MARKET DATA

Marak Investor China Cabut dari AS, Perusahaan Bak Dinasionalisasi

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia
29 June 2026 18:10
Presiden China Xi Jinping memperlihatkan suasana kompleks bersejarah Zhongnanhai kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pembicaraan mengenai perdagangan, Taiwan, dan Iran, Jumat (15/5/2026). (REUTERS/Evan Vucci/Pool)
Foto: Presiden China Xi Jinping memperlihatkan suasana kompleks bersejarah Zhongnanhai kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pembicaraan mengenai perdagangan, Taiwan, dan Iran, Jumat (15/5/2026). (REUTERS/Evan Vucci/Pool)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan-perusahaan China ramai-ramai melepas aset energi bersih mereka di Amerika Serikat setelah pemerintahan Donald Trump memperketat aturan yang melarang perusahaan yang memiliki hubungan dengan China menerima subsidi pemerintah.

Di sebuah pabrik di Dallas, Texas, sekitar 20.000 panel surya diproduksi setiap hari. Dengan kapasitas 5 gigawatt (GW), fasilitas itu mampu menghasilkan modul surya yang cukup untuk memasok listrik bagi sekitar satu juta rumah di Amerika Serikat setiap tahun.

Kini, bendera Amerika berkibar di atas pabrik tersebut. Padahal hingga belum lama ini, fasilitas itu dibangun dan dimiliki Trina Solar, salah satu produsen panel surya terbesar asal China.

Perubahannya bukan karena pabrik itu gagal bersaing. Hanya beberapa hari setelah mulai beroperasi pada 2024, Trina Solar justru melepas aset tersebut kepada T1 Energy. "Never bet against the United States's engineering and innovation," ujar Russell Gold, eksekutif senior T1 Energy.

Gelombang Divestasi

Sejak 2025, hampir US$9 miliar atau sekitar Rp 160,65 triliun (US$1-Rp 17,850) investasi energi terbarukan China di Amerika dibatalkan, ditunda, atau dijual kepada investor lokal. Dua tahun sebelumnya, pada 2022 dan 2023, transaksi seperti ini nyaris tidak ada.

Bagi investor Amerika, situasi tersebut menjadi peluang. Sejumlah aset berpindah tangan dengan harga diskon. Seorang pembeli bahkan mengatakan beberapa transaksi terjadi dengan potongan harga hingga 40%.

FDI China ke ASFDI China ke AS Foto: Economist

 

Namun, besarnya nilai transaksi justru memunculkan pertanyaan yang lebih menarik. Apakah perpindahan kepemilikan ini benar-benar mengurangi ketergantungan Amerika pada industri energi bersih China, atau hanya mengganti nama pemilik di depan gerbang pabrik?

Amerika Pernah Jadi Magnet

Ironisnya, gelombang divestasi terjadi ketika Amerika baru saja menikmati lonjakan investasi China.

Sepanjang 2022-2024, perusahaan-perusahaan China menggelontorkan komitmen investasi senilai US$15,5 miliar untuk proyek energi hijau di Amerika, sekitar sembilan kali lebih besar dibanding empat tahun sebelumnya. Kombinasi subsidi era Joe Biden dan pertumbuhan industri panel surya membuat pasar Amerika menjadi tujuan ekspansi yang menjanjikan.

Hasilnya terlihat jelas. Kapasitas produksi modul surya Amerika meningkat menjadi sekitar 65 GW per tahun, dengan sekitar 25 GW berasal dari produsen yang memiliki keterkaitan dengan China.

Aturan Baru Mengubah Hitungan

Perubahan itu datang setelah Donald Trump mengesahkan One Big Beautiful Bill Act pada Juli tahun lalu.

Aturan tersebut membuat perusahaan yang memiliki hubungan dengan China kehilangan akses terhadap sejumlah insentif penting, antara lain:

  • kredit pajak produksi panel surya melalui Section 45X;

  • insentif manufaktur sel baterai; dan

  • berbagai subsidi untuk industri energi bersih.

Dampaknya sangat besar. Sebuah pabrik panel surya berkapasitas 5 GW, seperti fasilitas di Dallas, berpotensi kehilangan insentif hingga US$350 juta per tahun.

Pemerintah juga memperketat aturan Foreign Entities of Concern (FEOC). Kepemilikan perusahaan China dibatasi maksimal 25%, penggunaan lisensi teknologi China dibatasi, sementara ketergantungan terhadap komponen asal China harus terus dikurangi secara bertahap.

Bagi banyak produsen, perubahan itu cukup untuk mengubah pasar yang sebelumnya paling menguntungkan menjadi jauh lebih mahal untuk dipertahankan.

Pabriknya Tetap Beroperasi

Yang menarik, hampir tidak ada pabrik yang benar-benar berhenti berproduksi. Fasilitasnya tetap berdiri. Jalur produksinya tetap berjalan. Yang berubah hanyalah pemiliknya.

Polanya terlihat di berbagai transaksi:

  • Corning mengakuisisi pabrik modul surya 2 GW di Arizona.

  • Boway menjual pabrik 3 GW di North Carolina seharga US$254 juta, sekitar 15% di bawah biaya pembangunannya.

  • Jinko Solar melepas 75% kepemilikan fasilitas 2 GW di Jacksonville, Florida, kepada FH Capital.

  • Fasilitas yang dibangun Trina Solar di Dallas kini dioperasikan T1 Energy.

Namun perpindahan itu tidak otomatis mengubah isi pabriknya. Mesin produksinya masih berasal dari China. Teknologinya juga tetap menggunakan rancangan perusahaan China. Banyak komponen yang dipakai pun masih datang dari rantai pasok yang sama.

Yang berganti hanyalah nama perusahaan di depan gerbang.

Lepas dari China Tidak Semudah Itu

Ambisi Amerika membangun industri energi bersih yang lebih mandiri menghadapi satu kenyataan sederhana. China masih memproduksi sekitar 95% polisilikon dunia, bahan baku utama panel surya.

Itu menjelaskan mengapa memindahkan kepemilikan pabrik jauh lebih mudah daripada memindahkan seluruh rantai pasoknya.

 Sebagian perusahaan memilih membentuk joint venture atau melakukan restrukturisasi kepemilikan agar tetap bisa beroperasi di Amerika. Namun, seperti dikatakan Mona Dajani, pimpinan praktik transaksi energi di firma hukum Cooley, tujuan utamanya lebih banyak untuk memenuhi aturan ketimbang benar-benar menggabungkan operasi bisnis.

Arena Persaingan Baru

Kisah industri panel surya menunjukkan bahwa perang dagang kini tidak lagi semata-mata soal tarif impor. Yang diperebutkan semakin sering adalah kepemilikan aset, penguasaan teknologi, rantai pasok, dan akses terhadap subsidi. Siapa yang menguasai pabrik menjadi sama pentingnya dengan siapa yang menguasai bahan bakunya.

Amerika ingin membangun industri energi bersih yang lebih mandiri. Namun hingga hari ini, sebagian fondasi industri tersebut masih berdiri di atas investasi, teknologi, dan rantai pasok yang berasal dari China. Yang berubah lebih cepat adalah kepemilikan asetnya. Ketergantungannya, belum tentu.

 

(mae/wur) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular