MARKET DATA
Newsletter

Hujan Kabar Buruk! Perang Membara Lagi, IMF Pangkas Outlook, Fed Galak

mae,  CNBC Indonesia
09 July 2026 06:35
ilustrasi trading
Foto: Pixabay
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup di zona merah pada perdagangan kemarin. Bursa saham dan rupiah jatuh berjamaah.
  • Wall Street
  • Risalah FOMC, data ekonomi dan perkembangan terbaru kebijakan ekonomi dalam dan luar negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ditutup di zona merah pada perdagangan kemarin. Bursa saham dan rupiah jatuh berjamaah.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi tekanan berat pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentiment pasar keuangan Indonesia hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk hampir 2% pada perdagangan Rabu (8/7/2026), sekaligus mengakhiri reli enam hari beruntun. Aksi jual terjadi setelah pelaku pasar mencerna peringatan dari S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) yang memasukkan Indonesia ke dalam daftar pantauan (Watchlist) 2027.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup di level 5.873,37 atau merosot 113,12 poin (1,89%) dibandingkan penutupan sebelumnya di 5.986,50.

Aktivitas perdagangan terbilang ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp10,55 triliun.

Sebanyak 22,70 miliar saham diperdagangkan dalam 1,97 juta transaksi.

Dari seluruh saham yang diperdagangkan, hanya 191 saham menguat, sementara 482 saham melemah dan 116 saham bergerak stagnan.

Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 689,33 miliar.

Tekanan terjadi hampir di seluruh sektor, dengan pelemahan terdalam berasal dari sektor barang baku, properti, dan konsumer.

Saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia dan PT Bank Rakyat Indoensia (BBRI) menjadi kontributor utama penekan IHSG.

Di sisi lain, PT Telkom Indonesia (TLKM) dan PT United Tractor (UNTR) membantu menahan pelemahan agar tidak lebih dalam.

 

Sentimen negatif utama datang dari keputusan S&P DJI yang kembali mempertahankan Indonesia sebagai pasar berkembang (Emerging Market), namun sekaligus memasukkan Indonesia ke dalam Country Classification 2026/2027 Watchlist.

Masuknya Indonesia ke dalam Watchlist 2027 membuka peluang perubahan klasifikasi pada tinjauan tahunan tahun depan.

Jika berbagai persoalan di pasar modal domestik tidak segera dibenahi, Indonesia berpotensi diturunkan dari kategori Emerging Market menjadi Special Measures/Frontier Market.

S&P DJI menyoroti persoalan transparansi kepemilikan saham sebagai perhatian utama. Minimnya keterbukaan struktur kepemilikan dinilai berdampak pada likuiditas pasar serta mengurangi keandalan mekanisme pembentukan harga saham.

Lembaga indeks global tersebut juga mencatat kekhawatiran investor institusi internasional terhadap dugaan pola perdagangan yang terkoordinasi.

Kondisi tersebut membuat investor asing kesulitan mengukur besaran free float yang sebenarnya sekaligus menimbulkan keraguan apakah harga saham di Bursa Efek Indonesia benar-benar mencerminkan mekanisme pasar yang wajar dan efisien.

Dari pasar mata uang, rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (8/7/2026). Di tengah meningkatnya eskalasi perang di Timur Tengah.
Merujuk data Refinitiv, nilai tukar rupiah berakhir di zona merah dengan terkoreksi 0,11% ke level Rp17.990/US$. Di perdagangan intraday, rupiah bahkan semoat menembus RP 18.000/US$1.


Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,07% ke level 100,952.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melonjak ke 7,258% pada perdagangan kemarin, dari 7,183% pada hari sebelumnya.

Imbal hasil yang naik menandai harga SBN yang tengah jeblok karena dijual investor.

Dari pasar saham AS, buesa Wall Street ditutup beragam dengan mayoritas melemah tajam pada Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Bursa jeblok setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam KTT NATO di Turki bahwa gencatan senjata dengan Iran telah berakhir di tengah kembali memanasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 576,76 poin atau 1,09% ke posisi 52.348,39. Sementara itu, S&P 500 turun 0,28% dan ditutup di level 7.482,71. Berbeda dengan dua indeks lainnya, Nasdaq Composite justru menguat 0,2% ke posisi 25.870,65.

Harga minyak juga melonjak. Kontrak berjangka Brent ditutup naik 5,43% menjadi US$78,19 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 4,37% ke US$73,52 per barel.

 

"Saya pikir semuanya sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi. Mereka itu sampah," kata Trump, dikutip dari CNBC International.

Beberapa saat kemudian, Trump kembali mengancam akan menyerang Iran, dengan mengatakan bahwa kami akan menghantam mereka dengan keras malam ini.

Pernyataan Trump muncul setelah Amerika Serikat melancarkan apa yang disebut sebagai serangkaian serangan besar terhadap Iran pada Selasa sebagai balasan atas serangan terhadap tiga kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Berbicara kepada wartawan dalam KTT NATO di Ankara, Turki, pada Rabu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan serangan AS tersebut "benar-benar diperlukan."

"Ketika ada gencatan senjata dan Iran pada dasarnya melanggarnya, kita melihat apa yang terjadi kemarin dengan serangan terhadap kapal-kapal. Saya pikir sangat penting bagi AS untuk merespons dengan tegas," ujarnya.

Saham-saham sektor energi ikut menguat. Saham ConocoPhillips naik 2%, Chevron bertambah 1%, sementara Marathon Petroleum melonjak 5%.

Sebaliknya, saham-saham sektor konsumen yang berpotensi terdampak kenaikan harga energi mengalami tekanan. Saham Home Depot turun 2%, McDonald's melemah lebih dari 1%, dan Booking Holdings anjlok 4%.

Saham-saham produsen chip yang sehari sebelumnya tertekan mulai pulih. VanEck Semiconductor ETF (SMH) naik sekitar 2%, meski dana tersebut masih sekitar 12% di bawah level tertinggi terbarunya.

 

"Ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah telah menghentikan narasi pasar yang sebelumnya semakin percaya diri, sehingga mendorong investor mengevaluasi kembali risiko geopolitik setelah beberapa pekan mengasumsikan proses deeskalasi akan berjalan mulus," kata analis pasar senior Capital.com, Daniela Hathorn, dalam catatannya pada CNBC.

Dia menambahkan serangan terbaru mengingatkan investor bahwa meskipun gencatan senjata masih berlaku, tercapainya kesepakatan jangka panjang antara AS dan Iran masih jauh dari pasti.

Pasar sebelumnya merasa nyaman dengan anggapan bahwa konflik akan perlahan mereda, tetapi perkembangan terbaru menunjukkan asumsi tersebut mungkin terlalu dini.

Di sisi lain, risalah rapat Federal Reserve menunjukkan para pejabat bank sentral masih terbelah mengenai arah suku bunga karena membutuhkan lebih banyak kepastian terkait inflasi.

Risalah tersebut menyebutkan bahwa banyak peserta menilai tingkat suku bunga dana federal yang tepat akan berada di dalam atau sedikit di bawah kisaran target saat ini pada akhir tahun ini.

Namun, risalah itu juga mencatat bahwa banyak peserta lainnya menilai tingkat suku bunga yang tepat justru akan berada di atas kisaran target saat ini.

 Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih volatile pada hari ini. Sejumlah snetimen dari luar negeri diperkirakan akan menjadi pemberat bagi IHSG hingga rupiah. Di antaranya perang yang memanas hingga proyeksi baru ekonomi dunia.

1. Perang Memanas, AS Lancarkan Serangan

Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Rabu (8/7/2026) dengan target melemahkan kemampuan Teheran mengancam pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang pecah.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan tersebut merupakan balasan atas serangan terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz sehari sebelumnya. Presiden AS Donald Trump juga menegaskan kesepakatan sementara (memorandum of understanding) dengan Iran untuk mengakhiri konflik telah "berakhir" dan mengancam akan memberikan respons yang lebih keras jika serangan terhadap kapal kembali terjadi.

Seorang pejabat AS mengatakan gelombang serangan terbaru akan lebih besar dibandingkan operasi sehari sebelumnya.

Serangan tersebut mengguncang sejumlah kota di pesisir selatan Iran, termasuk Bandar Abbas, pelabuhan terbesar Iran, serta Konarak dan Chabahar yang mengalami pemadaman listrik dan kerusakan fasilitas maritim.

Sebagai respons, media pemerintah Iran melaporkan Teheran tengah menyiapkan serangan balasan besar terhadap pangkalan militer AS di kawasan.

Iran juga mempertimbangkan langkah-langkah lain, mulai dari keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), mengubah doktrin nuklir, hingga menutup Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran strategis dunia.

Eskalasi terbaru kembali memukul harapan tercapainya perdamaian permanen antara Washington dan Teheran. Ketegangan di Timur Tengah juga mendorong harga minyak dunia naik lebih dari US$1 per barel, dengan Brent diperdagangkan di kisaran US$79,28 per barel.

2. IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi Dunia, Bagaimana dengan RI?

Dana Moneter Internasional (IMF) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi 3%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 3,5% pada 2025.

Dikutip dari laporan terbaru, revisi ini mencerminkan dampak berkepanjangan dari perang di Timur Tengah, lonjakan harga energi, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang membebani prospek ekonomi dunia.

Dalam laporan terbaru World Economic Outlook (WEO) yang dirilis Rabu (8/7/2026), IMF menyebut konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi salah satu risiko terbesar bagi perekonomian global.

 

Perang yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada awal tahun memicu respons Teheran berupa penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia, serta serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan.

Meski demikian, IMF menilai dampak negatif konflik tersebut masih dapat diredam oleh pesatnya investasi di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan teknologi lainnya yang terus menopang aktivitas ekonomi global.

IMF memperkirakan inflasi global justru meningkat menjadi 4,7% pada 2026, lebih tinggi dibandingkan 4,1% pada 2025, seiring kenaikan tajam harga komoditas, terutama energi.

Dalam proyeksinya, IMF mengasumsikan harga minyak rata-rata berada di kisaran US$89 per barel, dengan harga energi saat ini sekitar 25% lebih tinggi dibandingkan sebelum perang pecah pada akhir Februari.

Lembaga tersebut juga berasumsi Selat Hormuz mulai kembali dibuka secara bertahap pada pertengahan Juli, dengan lalu lintas pelayaran diperkirakan kembali normal pada Maret 2027.

Meski prospek jangka pendek melemah, IMF masih memperkirakan ekonomi global mampu pulih pada 2027 dengan pertumbuhan mencapai 3,4%. Namun, angka tersebut tetap lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan 3,5% yang tercatat pada 2024 dan 2025.

Deputi Direktur Departemen Riset IMF, Petya Koeva Brooks, mengatakan dunia diperkirakan mengalami pola pemulihan berbentuk V-shape, yakni pertumbuhan melemah pada tahun ini sebelum kembali menguat pada tahun depan.

 

Meski demikian, IMF mengingatkan risiko global masih sangat tinggi. Eskalasi baru di Timur Tengah berpotensi kembali memicu lonjakan harga komoditas, memperketat kondisi keuangan global, menggerus ruang kebijakan pemerintah, hingga memperburuk ketahanan pangan di negara-negara berpendapatan rendah.

Secara regional, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah paling tajam, yakni menjadi hanya 0,7% pada 2026, turun 1,2 poin persentase dibandingkan proyeksi April lalu akibat dampak langsung perang.

Sementara itu, ekonomi Amerika Serikat diperkirakan tetap tumbuh 2,3% pada 2026, sedangkan proyeksi kawasan euro dipangkas menjadi 0,9%.

Untuk negara berkembang, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan menjadi 3,8% pada 2026. Sebaliknya, proyeksi ekonomi China direvisi naik menjadi 4,6%.

Untuk Indonesia, IMF tetap mempertahankan proyeksinya yakni bakal tumbuh 5,0% di 2026 dan 5,1% pada 2027.

3. Risalah FOMC

Pejabat Federal Reserve (The Fed) terbelah mengenai arah suku bunga pada rapat kebijakan bulan Juni, menunjukkan ketidakpastian yang masih tinggi terhadap prospek inflasi dan ekonomi Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dirilis Rabu atau Kamis dini hari Waktu Indonesia, sebagian pejabat menilai inflasi berpotensi mereda sehingga suku bunga dapat dipangkas.
Namun, kelompok lainnya memperkirakan tekanan harga masih akan bertahan sehingga suku bunga justru mungkin perlu dinaikkan.

Rapat yang digelar pada 16-17 Juni tersebut merupakan pertemuan pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh. Dalam rapat itu, bank sentral AS sepakat mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%, level yang telah dipertahankan sepanjang 2026.

Risalah menyebut banyak peserta memperkirakan suku bunga yang tepat pada akhir tahun akan berada di kisaran saat ini atau sedikit lebih rendah.
Namun banyak peserta lainnya justru menilai suku bunga seharusnya berada di atas level saat ini.

The Fed menegaskan keputusan selanjutnya akan sangat bergantung pada data ekonomi yang masuk, terutama perkembangan inflasi.

Menurut para pejabat, inflasi diperkirakan masih tinggi dalam jangka pendek akibat dampak tarif impor Presiden Donald Trump, perang dengan Iran, serta kenaikan harga energi.

Namun, tekanan tersebut diperkirakan akan berangsur mereda seiring memudarnya dampak tarif, normalisasi harga energi, dan pulihnya rantai pasok setelah gangguan di Selat Hormuz.

Meski demikian, mayoritas peserta rapat menilai risiko inflasi masih condong ke arah kenaikan.

Selain itu, risalah juga menyoroti meningkatnya permintaan terhadap infrastruktur artificial intelligence (AI) yang dinilai dapat terus mendorong kenaikan harga produk teknologi dan konsumsi listrik. Meski demikian, Warsh meyakini dalam jangka panjang AI justru akan membantu menekan inflasi melalui peningkatan produktivitas.

Dari sisi komunikasi, mayoritas pejabat mendukung penyederhanaan pernyataan kebijakan The Fed. Mereka sepakat bank sentral sebaiknya mengurangi pemberian sinyal mengenai arah kebijakan di masa depan (forward guidance) dan lebih berfokus pada data ekonomi yang akan datang.

4. Masyarakat RI Makin Pesimis?

Keyakinan konsumen Indonesia melemah pada Juni 2026. Meski masih berada di zona optimistis, hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan masyarakat mulai kurang percaya diri terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospeknya dalam enam bulan ke depan.

Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2026 berada di level 117,8, turun dari 120,9 pada Mei 2026. Meski masih berada di atas level 100 yang menandakan optimisme, penurunan ini mengindikasikan sentimen konsumen mulai kehilangan momentum.

Pelemahan terjadi pada dua komponen utama pembentuk IKK, yakni Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK).

IKE turun menjadi 109,2 dari 112,2 pada Mei. Indeks ini mencerminkan penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini dibandingkan enam bulan sebelumnya.

Sementara itu, IEK yang menggambarkan ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi enam bulan mendatang juga melemah menjadi 126,4, turun dari 129,7 pada bulan sebelumnya.

Meski keduanya masih berada di atas level 100, penurunan tersebut menunjukkan optimisme masyarakat mulai terkikis, baik terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospek ke depan.

Bahkan, level IEK sebesar 126,4 menjadi yang terendah sejak September 2022, ketika indeks tersebut berada di posisi 126,1, menandakan harapan masyarakat terhadap pemulihan ekonomi mulai meredup.

Dari sisi kondisi ekonomi saat ini, pelemahan terjadi di seluruh komponen penyusun IKE. Indeks penghasilan saat ini turun menjadi 119,8 dari 123,2 pada Mei. Indeks pembelian barang tahan lama juga melemah menjadi 105,9 dari 108,3, sejalan dengan menurunnya keyakinan masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja.

5. Laporan Penjualan Ritel, Daya Beli Warga RI Masih Tangguh atau Mulai Loyo?

Bank Indonesia (BI) akan merilis data Penjualan Ritel Mei 2026 pada hari ini Kamis (9/7/2026). Data ini menjadi sorotan karena dapat memberikan gambaran terbaru mengenai kekuatan konsumsi rumah tangga, mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

BI memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) Mei berada di level 225,0. Meski sedikit lebih rendah dibandingkan April yang mencapai 226,9, aktivitas belanja diperkirakan masih relatif terjaga setelah lonjakan konsumsi selama Ramadan dan Idulfitri mereda.

Secara bulanan, kontraksi penjualan diproyeksikan menyempit menjadi 0,9% (month-to-month/mtm) dari penurunan tajam 11,6% pada April. Perbaikan tersebut ditopang meningkatnya konsumsi masyarakat selama rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), seperti Waisak, Kenaikan Yesus Kristus, dan Iduladha.

Sementara secara tahunan, pertumbuhan penjualan diperkirakan masih didorong oleh meningkatnya penjualan suku cadang dan aksesori kendaraan bermotor, perlengkapan rumah tangga, serta kelompok barang lainnya.

Namun, perhatian pasar tidak hanya tertuju pada angka pertumbuhan. Data ini akan menjadi ujian terbaru bagi daya beli masyarakat, terutama setelah sejumlah indikator belakangan menunjukkan konsumsi mulai kehilangan tenaga di tengah suku bunga yang masih tinggi, pelemahan keyakinan konsumen, dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Jika realisasi penjualan ritel lebih lemah dari proyeksi, kekhawatiran bahwa konsumsi rumah tangga mulai melambat berpotensi semakin menguat. Sebaliknya, hasil yang lebih baik dari perkiraan akan menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat masih cukup tangguh menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

6. Inflasi China 

Hari ini, China akan merilis data inflasi Juni yang diperkirakan naik tipis menjadi 1,3% secara tahunan dari 1,2% pada Mei. Angka tersebut akan menjadi barometer kekuatan permintaan domestik ekonomi terbesar kedua di dunia.

Sebagai catatam inflasi China pada Mei 2026 tercatat 1,2% secara tahunan (year-on-year/yoy), tidak berubah dibandingkan April dan sedikit di bawah ekspektasi pasar sebesar 1,3%.
Secara bulanan (month-on-month/mom), CPI turun 0,1% pada Mei setelah meningkat 0,3% pada April.

7. BEI Sempurnakan Aturan Pemantauan Khusus

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menyiapkan penyempurnaan aturan Papan Pemantauan Khusus setelah mengevaluasi implementasi mekanisme Full Call Auction (FCA) yang berlaku sejak Maret 2024.

Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi mengatakan evaluasi dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pengawasan, kualitas pembentukan harga, efisiensi perdagangan, dan perlindungan investor.

Berdasarkan hasil evaluasi, BEI mengusulkan penghapusan kriteria 6, 7, dan 10, penyesuaian kriteria 11, serta perubahan mekanisme perdagangan, termasuk penerapan Auto Rejection yang lebih berjenjang dan Non-Cancellation Period pada Papan Pemantauan Khusus.

Menurut BEI, perubahan tersebut bertujuan menciptakan likuiditas yang lebih sehat, meningkatkan kualitas price discovery, serta meminimalkan praktik manipulasi perdagangan seperti spoofing.

Saat ini, usulan aturan tersebut masih berada dalam tahap Rule Making Rule (RMR) atau konsultasi publik bersama pelaku pasar sebelum ditetapkan menjadi peraturan resmi.

8. Proyek Sampah Jadi Listrik Resmi Dimulai

Indonesia melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia resmi memulai pembangunan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Denpasar Raya, Bali, yang ditandai dengan penandatanganan (PPA) sekaligus peresmian proyek pada Rabu (8/7/2026).

Pembangunan PSEL ini merupakan tindak lanjut dari terbitnya Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan Melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.

Kelak, proyek PSEL di Bali ini ditargetkan mampu mengolah lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun, atau lebih dari 40% timbulan sampah di Bali. Proyek ini juga diproyeksikan mampu mengurangi emisi dari tempat pemrosesan akhir (TPA) hingga 80% serta menekan emisi karbon sekitar 640 ribu ton C02 per tahun.


"Dari sisi energi inisiatif ini akan menghasilkan energi hijau yang dapat menyuplai kebutuhan sekitar 100 ribu rumah masyarakat Bali. Dan inisiatif ini bernilai 3 triliun, diperkirakan menciptakan 1.200 lapangan kerja hijau serta mengurangi kebutuhan lahan TPA sekitar 80%," terang Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir, Rabu (8/7/2026).

