MARKET DATA
Newsletter

Banyak Kabar Baik, IHSG-Rupiah Tinggal Hadapi 'Monster' dari Amerika

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
30 June 2026 06:23
Pasar bullish vs bearish
Foto: Pixabay
  • Pasar keuangan Indonesia masih ditutup beragam, rupiah menguat sementara bursa saham melemah
  • Wall Street pesta pora, Dow Jones rekor
  • Data ekonomi dalam dan luar negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada awal perdagangan pekan ini. Bursa saham melemah sementara rupiah nampak perkasa.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan bergerak kompak menguat pada hari ini. . Selengkapnya mengenai proyeksi sentiment pasar keuangan Indonesia hari ini bisa dibaca pada halamann 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Senin (29/6/2026) di zona merah dengan penurunan 75,34 poin atau 1,28% ke level 5.820,79.

Sebanyak 449 saham melemah, 214 menguat, dan 149 stagnan.

Aktivitas perdagangan juga terbilang lesu dengan nilai transaksi hanya Rp9,1 triliun, jauh di bawah rata-rata harian pekan lalu yang sebesar Rp17,58 triliun. Bahkan, dibandingkan pekan terakhir bulan sebelumnya, rata-rata nilai transaksi harian telah menyusut lebih dari 38%, menandakan minat transaksi di pasar masih rendah.

Asing  mencatat net sell sebesar Rp 881,58 miliar pada perdagangan Senin kemarin.

Tekanan terbesar terhadap IHSG datang dari saham-saham perbankan berkapitalisasi jumbo. Tiga emiten bank, yakni PT Bank Central Asia (BBCA), PT Bank Mandiri (BMRI, danPT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), menyumbang sekitar 54% dari total nilai transaksi harian.

Berdasarkan data Refinitiv, PT Bank Central Asia (BBCA) menjadi pemberat utama indeks setelah anjlok 4,05% ke level 5.925 sehingga memangkas IHSG sekitar 23,42 poin.

Indeks sempat dibuka menguat hingga menyentuh level 5.942,77 atau naik sekitar 0,7%, namun hanya dalam waktu sekitar 20 menit berbalik ke zona merah dan bertahan hingga penutupan.

Beralih ke pasar valas, nilai tukar rupiah menutup perdagangan Senin (29/6/2026) di zona hijau di tengah pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah menguat 0,39% ke level Rp17.835/US$, dengan pergerakan sepanjang kemarin berada di kisaran Rp17.825-Rp17.880 per dolar AS. Penguatan ini terjadi seiring indeks dolar AS (DXY) yang melemah 0,15% ke level 101,203.

Meski demikian, dolar AS masih berada dalam tren penguatan bulanan yang didukung tingginya imbal hasil obligasi AS, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta sikap wait and see pelaku pasar menjelang rilis data ketenagakerjaan AS.

Dari dalam negeri, pemerintah dan otoritas ekonomi menegaskan komitmennya menjaga stabilitas makro di tengah tingginya ketidakpastian global. Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu menilai stabilitas inflasi, daya beli, serta kepercayaan investor menjadi prioritas, terutama karena pelemahan rupiah relatif lebih besar dibanding mata uang negara sejenis.

Sementara itu, Bank Indonesia memperkuat likuiditas melalui ekspansi hingga sekitar Rp1.000 triliun pada akhir Juni, mempertahankan BI Rate di level 5,75%, serta menyesuaikan instrumen operasi moneter untuk menarik arus modal asing. Hingga 26 Juni 2026, aliran dana asing ke SBN dan SRBI tercatat telah mencapai sekitar US$9 miliar.

 Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke 7,138% pada perdagangan Senin kemarin, dari 7,18% pada akhir pekan lalu.

Imbal hasil yang melandai menandai harga SBN yang tengah naik karena diburu investor.

Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Steret ditutup menguat pada Senin (29/6/2026) atau Selasa dini hari waktu Indonesia.

