China Bangun "Benteng Pangan", Banyak Negara Terancam!
Jakarta, CNBCÂ Indonesia-Â China mulai mempercepat agenda swasembada pangan di tengah ketidakpastian geopolitik dan ancaman gangguan rantai pasok global.
Fokus Beijing kini bergeser ke penguatan produksi domestik, mulai dari gandum, kedelai, hingga protein alternatif. Jika strategi ini berjalan penuh, eksportir pangan besar seperti Brasil dan Amerika Serikat berpotensi kehilangan salah satu pasar terbesarnya.
Melansir Financial Times selama lebih dari 20 tahun terakhir, China tumbuh menjadi pembeli terbesar komoditas pertanian dunia. Kedelai dari Brasil, jagung dari Amerika Serikat, hingga daging sapi dari berbagai negara masuk untuk memenuhi konsumsi domestik yang terus naik.
Foto: Ilustrasi petani China. (Dok. Freepik/Petr Pospichal) |
Â
Setelah bergabung ke WTO pada 2001, ketergantungan impor pangan China meningkat tajam. Pada awal 2020-an, sekitar sepertiga pasokan pangan negara itu berasal dari impor.
Bagi China, persoalannya bukan semata volume impor. Pemerintah melihat ketergantungan pangan sebagai risiko strategis.
Apalagi China memiliki keterbatasan lahan subur dan air. Per kapita, luas lahan pertanian China jauh di bawah Amerika Serikat. Kondisi itu membuat impor selama ini menjadi jalan tercepat untuk menjaga harga pangan tetap stabil.
Namun arah kebijakan mulai berubah sejak Xi Jinping menempatkan pangan sejajar dengan energi dan keuangan dalam agenda keamanan nasional. Ketika perang Rusia-Ukraina mengguncang rantai pasok global pada 2022, isu pangan makin sering muncul dalam pidato resmi pemerintah China. Kekhawatiran Beijing bertambah setelah konflik geopolitik membuat perdagangan global makin sulit diprediksi.
Pemerintah China mempercepat pengembangan pertanian pintar, membuka komersialisasi jagung dan kedelai hasil rekayasa genetika, serta mendorong riset protein alternatif. Dukungan negara mengalir lewat bank-bank milik pemerintah, perusahaan BUMN, hingga kebijakan pengadaan pangan domestik.
Fokus utama Beijing berada pada protein dan pakan ternak. Selama puluhan tahun, konsumsi daging masyarakat China naik sangat cepat seiring peningkatan pendapatan. Masalahnya, produksi daging bergantung pada impor pakan, terutama kedelai. Brasil dan AS menjadi pemasok utama. Ketergantungan inilah yang kini ingin ditekan.
Laporan Systemiq yang dikutip Financial Times memperkirakan permintaan kedelai China dapat turun signifikan sebelum 2030 apabila strategi substitusi berjalan agresif. Dampaknya besar bagi eksportir global. Brasil dan AS selama ini menikmati lonjakan permintaan dari pasar China. Penurunan impor berarti tekanan baru bagi harga komoditas pertanian dunia.
Skenario yang lebih panjang bahkan lebih agresif. China diperkirakan dapat menjadi eksportir bersih untuk produk unggas, susu, telur, hingga hasil perikanan pada 2040. Pada 2050, Beijing diperkirakan sudah masuk ke industri cultivated meat atau daging hasil kultur laboratorium dalam skala besar.
Bagi pasar global, perubahan ini berpotensi menggeser arus perdagangan pangan yang selama ini stabil sejak awal 2000-an. Negara eksportir akan mencari pasar baru ke Asia Selatan dan Afrika Sub-Sahara. Tantangannya terletak pada daya beli. Permintaan pangan besar belum otomatis berubah menjadi pasar yang mampu menyerap impor dalam jumlah tinggi.
Pangan kini diperlakukan sebagai instrumen kekuatan ekonomi. Polanya mirip dengan ekspansi industri kendaraan listrik dan energi baru.
Ketika negara masuk penuh lewat teknologi, pembiayaan, dan regulasi, dampaknya bisa meluas ke rantai pasok global. Untuk eksportir pangan dunia, fase berikutnya tampaknya tidak lagi semudah era ledakan impor China dua dekade terakhir.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google
Foto: Ilustrasi petani China. (Dok. Freepik/Petr Pospichal)