MARKET DATA

RI Bisa Cuan Besar! Harga Beras, Teh Sampai CPO Dunia Naik Semua

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
01 July 2026 17:55
Pantauan harga komoditas pan
Foto: Pantauan harga komoditas pangan di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, Senin (2/2/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga komoditas pertanian dunia menutup semester pertama 2026 dengan arah yang beragam. Di tengah kekhawatiran terhadap cuaca, perubahan prospek produksi, serta dinamika pasokan global, beberapa komoditas mampu mencatat reli dua digit sejak awal tahun. Data Trading Economics hingga 1 Juli 2026 menunjukkan beras menjadi komoditas pertanian dengan kinerja terbaik sepanjang semester I, disusul wol, kanola, teh, dan kapas.

Berdasarkan data Trading Economics, harga beras telah menguat 33,61% secara year-to-date (YTD), tertinggi di antara komoditas pertanian utama dunia. Posisi berikutnya ditempati wol dengan kenaikan 26,09%, kanola 24,75%, teh 24,40%, kapas 20,54%, karet 17,79%, gandum 15,82%, minyak sawit mentah (CPO) 12,25%, rapeseed 11,47%, serta minyak bunga matahari 8,88%.

Reli beras berlangsung ketika pasar global mulai memperhitungkan dampak El Niño terhadap musim tanam 2026/2027. Melansir dari Trading Economics, kontrak beras sempat bergerak menuju US$13,3 per hundredweight, level tertinggi sejak Juni 2025, setelah muncul kekhawatiran gangguan produksi di sejumlah negara produsen Asia. International Grains Council (IGC) mempertahankan proyeksi produksi beras dunia sebesar 545 juta ton pada musim 2026/2027.

Angka tersebut sedikit di bawah rekor musim sebelumnya sebesar 546 juta ton. IGC juga mengingatkan bahwa El Niño berpotensi menekan produktivitas di Thailand serta sejumlah negara Asia lainnya. Di India, curah hujan monsun yang lebih lemah memunculkan kekhawatiran terhadap hasil panen, meski persediaan beras pemerintah masih berada pada level yang sangat tinggi, mencapai 68,43 juta ton per 1 Juni 2026.

Pergerakan Harga BerasPergerakan Harga Beras Foto: Trading Economics

Di luar beras, wol menjadi komoditas dengan kenaikan terbesar kedua sepanjang semester pertama. Harga wol naik 26,09% secara YTD dan melonjak sekitar 61% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan tersebut mengindikasikan permintaan yang tetap kuat terhadap serat alami di tengah pasokan yang masih terbatas. Meski begitu, harga wol masih berada di bawah rekor tertinggi yang pernah dicapai pada 2018.

Kanola menyusul dengan penguatan 24,75% sepanjang semester I-2026. Walaupun harga terkoreksi dalam satu bulan terakhir, kinerja sejak awal tahun tetap menjadi salah satu yang terbaik di kelompok biji-bijian minyak. Pergerakan ini mencerminkan ketatnya keseimbangan pasokan global di tengah tingginya kebutuhan bahan baku minyak nabati serta biofuel. Harga kanola hingga akhir Juni berada di kisaran 735 dolar Kanada per ton.

Kolase beras, Teh, Kanola. (Dok. Pexels)Kolase beras, Teh, Kanola. (Dok. Pexels) Foto: Kolase beras, Teh, Kanola. (Dok. Pexels)

Teh ikut mencatat performa impresif dengan kenaikan 24,40% secara YTD. Harga kontrak teh mencapai 228 rupee per kilogram pada akhir Juni dan masih bergerak lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Penguatan teh berlangsung ketika sejumlah wilayah produsen menghadapi tantangan cuaca yang memengaruhi produktivitas kebun, sementara konsumsi global tetap terjaga.

Kapas melengkapi lima besar komoditas pertanian dengan penguatan 20,54% sejak awal tahun. Harga kapas diperdagangkan di kisaran 77,4 sen AS per pon. Walaupun sempat melemah dalam sebulan terakhir, nilainya masih sekitar 13,6% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Pergerakan kapas banyak dipengaruhi ekspektasi permintaan industri tekstil global dan perkembangan produksi di negara-negara eksportir utama.

Komoditas lain juga masih membukukan kenaikan selama semester pertama, meski tidak sebesar lima besar tersebut. Harga karet naik 17,79% secara YTD, gandum 15,82%, CPO 12,25%, rapeseed 11,47%, minyak bunga matahari 8,88%, serta kedelai 8,81%. Di sisi lain, beberapa komoditas mengalami tekanan. Kopi turun 15%, kakao melemah 16,27%, sementara harga kentang anjlok lebih dari 78% sejak awal tahun.

Untuk karet, arah pergerakan harga dalam beberapa pekan terakhir mulai berubah. Melansir dari Trading Economics, kontrak karet sempat turun mendekati level terendah sejak April karena produksi di Thailand, Indonesia, dan Vietnam meningkat setelah berakhirnya musim gugur daun (wintering season). Cuaca yang lebih mendukung mempercepat penyadapan sehingga pasokan bertambah. Produksi karet sintetis yang meningkat turut menambah tekanan karena menyediakan alternatif bagi industri. Meski demikian, kenaikan harga minyak dunia setelah ketegangan Amerika Serikat dan Iran sempat memberikan penopang karena biaya produksi karet sintetis ikut meningkat.

Kinerja semester pertama memperlihatkan bahwa faktor cuaca kembali menjadi penentu utama pasar komoditas pertanian global. Risiko El Niño menjaga harga beras tetap tinggi, sementara perubahan pola produksi memengaruhi arah pergerakan komoditas lain. Memasuki paruh kedua 2026, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada perkembangan musim tanam di Asia, kondisi cuaca global, serta laporan produksi terbaru dari negara-negara pemasok utama.

CNBC Indonesia Research

(emb/wur) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular