MARKET DATA

Ringgit Pimpin Asia Tendang Dolar, Won - Rupiah Malah Keok

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
25 June 2026 10:05
Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung beragam pada perdagangan Kamis (24/6/2026). Indeks dolar AS masih berada di level yang tinggi, meski pagi ini bergerak melemah tipis.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.35 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak lima mata uang melemah terhadap dolar AS, sementara lima lainnya menguat.

Peso Filipina menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pada pagi ini. Peso melemah 0,60% ke posisi PHP 61,238/US$.

Won Korea Selatan juga ikut tertekan cukup dalam setelah melemah 0,34% ke posisi KRW 1.547,5/US$. Dolar Taiwan menyusul dengan koreksi 0,27% ke posisi TWD 31,823/US$.

Nasib kurang baik juga menimpa mata uang Garuda, rupiah masih bergerak di zona merah. Nilai tukar rupiah melemah 0,08% ke posisi Rp17.940/US$. Tekanan lebih tipis terlihat pada baht Thailand yang terkoreksi 0,03% ke posisi THB 33,41/US$ dan dolar Singapura yang turun tipis 0,01% ke SGD 1,296/US$.

Di sisi lain, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia setelah naik 0,60% ke posisi MYR 4,110/US$.

Dong Vietnam juga menguat 0,19% ke posisi VND 26.280/US$, sementara yen Jepang dan yuan China sama-sama naik 0,05%, masing-masing ke posisi JPY 161,69/US$ dan CNY 6,807/US$.

Di saat yang bersamaan, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah 0,09% ke posisi 101,552. Meski turun tipis, posisi tersebut masih berada di sekitar level yang tinggi. Bahkan, DXY sempat menyentuh level tertingginya dalam 13 bulan di level 101,8 pada perdagangan kemarin Rabu. Kondisi ini menunjukkan dolar AS masih mempertahankan kekuatannya di pasar global.

Penguatan dolar AS masih ditopang oleh ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) pada tahun ini. Pekan lalu, The Fed memberi sinyal dukungan yang semakin besar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat. Ketua The Fed Kevin Warsh juga menegaskan kembali komitmennya untuk mengembalikan stabilitas harga.

Ekspektasi tersebut mampu mengalahkan dampak positif dari perkembangan negosiasi damai AS-Iran. Kemajuan negosiasi sebelumnya sempat menekan harga minyak kembali ke level sebelum konflik dan membantu meredakan kekhawatiran inflasi energi.

Namun, pasar masih menilai tekanan inflasi AS belum sepenuhnya mereda. Investor kini menunggu rilis indeks harga Personal Consumption Expenditures/PCE, ukuran inflasi favorit The Fed, untuk membaca arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Selain data PCE, pelaku pasar juga mencermati sejumlah data penting AS lainnya. Di antaranya adalah final pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026, data pendapatan pribadi Mei, pesanan barang tahan lama awal, serta klaim pengangguran mingguan untuk periode yang berakhir pada 20 Juni.

Sementara itu, perang di Timur Tengah antara AS-Iran dan lonjakan harga minyak sebelumnya telah mengubah ekspektasi pasar. Sebelum perang, pasar sempat memperkirakan pemangkasan suku bunga AS pada tahun ini. Namun, nada hawkish Kevin Warsh dalam debutnya sebagai Ketua The Fed membuat pelaku pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga AS secepat Oktober.

Steve Englander, head of global G10 currency research Standard Chartered di New York, menilai penguatan suku bunga dan dolar AS mencerminkan ekspektasi bahwa ekonomi AS masih akan unggul dibandingkan negara lain.

"Kami percaya pergerakan suku bunga dan dolar mencerminkan ekspektasi keunggulan siklikal dan struktural ekonomi AS," ujar Englander dikutip dari Reuters. 

Dia menambahkan, pertumbuhan produktivitas yang kuat, sebagian didorong oleh kecerdasan buatan atau AI, dapat menopang pendapatan yang lebih tinggi dan mendorong aliran modal masuk yang positif bagi dolar AS.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular