MARKET DATA
Newsletter

Hujan Kabar Buruk! Perang Membara Lagi, IMF Pangkas Outlook, Fed Galak

mae,  CNBC Indonesia
09 July 2026 06:35
Ilustrasi Wall Street. (AP/Richard Drew)
Foto: (AP/Richard Drew)

Dari pasar saham AS, buesa Wall Street ditutup beragam dengan mayoritas melemah tajam pada Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Bursa jeblok setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam KTT NATO di Turki bahwa gencatan senjata dengan Iran telah berakhir di tengah kembali memanasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 576,76 poin atau 1,09% ke posisi 52.348,39. Sementara itu, S&P 500 turun 0,28% dan ditutup di level 7.482,71. Berbeda dengan dua indeks lainnya, Nasdaq Composite justru menguat 0,2% ke posisi 25.870,65.

Harga minyak juga melonjak. Kontrak berjangka Brent ditutup naik 5,43% menjadi US$78,19 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 4,37% ke US$73,52 per barel.

 

"Saya pikir semuanya sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi. Mereka itu sampah," kata Trump, dikutip dari CNBC International.

Beberapa saat kemudian, Trump kembali mengancam akan menyerang Iran, dengan mengatakan bahwa kami akan menghantam mereka dengan keras malam ini.

Pernyataan Trump muncul setelah Amerika Serikat melancarkan apa yang disebut sebagai serangkaian serangan besar terhadap Iran pada Selasa sebagai balasan atas serangan terhadap tiga kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Berbicara kepada wartawan dalam KTT NATO di Ankara, Turki, pada Rabu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan serangan AS tersebut "benar-benar diperlukan."

"Ketika ada gencatan senjata dan Iran pada dasarnya melanggarnya, kita melihat apa yang terjadi kemarin dengan serangan terhadap kapal-kapal. Saya pikir sangat penting bagi AS untuk merespons dengan tegas," ujarnya.

Saham-saham sektor energi ikut menguat. Saham ConocoPhillips naik 2%, Chevron bertambah 1%, sementara Marathon Petroleum melonjak 5%.

Sebaliknya, saham-saham sektor konsumen yang berpotensi terdampak kenaikan harga energi mengalami tekanan. Saham Home Depot turun 2%, McDonald's melemah lebih dari 1%, dan Booking Holdings anjlok 4%.

Saham-saham produsen chip yang sehari sebelumnya tertekan mulai pulih. VanEck Semiconductor ETF (SMH) naik sekitar 2%, meski dana tersebut masih sekitar 12% di bawah level tertinggi terbarunya.

 

"Ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah telah menghentikan narasi pasar yang sebelumnya semakin percaya diri, sehingga mendorong investor mengevaluasi kembali risiko geopolitik setelah beberapa pekan mengasumsikan proses deeskalasi akan berjalan mulus," kata analis pasar senior Capital.com, Daniela Hathorn, dalam catatannya pada CNBC.

Dia menambahkan serangan terbaru mengingatkan investor bahwa meskipun gencatan senjata masih berlaku, tercapainya kesepakatan jangka panjang antara AS dan Iran masih jauh dari pasti.

Pasar sebelumnya merasa nyaman dengan anggapan bahwa konflik akan perlahan mereda, tetapi perkembangan terbaru menunjukkan asumsi tersebut mungkin terlalu dini.

Di sisi lain, risalah rapat Federal Reserve menunjukkan para pejabat bank sentral masih terbelah mengenai arah suku bunga karena membutuhkan lebih banyak kepastian terkait inflasi.

Risalah tersebut menyebutkan bahwa banyak peserta menilai tingkat suku bunga dana federal yang tepat akan berada di dalam atau sedikit di bawah kisaran target saat ini pada akhir tahun ini.

Namun, risalah itu juga mencatat bahwa banyak peserta lainnya menilai tingkat suku bunga yang tepat justru akan berada di atas kisaran target saat ini.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features