AS Raja Ekspor Senjata Dunia: Termasuk ke RI, Setahun Pasok US$9,26 M
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) sedang merayakan 250 tahun kemerdekaannya pada Sabtu ini (4/7/2026), posisi negara itu sebagai kekuatan militer dunia masih sulit disaingi.
Salah satu cerminnya terlihat dari perdagangan senjata global. AS bukan hanya memiliki kekuatan militer besar, tetapi juga menjadi pemasok besar senjata ke banyak negara.
Mengutip Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), AS menjadi eksportir senjata terbesar dunia pada periode 2021-2025. Ekspor senjata AS bahkan naik 27% dibandingkan periode 2016-2020, sehingga pangsanya mencapai 42% dari total ekspor senjata global.
SIPRI juga mencatat AS mengekspor senjata ke 99 negara pada periode tersebut. Artinya, dominasi AS di sektor pertahanan tidak hanya terlihat dari kekuatan militernya, tetapi juga dari luasnya pasar senjata yang mereka kuasai.
Jejak dominasi itu juga terlihat dalam catatan perdagangan Indonesia. Impor senjata Indonesia dari AS melonjak tajam pada 2025, terutama untuk sejumlah produk yang mencakup senjata, amunisi, rudal, hingga komponen persenjataan.
Berdasarkan data Satu Data Kementerian Perdagangan, nilai impor Indonesia dari AS untuk lima kelompok Harmonized System (HS) terkait senjata mencapai US$12,31 miliar pada 2025. Angka tersebut melesat dibandingkan 2024 yang hanya sebesar US$41,98 juta.
Dengan nilai tersebut, impor senjata dari AS dalam lima kelompok HS tersebut naik hampir 293 kali lipat hanya dalam setahun.
Dominasi AS di pasar senjata global ikut terlihat dari catatan impor Indonesia. Dari lima kelompok HS yang dihimpun, nilai terbesar berasal dari amunisi, rudal, bom, granat, suku cadang, hingga pistol dan revolver.
Ekspor Senjata AS ke Indonesia
Kontribusi terbesar berasal dari HS 9306. Kelompok ini mencakup bombs, grenades, torpedoes, mines, missiles and similar munitions of war, termasuk amunisi, proyektil, serta bagian-bagiannya.
Nilai impor Indonesia dari AS untuk kelompok ini mencapai US$9,263 miliar pada 2025. Padahal pada 2024, nilainya baru sebesar US$10,84 juta.
Kenaikan besar berikutnya terlihat pada HS 9305. Kelompok ini mencakup parts and accessories of articles of headings 93.01 to 93.04, atau suku cadang dan aksesori untuk sejumlah jenis senjata.
Nilainya mencapai US$1,914 miliar pada 2025. Angka ini meningkat jauh dibandingkan 2024 yang hanya sebesar US$640.700.
Kenaikan pada kelompok ini menunjukkan bahwa impor dari AS tidak hanya berbentuk senjata atau amunisi jadi.
Kelompok lain yang mencatat kenaikan tajam adalah HS 9302, yakni revolvers and pistols.
Nilai impor Indonesia dari AS untuk kelompok ini mencapai US$1,118 miliar pada 2025. Pada 2024, nilainya hanya sebesar US$238.800.
Menariknya, kenaikan impor senjata dari AS tidak terjadi di semua kelompok.
HS 9301, yang mencakup military weapons selain revolver, pistol, dan senjata pada HS 9307, justru turun pada 2025.
Nilainya tercatat sebesar US$14,2 juta pada 2025, lebih rendah dibandingkan 2024 yang mencapai US$30,23 juta.
Sementara itu, HS 9304 yang mencakup other arms seperti spring, air or gas guns and pistols serta truncheons, naik dari US$34.000 pada 2024 menjadi US$134.100 pada 2025.
Jejak Panjang F-16 Buatan AS di Indonesia
Namun, data tersebut baru menggambarkan perdagangan senjata dalam kelompok HS tertentu. Hubungan alutsista Indonesia dan AS sebetulnya jauh lebih panjang, terutama lewat pesawat tempur F-16.
Indonesia mulai menerima F-16 dari AS pada Desember 1989 melalui program Peace Bima-Sena I. Pada pengadaan awal tersebut, Indonesia membeli 12 unit F-16A/B Block 15 OCU. Pesawat ini kemudian menjadi kekuatan Skadron Udara 3 yang bermarkas di Lanud Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur.
Kehadiran F-16 menjadi salah satu contoh bahwa hubungan pertahanan Indonesia-AS tidak hanya sebatas impor senjata, amunisi, atau suku cadang. Kerja sama itu juga menyentuh alutsista besar yang membutuhkan pelatihan penerbang, dukungan teknis, perawatan, hingga modernisasi dalam jangka panjang.
Jejak itu berlanjut pada periode berikutnya. AS juga pernah menghibahkan 24 pesawat F-16 kepada Indonesia melalui program Peace Bima-Sena II, yang kemudian ditingkatkan kemampuannya dan memperkuat Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi serta Skadron Udara 16 Lanud Roesmin Nurjadin.
Pesawat Kepresidenan yang membawa Presiden Prabowo Subianto dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta menuju Pangkalan Udara Adisutjipto, Kabupaten Sleman mendapat pengawalan udara dari Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara. (Dok. Sekretariat Presiden) Foto: Pesawat Kepresidenan yang membawa Presiden Prabowo Subianto dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta menuju Pangkalan Udara Adisutjipto, Kabupaten Sleman mendapat pengawalan udara dari Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara. (Dok. Sekretariat Presiden) |
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google