Indeks Dow Jones Industrial Average menembus level 52.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah setelah Alphabet resmi bergabung ke dalam indeks tersebut. Kenaikan ini melengkapi reli yang terjadi di pasar saham secara lebih luas.

Dow Jones naik 306,63 poin atau 0,59% dan ditutup di 52.182,74. Sementara itu, S&P 500 menguat 1,18% ke 7.440,43, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 2,07% dan berakhir di 25.820,14.

Alphabet menjadi salah satu saham dengan kenaikan terbesar, melesat hampir 5% pada hari pertamanya diperdagangkan sebagai anggota Dow Jones.

Di sisi lain, saham Comcast melonjak 4,4% setelah perusahaan mengumumkan rencana memisahkan bisnis media dan teknologinya menjadi dua perusahaan publik yang terpisah.

Proses pemisahan tersebut diperkirakan rampung dalam waktu sekitar satu tahun.

Sektor semikonduktor juga mencatat penguatan signifikan. VanEck Semiconductor ETF (SMH) naik lebih dari 3%, berbalik arah setelah sempat melemah di awal perdagangan.

Saham Astera Labs, KLA, dan Applied Materials masing-masing melonjak sekitar 16%, 12%, dan hampir 11%, memimpin reli sektor tersebut.

Penguatan pasar terjadi saat Wall Street memasuki pekan perdagangan yang lebih singkat karena bursa saham AS akan libur pada Jumat dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat (Independence Day).

"Likuiditas kemungkinan akan lebih tipis karena pekan perdagangan yang dipersingkat akibat libur, sehingga pergerakan harga bisa lebih besar dari biasanya," ujar Joe Tigay, manajer portofolio di Equity Armor Investments, kepada CNBC International.

Ia juga menambahkan bahwa pasar sedang mendekati akhir kuartal, sehingga banyak manajer investasi melakukan window dressing, yakni mempercantik komposisi portofolio sebelum dilaporkan kepada klien. Menurutnya, banyak saham berkapitalisasi besar telah mencatat kenaikan signifikan sepanjang tahun ini sehingga sebagian investor memilih merealisasikan keuntungan.

 

Di sisi geopolitik, Amerika Serikat dan Iran pada Minggu sepakat menghentikan sementara aksi permusuhan serta mengizinkan kapal-kapal komersial kembali melintasi Selat Hormuz secara bebas.

Kesepakatan itu tercapai setelah serangkaian aksi militer pada akhir pekan yang sempat mengancam proses negosiasi untuk mengakhiri konflik kedua negara.

"Pembahasan teknis akan terus berlanjut untuk seluruh aspek nota kesepahaman (MOU). Untuk saat ini kedua belah pihak akan menahan diri, dan kapal-kapal dapat kembali berlayar dengan bebas," kata seorang pejabat AS kepada CNBC.

Sebelumnya, militer AS menyerang sejumlah target militer Iran sebagai balasan atas serangan Iran di Selat Hormuz. Setelah itu, Presiden Donald Trump mengancam akan menghancurkan Iran melalui unggahan di Truth Social.

Ia menulis bahwa pesawat tempur AS telah menghantam lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran serta situs radar pantai karena, menurutnya, Iran kembali melanggar perjanjian gencatan senjata.

Harga minyak mentah turut menguat pada awal pekan seiring pelaku pasar mengevaluasi apakah penghentian sementara konflik tersebut dapat bertahan dan mengurangi risiko gangguan pasokan energi global. Minyak Brent naik 1,61% menjadi US$73,15 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,2% dan ditutup di US$70,75 per barel.

Pasar keuangan Indonesia akan menutup perdagangan pada paruh pertama atau semester I tahun ini pada hari ini. Menjelang semester II, bursa saham diharapkan sudah bangkit.

Meredanya ketegangan perang, melandainya dolar AS dan imbal hasil US Treasury serta jaminan pemerintah mengenai defisit APBN akan menjadi sentimen positif buat rupiah dan IHSG. Namun, rilis data pekerjaan AS yakni JOLTs bisa menjadi sandungan bagi IHSG dan rupiah. Jika datanya menguat maka The Fed dikhawatirkan akan semakin hawkish.

Perkembangan Perang

Tim negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran semula dijadwalkan bertemu di Doha pekan ini. Namun, Iran menegaskan belum ada agenda perundingan dengan AS, meski kedua negara sama-sama mengirim delegasi ke Qatar.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan delegasi teknis Iran yang berangkat ke Qatar tidak terkait dengan kunjungan utusan AS, Jared Kushner dan Steve Witkoff. "Kami tidak akan menggelar perundingan dengan pihak AS dalam beberapa hari ke depan," ujarnya.

Perbedaan pernyataan tersebut mencerminkan rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada 17 Juni untuk menghentikan perang yang telah berlangsung empat bulan. Konflik itu sempat mengganggu lalu lintas minyak dunia di Selat Hormuz dan menjadi tekanan politik bagi Presiden AS Donald Trump menjelang pemilu Kongres November.

Berdasarkan nota kesepahaman (MoU), kedua negara memiliki waktu sedikitnya 60 hari untuk membahas program nuklir Iran, cadangan uranium yang diperkaya tinggi, serta menyusun gencatan senjata permanen. Namun, proses negosiasi berjalan lambat karena kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan.

Setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari, lalu lintas kapal di Selat Hormuz sempat nyaris berhenti, mendorong harga minyak menembus US$100 per barel. Meski sempat pulih usai kesepakatan, Iran kemudian kembali membatasi pelayaran dan berencana mengenakan biaya bagi kapal yang melintas setelah masa 60 hari berakhir.

AS menuduh Iran menyerang sedikitnya dua kapal dagang di Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir dan membalasnya dengan serangan ke fasilitas militer Iran. Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan sekitar US$6 miliar dari total US$12 miliar aset Iran yang dibekukan di Qatar akan dicairkan sebagai bagian dari kesepakatan. Menurutnya, MoU tersebut, yang juga mencakup pelonggaran sanksi AS terhadap sektor minyak dan petrokimia Iran, merupakan "kemenangan besar" bagi rakyat Iran.

Ketidakpastian juga meluas ke Lebanon. Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri meragukan implementasi kesepakatan gencatan senjata antara Lebanon dan Israel yang dimediasi AS. Padahal, kesepakatan AS-Iran bulan ini juga mencakup penghentian konflik di Lebanon, dengan Iran menuntut Israel menarik pasukannya dari Lebanon selatan.

Pemerintah Pastikan Defisit APBN di Bawah 3% di Akhir 2026

Pimpinan DPR bersama jajaran pemerintah menggelar rapat koordinasi bidang ekonomi serta upaya penguatan fiskal dan moneter sebagai respons dan antisipasi terhadap perkembangan ekonomi dan geopolitik global

Rapat dipimpin Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, didampingi para Wakil Ketua DPR Saan Mustopa, Cucun Ahmad Syamsurijal, dan Sari Yuliati. Turut hadir Ketua Badan Anggaran DPR Said Abdullah, Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun, serta Wakil Ketua Komisi I DPR Budi Djiwandono.

Dari unsur pemerintah, rapat dihadiri Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas Djiwandono, serta Ricky Perdana Gozali.

Menurut Dasco, pertemuan tersebut difokuskan pada upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus merumuskan langkah mitigasi terhadap berbagai tantangan yang belakangan muncul. "Rapat koordinasi untuk pertumbuhan ekonomi sekaligus juga rapat untuk mitigasi beberapa hal yang terjadi belakangan ini," ujar Dasco dalam konferensi pers di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (29/6/2026).

 

Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menyampaikan respons pemerintah Bersama otoritas moneter dan DPR bersinergi dalam menjaga kestabilan makroekonomi dalam jangka pendek terhadap dampaknya ke inflasi dan daya beli masyarakat melalui kebijakan fiskal dan moneter. Selain itu diperlukan juga upaya menjaga kepercayaan pasar di tengah pelemahan Rupiah

Dari sisi Moneter, Deputi Dewan Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti menyampaikan Langkah BI menjaga stabilitas dalam jangka pendek utamanya terkait nilai tukar dan likuiditas. Dari sisi Kementerian Keuangan, Wamnekeu Juda Agung memastikan kondisi fiskal masih sangat terjaga baik dengan deficit 0,7% dan diperkirakan tetap di Bawah 3% di akhir tahun 2026

Sementara Menteri ESDM, Bahli Lahadalia merespons isu terkait gas industri maka dirumuskan sejumlah solusi mengatasi persoalan industri dan mencegah PHK yakni memastikan keberlanjutan dunia usaha. Khusus HGBT tetap US$ 6,5 hingga US$ 7 per MMBTU, gas pipa industri non HGBT di wilayah Jawa tetap US$ 9,5 per MMBTU.

Indeks Dolar dan Imbal Hasil US Treasury Melandai

Indeks Dolar melemah ke 101,1 pada Senin kemarin, terendah dalam lima hari terakhir. Melemahnya indeks menandai investor tengah menjual aset dolar mereka. Kondisi ini diharapkan menjadi kabar baik bagi rupiah karena ada potensi inflow dari investor asing ke mata uang Garuda.

Di sisi lain, imbal hasil US Treasury 10 tahun juga melandai ke 4,368% pada Senin, posisi terendahnya sejak Mei 2026 atau hampir dua bulan terakhir. Imbal hasil US Treasury yang melandai ini diharapkan ikut menekan imbal hasil SBN.

Data Lowongan Pekerjaan JOLTs Amerika Serikat

Biro Statistik Tenaga Kerja AS akan merilis data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTs) Mei 2026 pada hari ini, Selasa (30/6/2026).

Pada April, jumlah lowongan kerja melonjak menjadi 7,618 juta, jauh di atas ekspektasi 6,88 juta dan menjadi yang tertinggi sejak November 2024.

Peningkatan ini menyoroti ketahanan pasar tenaga kerja AS di tengah tekanan kenaikan biaya energi. Secara sektoral, pembukaan lapangan kerja didorong oleh layanan profesional dan bisnis, sementara peningkatan regional terbesar terjadi di wilayah Barat dan Selatan AS.

Tingkat pemutusan hubungan kerja terpantau stabil. Untuk rilis bulan Mei, konsensus memperkirakan lowongan pekerjaan berada di kisaran 7,28 juta hingga 7,4 juta.



Meski diperkirakan melandai, angka tersebut masih mencerminkan pasar tenaga kerja AS yang relatif kuat. Data ini akan menjadi salah satu indikator penting bagi pasar untuk mengukur apakah tekanan di sektor ketenagakerjaan mulai mereda atau masih cukup kuat menopang kebijakan suku bunga tinggi The Fed.


Inflasi Zona Euro

Eurostat akan merilis estimasi awal inflasi Juni pada Selasa malam waktu Eropa.

Pada bulan Mei lalu, tingkat inflasi konsumen Zona Euro tertahan di level 3,2%, yang merupakan level tertinggi sejak September 2023 dan di atas target 2,0% dari Bank Sentral Eropa.

Lonjakan inflasi tersebut secara dominan dipimpin oleh biaya energi yang meroket 10,8% akibat kendala pasokan yang dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah.

 

Inflasi inti yang tidak memasukkan komponen energi dan makanan juga naik menjadi 2,6%, mengindikasikan bahwa tekanan harga mulai meluas ke sektor jasa dan barang industri. Dari sisi konsensus pasar, proyeksi mengantisipasi rilis inflasi bulan Juni akan melandai tipis ke posisi 3,1%.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Komisi IX DPR menggelar rapat kerja dengan Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia

  • Pertemuan bilateral antara Menteri Pertanian Republik Indonesia dan Menteri Pertanian dan Pangan Republik Belarus di kantor Kementan, Jakarta Selatan

  • Komisi V DPR menggelar rapat dengar pendapat dengan eselon I Kementerian Pekerjaan Umum, yaitu Direktur Jenderal Bina Konstruksi dan Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur

  • Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat dengan agenda Penyampaian Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2025 Oleh Badan Pemeriksa Keuangan

  • Forum Bisnis Indonesia-Belarus dan Business Matching di Ballroom Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta Pusat. Turut hadir Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia dan Wakil Perdana Menteri Belarus

  • NBS Non Manufacturing PMI China untuk Juni 2026
  • JOLTs Job Openings Amerika untuk Mei 2026


Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

RUPS PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk

RUPS PT Logindo Samudramakmur Tbk.

RUPS PT Paninvest Tbk

RUPS PT Panin Financial Tbk

RUPS PT Pudjiadi & Sons Tbk

RUPS PT Ginting Jaya Energi Tbk

RUPS PT SUMBER ENERGI ANDALAN Tbk

RUPS PT Dwi Guna Laksana Tbk

RUPS PT Langgeng Makmur Industri Tbk

RUPS PT Kapuas Prima Coal Tbk

RUPS PT PT Hensel Davest Indonesia Tbk

RUPS PT Bank JTrust Indonesia Tbk.

RUPS PT Bank Mayapada Internasional Tbk

RUPS PT Sunson Textile Manufacturer Tbk

RUPS PT Aracord Nusantara Group Tbk

RUPS PT LCK Global Kedaton Tbk

RUPS PT Sentul City Tbk

RUPS PT Techno9 Indonesia Tbk

RUPS PT Perma Plasindo Tbk

RUPS PT Suparma Tbk

RUPS PT Agro Yasa Lestari Tbk

RUPS PT Mahkota Group Tbk.

RUPS PT Pool Advista Finance Tbk.

RUPS PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk

RUPS PT Solusi Sinergi Digital Tbk

RUPS PT Adhi Karya (Persero) Tbk.

RUPS PT Sepatu Bata Tbk

RUPS PT Sinergi Inti Plastindo Tbk.

RUPS PT Krida Jaringan Nusantara Tbk.

RUPS PT Satria Mega Kencana Tbk.

RUPS PT Express Transindo Utama Tbk

RUPS PT Multi Indocitra Tbk

RUPS PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk

RUPS PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk.

RUPS PT Trimegah Bangun Persada Tbk.

RUPS PT Futura Energi Global Tbk

RUPS PT Paramita Bangun Sarana Tbk

RUPS PT Citra Putra Realty Tbk

RUPS PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk

RUPS PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk.

RUPS PT Atlas Resources Tbk

RUPS PT Tanah Laut Tbk

RUPS PT ITSEC Asia Tbk.

RUPS PT Harapan Duta Pertiwi Tbk.

RUPS PT Folago Global Nusantara Tbk

RUPS PT Ulima Nitra Tbk

RUPS PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk

RUPS PT Jaya Agra Wattie Tbk

RUPS PT SMR Utama Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai J RESOURCES ASIA PASIFIK Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Unilever Indonesia Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Unilever Indonesia Tbk

Tanggal distribusi HMETD Matahari Putra Prima Tbk

Tanggal distribusi HMETD Matahari Putra Prima Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Sunindo Pratama Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Sunindo Pratama Tbk

SUNI

Tanggal cum Dividen Tunai PT Sunindo Pratama Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Sariguna Primatirta Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Multikarya Asia Pasifik Raya Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Samcro Hyosung Adilestari Tbk.

Tanggal cum Dividen Tunai PT Multi Hanna Kreasindo Tbk



Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:



CNBC INDONESIA RESEARCH

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.



(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Harga Minyak Anjlok, Perang Mereda: Badai IHSG-Rupiah Sudah Berlalu?


Most Popular
Features