9. BI Perpanjang Relaksasi Kartu Kredit

Bank Indonesia (BI) memperpanjang kebijakan relaksasi tagihan kartu kredit sebagai bagian dari arah kebijakan yang tetap mendorong pertumbuhan ekonomi (pro growth).
Sebagai bagian dari bauran kebijakan pro-growth dalam Rapat Dewan Gubernur bulanan Juni 2026, Bank Indonesia memutuskan memperpanjang sejumlah ketentuan kartu kredit hingga 31 Desember 2026, dari yang semula berakhir pada 30 Juni 2026.


Adapun kebijakan yang diperpanjang meliputi, dua hal, yakni minimum pembayaran kartu kredit tetap 5% dari total tagihan dan denda keterlambatan tetap maksimal 1% dari total tagihan, dengan batas paling tinggi Rp100.000.

Menurut BI, dalam unggahan di media sosial Instagramnya, ada tiga manfaat kebijakan kartu kredit bagi masyarakat yang menjadi nasabah, yakni untuk menjaga arus kas rumah tangga, meringankan beban pembayaran, dan memberi fleksibilitas dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Melalui perpanjangan kebijakan kartu kredit, masyarakat memiliki ruang yang lebih fleksibel dalam aktivitas ekonomi," kata BI mengutip dari unggahannya di platform Instagram, Rabu (8/7/2026).

Selain itu, perpanjangan kebijakan kartu kredit menjadi salah satu langkah bank sentral untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

"Pertama, konsumsi rumah tangga terus bergerak. Kedua, aktivitas dunia usaha ikut tumbuh, Ketiga, perputaran ekonomi semakin kuat, dan pertumbuhan ekonomi menjadi lebih berkelanjutan," ungkap BI.

BI menilai kebijakan ini tidak hanya bermanfaat bagi pengguna kartu kredit, tetapi juga mendukung perekonomian secara lebih luas.

"Perpanjangan kebijakan kartu kredit menjadi salah satu langkah Bank Indonesia agar sobat rupiah bisa mengelola kartu kredit dengan lebih tenang dan terkendali," pungkas BI.

Berikut agenda ekonomi hari ini:

  • BI Merilis penjualan ritel edisi Mei 2026
  • China umumkan inflasi Juni 2026
  • Presiden menghadiri peluncuran program B50 di KM 57 Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat

  • Debut resmi BAIC T1 - langkah baru BAIC Indonesia menuju era elektrifikasi di BAIC Alam Sutera, Tangerang Selatan, Banten

  • Menteri Pertanian memimpin rapat koordinasi pengembangan PM-AAS di Auditorium Gedung F, Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta Selata

  • Pertemuan Penasehat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh dengan Menteri Ketenagakerjaan di kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta Selatan

  • Otoritas Jasa Keuangan akan menggelar Konferensi Pers Perkembangan Penyidikan

    dan Pengungkapan Hasil Penyitaan Aset Perkara Tindak Pidana di Sektor Jasa Keuangan di Lobi OJK, Gedung Sumitro Djojohadikusumo, Jakarta Pusa

  • Press Briefing Kemlu RI mengenai D-8 Halal Expo Indonesia (HEI) dan perkembangan kebijakan luar negeri serta sejumlah isu terkini di Ruang Palapa, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat.

Berikut agenda korporasi hari ini:
Tanggal akhir perdagangan waran pasar reguler dan negosiasi PT PT Gaya Abadi Sempurna Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Idea Indonesia Akademi Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk.
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Kawasan Industri Jababeka Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Tempo Scan Pacific Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Jayamas Medica Industri Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Bank Mestika Dharma Tbk.
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Tower Bersama Infrastructure Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Puradelta Lestari Tbk.
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Jasa Berdikari Logistics Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Puradelta Lestari Tbk.
RUPS PT Clipan Finance Indonesia Tbk

Berikut indikator ekonomi terbaru:


(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Siaga 1! Gejolak Drama MSCI & Gencatan Senjata Iran AS di Ujung Tanduk


Most Popular
Features