi transaksi.
Peran asing juga semakin penting karena Vietnam tengah bersiap naik kelas dari frontier market menjadi secondary emerging market versi FTSE Russell. Jika status tersebut terealisasi, Vietnam berpotensi menerima aliran dana pasif (passive funds) global senilai miliaran dolar AS.
Kenapa Saham Tetap Melaju Meski Asing Jualan?
Kondisi inilah yang membuat pasar saham Vietnam berbeda dari banyak negara berkembang lainnya.
Pada 2025, VN-Index tetap mencetak kenaikan sekitar 41% meski investor asing melakukan aksi jual bersih dalam jumlah terbesar sepanjang sejarah.
Kenaikan tersebut ditopang oleh beberapa faktor, yakni:
- Investor ritel domestik yang sangat aktif.
- Pertumbuhan ekonomi Vietnam yang mencapai sekitar 8%.
- Optimisme kenaikan status pasar oleh FTSE Russell.
- Reli saham-saham kapitalisasi besar, terutama kelompok Vingroup.
Ekonomi Kuat Menjadi Fondasi
Ekonomi Vietnam tumbuh 8,39% secara tahunan pada kuartal II-2026, membawa pertumbuhan semester I menjadi 8,18%. Produksi industri meningkat 10,8%, sementara realisasi investasi asing langsung mencapai US$13,03 miliar.
Vietnam juga menawarkan tarif pajak korporasi standar 20%. Proyek tertentu di bidang teknologi tinggi, infrastruktur, perangkat lunak dan energi terbarukan dapat memperoleh tarif 10% selama 15 tahun.
Namun, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis tercermin penuh di bursa. Banyak eksportir besar merupakan anak usaha perusahaan asing yang tidak tercatat di Vietnam. Dampaknya lebih banyak mengalir secara tidak langsung kepada bank, kawasan industri, logistik, energi dan konsumsi.
Dengan demikian, Vietnam dapat digambarkan sebagai pasar besar yang sedang naik kelas, tetapi belum sepenuhnya matang. Peluangnya terletak pada pertumbuhan dan reformasi, sedangkan risikonya berada pada konsentrasi indeks, akses asing dan kualitas tata kelola yang belum merata.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Addsource on Google