INACO Siap IPO, Laba Naik 3 Kali Lipat Berkat Strategi Ini
Jakarta,CNBCÂ Indonesia - Memasuki penghujung Juni 2026, pasar modal Indonesia kembali diramaikan oleh gelombang penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO).
Tercatat terdapat enam perusahaan dari berbagai sektor yang bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), PT ESA Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), dan PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS). Kehadiran emiten-emiten baru tersebut diharapkan dapat menambah pilihan investasi sekaligus menjadi katalis positif bagi pasar modal Indonesia.
Di antara enam calon emiten tersebut, PT Niramas Utama Tbk (JELI) menjadi salah satu yang paling menarik perhatian investor. Selain membawa merek INACO yang telah dikenal luas di pasar makanan dan minuman, Perseroan juga menunjukkan transformasi kinerja yang signifikan menjelang IPO.
Menjelang IPO, PT Sucor Sekuritas menggelar sesi C-Talks (24/6/26) bersama manajemen PT Niramas Utama Tbk (JELI), emiten consumer goods yang dikenal melalui merek dessert sehat INACO dan dijadwalkan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 7 Juli 2026.
Dalam sesi diskusi tersebut, manajemen mengungkap alasan di balik lonjakan laba bersih yang signifikan dari Rp12,4 miliar pada 2024 menjadi Rp38,4 miliar pada 2025, atau melonjak sekitar 220%. Pencapaian tersebut diraih meski pendapatan mengalami penurunan sebesar 4,49% dari Rp788,4 miliar pada 2024 menjadi Rp753,01 miliar pada 2025.
Direktur PT Niramas Utama Tbk, Adhi S. Lukman, menjelaskan bahwa penurunan pendapatan bukan disebabkan melemahnya permintaan, melainkan merupakan hasil dari strategi Perseroan untuk meningkatkan kualitas penjualan melalui evaluasi menyeluruh terhadap portofolio produk. Perseroan secara selektif menghentikan penjualan SKU yang kurang produktif maupun memiliki margin rendah agar dapat lebih fokus pada produk dengan profitabilitas yang lebih tinggi.
"Kita melakukan review terhadap portofolio produk dan unit yang kurang produktif, kemudian kita lakukan penyesuaian. Ada beberapa SKU yang kita hentikan, dan langkah tersebut justru memberikan dampak positif terhadap struktur kinerja Perseroan menjelang IPO," ujar Adhi S. Lukman, Direktur PT Niramas Utama Tbk.
Strategi tersebut tercermin pada peningkatan kinerja operasional Perseroan. EBITDA meningkat menjadi sekitar 28,14% pada 2025, sementara Return on Equity (ROE) melonjak dari 9,81% pada 2024 menjadi 26,82% pada 2025. Di saat yang sama, struktur permodalan juga semakin sehat dengan Debt to Equity Ratio (DER) yang turun dari 3,41x (2023) menjadi 2,79x (2025) mencerminkan perbaikan struktur permodalan.
Menjelang penawaran umum perdana saham (IPO), sekitar 51% dana hasil IPO akan digunakan untuk memperkuat ekspansi kapasitas produksi melalui penyertaan modal kepada anak usaha PT Niramas Pandaan Sejahtera (NPS). Fokus utama investasi tersebut adalah pengembangan kategori gummy candy, segmen baru yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan dan peluang ekspor yang besar.
"Kita juga melakukan studi ke berbagai pasar internasional dan melihat adanya peluang besar di kategori gummy candy. Produk ini akan kita kembangkan dengan diferensiasi yang kuat. Target kita adalah menghadirkan produk yang dapat dinikmati semua segmen usia, dengan tetap mengedepankan kualitas rasa dan aspek kesehatan. Inilah yang menjadi fokus pengembangan portofolio kita ke depan," imbuhnya.
Selain memasuki kategori gummy candy, Perseroan juga terus memperluas portofolio produk melalui peluncuran Mogo Choco pada ajang Pekan Raya Jakarta (PRJ), serta memperkuat lini minuman fungsional melalui produk EnerGel yang menyasar konsumen muda dengan kebutuhan gaya hidup sehat tanpa mengorbankan cita rasa.
Didirikan pada 1990, INACO saat ini mengoperasikan empat fasilitas produksi yang berlokasi di Bekasi, Pontianak, Pandaan, dan Sukabumi. Perseroan memiliki lebih dari 115 SKU aktif yang didistribusikan melalui 251 titik distribusi di Indonesia serta telah menembus pasar ekspor ke lebih dari 30 negara.
INACO juga telah mengantongi berbagai sertifikasi, termasuk Halal Indonesia, GMP, BPOM, dan tersertifikasi ISO 22000:2018 - Food Safety Managament System penerapan standar internasional dalam sistem manajemen keamanan pangan serta meraih penghargaan Top Brand secara berturut-turut pada periode 2013-2022.
Di tengah tekanan nilai tukar dolar Amerika Serikat yang meningkatkan biaya bahan baku seperti plastik, manajemen menegaskan bahwa Perseroan tidak memilih menaikkan harga jual secara agresif.
Sebaliknya, fokus diarahkan pada peningkatan efisiensi melalui reformulasi produk, digitalisasi proses produksi dengan implementasi SAP sejak 2017, penggunaan panel surya pada 2025, serta otomatisasi proses manufaktur yang sebagian pendanaannya akan berasal dari hasil IPO.
Melalui strategi efisiensi operasional, penguatan portofolio produk bernilai tambah, serta ekspansi ke kategori baru yang memiliki prospek pertumbuhan tinggi, PT Niramas Utama Tbk optimistis dapat memperkuat daya saing dan menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan setelah resmi menjadi perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Research CNBCÂ Indonesia
(saw/saw) Addsource on Google