Alan Greenspan Wafat, Warisan Gelap-Terang Bos The Fed Terungkap
Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia kehilangan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah kebijakan moneter modern. Mantan Ketua Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat, Alan Greenspan, meninggal dunia pada Senin (22/6/2026) dalam usia 100 tahun.
Kepergian Greenspan tidak hanya mengingatkan pasar pada era kejayaan ekonomi Amerika Serikat pada 1990-an, tetapi juga membuka kembali perdebatan panjang mengenai independensi bank sentral dan hubungan yang rumit antara kebijakan moneter dan politik.
Nama Greenspan identik dengan salah satu periode paling gemilang dalam sejarah ekonomi AS. Di bawah kepemimpinannya, inflasi terkendali, pertumbuhan ekonomi melesat, pasar saham mengalami reli panjang, dan revolusi internet mulai mengubah wajah perekonomian global.
Namun warisannya tidak sepenuhnya tanpa cela.
Mengutip The Economist, akademisi Peter Conti-Brown menyebut Greenspan sebagai figur yang paling merepresentasikan kontradiksi Amerika pada dekade 1990-an. Ia menjadi simbol keberhasilan ekonomi sekaligus sosok yang kemudian dikritik karena terlalu mempercayai mekanisme pasar.
Selama hampir dua dekade memimpin The Fed, Greenspan dipuji karena menjaga stabilitas ekonomi. Namun ia juga dianggap ikut membuka jalan bagi pengambilan risiko berlebihan di sektor keuangan yang pada akhirnya berkontribusi terhadap krisis besar di kemudian hari. Dia banyak dikritik karena dinilai terlalu membiarkan pasar keuangan bergerak sangat bebas.
Di luar perdebatan soal kebijakan moneternya, terdapat satu warisan Greenspan yang masih relevan hingga hari ini: bagaimana seorang central banker menghadapi tekanan politik.
Pelajaran Pertama dari Greenspan adalah Keberanian
Setelah ditunjuk menjadi Ketua The Fed pada 1987, Greenspan melanjutkan fondasi yang sudah dibangun pendahulunya, Paul Volcker. Namun tidak lama setelah itu, dia langsung berhadapan dengan tokoh politik besar, yakni Wakil Presiden George H.W. Bush.
Saat itu, Bush merupakan calon kuat penerus Presiden Ronald Reagan.
Ketika kampanye pemilu 1988 mulai memanas, The Fed di bawah Greenspan justru menaikkan suku bunga. Alasannya, The Fed khawatir ekonomi AS mulai terlalu panas dan inflasi kembali naik. Keputusan itu jelas tidak disukai Bush.
Bush memang akhirnya menang mudah dalam pemilu 1988. Dia bahkan sempat mencatat tingkat persetujuan publik tertinggi dalam sejarah kepresidenan AS. Namun ketika ekonomi mulai melemah, posisi Bush yang sebelumnya terlihat sangat kuat mulai goyah.
Pada 1991, ketika popularitasnya sedang tinggi setelah Perang Teluk pertama, Bush meminta agar suku bunga segera diturunkan. Namun Greenspan tidak langsung mengikuti tekanan itu.
The Fed memang akhirnya memangkas suku bunga, tetapi dilakukan secara bertahap. Pemangkasan itu bahkan masih berlanjut hingga tahun pemilu 1992.
Bush kemudian menyalahkan The Fed atas kekalahannya dalam pemilu. Penilaian itu kemungkinan tidak sepenuhnya keliru.
Ketika Bill Clinton masuk Gedung Putih, posisi politik Greenspan justru semakin kuat. Pada 1995, Kepala Staf Gedung Putih sempat mengkritik The Fed secara terbuka karena suku bunga dianggap terlalu tinggi.
Namun Robert Rubin, penasihat ekonomi utama Clinton, langsung menegur kritik tersebut. Sejak saat itu, muncul aturan tidak tertulis di pemerintahan Clinton, yakni pejabat pemerintah tidak boleh mengkritik The Fed secara terbuka.
Aturan ini juga diperkuat oleh hubungan dekat Rubin dengan Greenspan. Keduanya bertemu hampir setiap pekan.
Dari sini, pelajaran bagi para penerus Greenspan menjadi cukup jelas. Tugas politik paling penting bagi Ketua The Fed adalah menjaga independensi kebijakan moneter.
Bukan karena The Fed selalu benar. Namun karena presiden dan kelompok politiknya hampir selalu punya kecenderungan menginginkan suku bunga lebih rendah.
Suku bunga rendah biasanya terasa menguntungkan dalam jangka pendek. Ekonomi bisa terlihat lebih hidup, pasar bisa terdorong, dan hal itu bisa menguntungkan secara politik.
Namun bank sentral tidak bisa hanya berpikir dalam hitungan pemilu. The Fed harus melihat risiko yang lebih panjang, termasuk inflasi dan stabilitas ekonomi.
Jika independensi The Fed punya arti, maka artinya adalah kemampuan untuk menahan tekanan politik jangka pendek. Pertanyaannya, apakah Ketua The Fed punya keberanian seperti Greenspan untuk mempertahankan hal itu.
Saat Greenspan Terlalu Jauh Masuk ke Politik
Meski begitu, kekuasaan besar Greenspan juga punya sisi gelap. Beberapa kali dia ikut masuk ke perdebatan yang sebenarnya tidak terlalu berkaitan dengan tugas utama The Fed, yakni menjaga kebijakan moneter.
Pada 2001, Greenspan ikut mendukung pemerintahan George W. Bush yang mendorong pemotongan pajak besar-besaran. Kebijakan itu kemudian menambah utang nasional AS hingga triliunan dolar.
Kebijakan tersebut juga pada dasarnya mengakhiri komitmen dua partai besar AS untuk menjaga disiplin fiskal. Greenspan belakangan mengakui bahwa dukungannya terhadap kebijakan tersebut adalah sebuah kesalahan.
Namun pengakuan itu datang terlalu terlambat untuk mengubah keadaan.
Jika pemerintahan George W. Bush menjadi titik awal perubahan besar dalam arah fiskal Amerika, maka Greenspan dapat disebut sebagai salah satu tokoh yang ikut membuka jalannya.
Greenspan juga tidak berhenti di sana. Pada masa pemerintahan Bush yang kedua, dia mendukung upaya privatisasi Social Security atau sistem jaminan sosial AS.
Sebelum bergabung dengan The Fed, Greenspan memang sudah lama mendalami isu tersebut. Dia pernah memimpin komisi yang membentuk kesepakatan modern mengenai Social Security.
Secara kebijakan, pandangan Greenspan mungkin tidak sepenuhnya salah. Kondisi keuangan sistem jaminan sosial AS saat itu, seperti sekarang, memang berada di jalur yang tidak berkelanjutan.
Namun masalahnya, semua itu seharusnya bukan urusan seorang Ketua The Fed yang sedang menjabat.
Dengan memakai wibawa dan reputasinya untuk mendukung agenda politik tertentu, Greenspan dinilai merusak dirinya sendiri dan juga posisi The Fed.
Seorang Ketua The Fed seharusnya tidak ikut memberi komentar pada urusan yang menjadi wilayah Kongres dan Gedung Putih. Jawaban paling aman dan paling tepat adalah tidak memberikan pendapat pada isu yang bukan bagian dari tugas bank sentral.
Saat ini, The Fed dipimpin oleh Kevin Warsh. Dalam sesi dengar pendapat konfirmasinya dengan Senator Elizabeth Warren, Warsh mengatakan bahwa dia ingin menjauhkan politik dari kebijakan moneter dan menjauhkan kebijakan moneter dari politik.
Niat itu terdengar baik. Namun dalam praktiknya, hal tersebut terlalu idealistis.
Bank sentral tidak bisa benar-benar steril dari sistem politik. Bagaimanapun, sistem politiklah yang memberi bank sentral mandat, tujuan, dan bentuk pertanggungjawaban.
Karena itu, pertanyaannya bukan apakah The Fed bisa menghapus politik dari kebijakan. Pertanyaan yang lebih penting adalah politik seperti apa yang boleh dan perlu dijalankan The Fed.
Di sinilah Greenspan memberi pelajaran, baik dari keberhasilannya maupun dari kesalahannya.
Ketua The Fed harus menjadi penjaga institusi ketika ada tekanan agar kebijakan moneter tunduk pada kepentingan politik jangka pendek.
Tekanan Presiden Donald Trump terhadap The Fed memang sangat keras. Namun keinginan seorang presiden agar suku bunga lebih rendah bukanlah hal baru. Dorongan seperti itu sudah ada sejak The Fed berdiri.
Karena itu, tidak perlu menunggu tekanan politik berikutnya untuk tahu apa yang harus dilakukan Ketua The Fed. Dia harus membela independensi The Fed.
Namun Warsh, seperti Greenspan, juga dikenal sebagai sosok yang punya latar belakang partisan kuat. Dari warisan Greenspan, pelajaran kedua yang bisa diambil adalah bahwa Ketua The Fed saat ini harus berusaha keras menahan naluri partisan tersebut.
Dia tidak perlu memuji partainya. Tidak perlu memuji politisi dari kubunya. Tidak perlu ikut berkomentar soal program politik tertentu.
Ruang geraknya harus dibuat sempit. Mulai sekarang, tugas politiknya sederhana, yakni melindungi The Fed dari pengaruh luar.
Keberhasilan atau kegagalannya dalam menjalankan tugas itu akan menentukan warisannya. Sisanya hanya akan menjadi catatan kaki.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw) Addsource on Google