Mendidih! Jangan Kaget Kalau Harga Teh Makin Mahal
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga teh dunia kembali bergerak naik sepanjang 2026.
Berdasarkan Trading Economics, contract for difference (CFD) yang mengikuti harga acuan komoditas teh, harga mencapai rupee India (INR) 234,94 per kilogram pada 27 Juni 2026 atau sekitar Rp 44.168/kg.
Posisi tersebut naik 3,04% dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya. Dalam satu bulan terakhir, harga teh sudah meningkat 12,89%. Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, kenaikannya mencapai 14,09%.
Meski demikian, harga saat ini masih berada di bawah rekor tertinggi sepanjang sejarah sebesar INR 262,91/kg yang tercatat pada September 2020.
Kenaikan harian maupun bulanan tersebut belum mengubah gambaran pasar teh secara keseluruhan. Lembaga internasional masih memperkirakan harga teh bergerak lebih rendah sepanjang tahun ini karena pasokan dunia berada pada level yang cukup tinggi.
Harga Teh Dunia Foto: Trading Economics |
Dilansir dari laporan Commodity Markets Outlook Bank Dunia edisi April 2026, rata-rata harga teh dari tiga pusat lelang utama dunia mengalami penurunan pada kuartal II-2026 dibandingkan kuartal sebelumnya. Tiga lelang tersebut berada di Mombasa, Kenya; Kolkata, India; dan Colombo, Sri Lanka. Ketiganya menjadi acuan utama perdagangan teh internasional.
Harga di lelang Mombasa sempat turun sekitar 6% pada Mei. Setelah itu pasar kembali pulih dan bergerak relatif stabil. Sementara itu, harga di Kolkata dan Colombo terus melemah dalam dua bulan terakhir.
Perbedaan arah tersebut berkaitan dengan kondisi pasokan di masing-masing wilayah.
Produksi teh di Asia Selatan meningkat sehingga suplai global tetap terjaga. India bagian utara dan Bangladesh mencatat kenaikan produksi yang cukup besar pada musim panen tahun ini. Tambahan pasokan tersebut menutup kekhawatiran akibat cuaca yang kurang mendukung di beberapa negara produsen Afrika Timur.
Dengan stok yang masih memadai, pembeli memiliki ruang untuk menunda pembelian dalam jumlah besar. Kondisi ini membuat kenaikan harga sulit bertahan dalam jangka panjang meskipun sesekali muncul penguatan akibat faktor cuaca atau aktivitas perdagangan.
Faktor lain yang membebani pasar beras
al dari sisi konsumsi. Permintaan dari kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (Middle East and North Africa/MENAP) masih belum pulih sepenuhnya. Kawasan ini merupakan salah satu tujuan penting ekspor teh dunia sehingga perlambatan pembelian memberi tekanan terhadap harga di pasar internasional.
Atas dasar itu, Bank Dunia memperkirakan harga teh akan turun sekitar 2% sepanjang 2026. Proyeksi tersebut melanjutkan tren pelemahan setelah harga rata-rata sudah terkoreksi sekitar 4% pada 2025.
Prospek pasar diperkirakan membaik pada 2027 seiring normalisasi permintaan global. Kenaikan konsumsi diperkirakan akan membantu menyerap pasokan yang saat ini masih cukup besar sehingga tekanan terhadap harga mulai berkurang.
Meski demikian, risiko terhadap pasar teh belum sepenuhnya hilang. Salah satu perhatian utama berasal dari jalur perdagangan internasional di Selat Hormuz. Jika gangguan pelayaran berlangsung lebih lama dari perkiraan hingga melewati kuartal III-2026, arus distribusi ke negara-negara MENAP berpotensi terganggu.
Situasi tersebut dapat memperlambat aktivitas impor di kawasan tersebut dan memperpanjang lemahnya permintaan.
Dampaknya akan lebih terasa bagi negara-negara produsen Afrika Timur yang selama ini menjadikan kawasan MENAP sebagai salah satu pasar ekspor utama.
Dengan kondisi tersebut, pasar teh global pada 2026 diperkirakan masih bergerak dalam tekanan.
Kenaikan harga seperti yang terjadi pada akhir Juni lebih banyak dipengaruhi dinamika perdagangan jangka pendek, sementara arah fundamental masih ditentukan oleh besarnya pasokan dan lambatnya pemulihan permintaan global.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google
