Amerika Beri 'Kado' Jelang HUT ke-250, IHSG-Rupiah Bisa Senyum Bareng
Dari bursa saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall treet ditutup beragam pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup pada rekor tertinggi setelah investor merespons laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan. Sementara itu, Nasdaq Composite tertekan akibat aksi jual saham-saham semikonduktor.
Dow Jones melonjak 594,83 poin atau 1,14% dan ditutup di 52.900,07, sekaligus mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa. Indeks ini juga sempat menyentuh level intraday tertinggi baru di 52.903,85.
Sebaliknya, S&P 500 hanya naik tipis kurang dari satu poin ke 7.483,24, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,8% ke 25.832,67.
Tekanan terhadap Nasdaq dipicu pelemahan saham-saham semikonduktor untuk hari kedua berturut-turut.
ETF VanEck Semiconductor (SMH) anjlok 4,5%, dipimpin oleh penurunan saham Teradyne sebesar 13,6% dan KLA sebesar 11,5%. Saham Nvidia juga terkoreksi 1,4%, sementara Micron turun 5,5%.
Chief Investment Officer Savvy Wealth, Anshul Sharma, mengatakan pelemahan tersebut mencerminkan rotasi dana dari sektor yang selama beberapa bulan terakhir mengalami reli kuat.
"Ini berpotensi menjadi rotasi keluar dari sektor yang sangat panas dalam beberapa bulan terakhir menuju sektor lain. Saya juga melihat ada proses penilaian ulang terhadap tema investasi AI. Jika perusahaan semakin sensitif terhadap biaya komputasi, apakah itu akan menjadi fokus berikutnya?" ujarnya kepada CNBC International.
Meski demikian, ketiga indeks utama Wall Street tetap mencatat kenaikan sepanjang pekan perdagangan yang dipersingkat oleh libur nasional AS. S&P 500 naik 1,8%, sementara Dow Jones menguat hampir 2% dan Nasdaq bertambah 2,1%.
Data Tenaga Kerja Mengecewakan
Sentimen pasar dipengaruhi laporan ketenagakerjaan AS yang menunjukkan ekonomi hanya menambah 57.000 lapangan kerja pada Juni, jauh di bawah ekspektasi ekonom yang disurvei Dow Jones sebesar 115.000.
Di sisi lain, tingkat pengangguran justru turun menjadi 4,2%, lebih baik dibandingkan perkiraan pasar yang memproyeksikan tetap di 4,3%.
Setelah data dirilis, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun (Treasury 2-year) turun karena investor menilai Federal Reserve kemungkinan akan menunda kenaikan suku bunga dalam kondisi pasar tenaga kerja yang mulai melemah.
Portfolio Manager Janus Henderson Investors, Bradford Smith, mengatakan data tersebut mengurangi tekanan bagi bank sentral untuk segera menaikkan suku bunga.
"Seiring pasar mulai memahami pola kebijakan The Fed di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh, data ini mengurangi tekanan bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat," ujarnya.
Namun, Smith mengingatkan Warsh sebelumnya menyatakan bahwa data ketenagakerjaan baru benar-benar bermakna setelah revisi ketiga sehingga data awal sering kali hanya menjadi "gema sejarah". Menurutnya, dengan inflasi harga minyak yang mulai mereda dan pasar tenaga kerja yang menunjukkan pelemahan, The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga setidaknya hingga pertemuan berikutnya.
(emb/emb) Addsource on Google