MARKET DATA
Newsletter

RI Tetap Emerging Market, Perang Mereda: Saatnya Rupiah & IHSG Bangkit

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
24 June 2026 06:17
OJK Kembali "Kopdar" Dengan MSCI
Foto: CNBC Indonesia TV
  • Pasar keuangan Indonesia kembali tertekan pada perdagangan Selasa, IHSG melemah hingga rupiah koreksi dalam tiga hari beruntun
  • Wall Street ambruk berjamaah dipicu aksi jual saham teknologi
  • Pasar keuangan hari ini akan merespons hasil pengumuman MSCI, hingga rilis data manufaktur sementara Jepang.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kembali tertekan pada perdagangan Selasa (23/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah, rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sementara yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun kembali naik.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan mampu bergerak positif pada hari ini, Rabu (24/6/2026), terutama pasca pengumuman MSCI yang masih mempertahankan Indonesia di Emerging Market. Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

IHSG melemah pada perdagangan Selasa kemarin (23/6/2026), di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang kala itu masih menantikan pengumuman MSCI.

Pada penutupan perdagangan sesi kedua, IHSG melemah 0,25% atau turun 15,36 poin ke level 6.101,33. Sepanjang perdagangan, IHSG sempat tertekan lebih dalam hingga menyentuh level 5.993,04.


Nilai transaksi hingga akhir perdagangan tergolong ramai, mencapai Rp32,94 triliun dengan volume perdagangan 41,54 miliar saham dalam 1,79 juta kali transaksi.

Dari sisi pergerakan saham, sebanyak 282 saham menguat, 373 saham melemah, dan 160 saham bergerak stagnan.

Adapun, investor asing masih melakukan penjualan dengan total outflow sebesar Rp311,6 miliar.

Adapun emiten yang paling ramai ditransaksikan adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).

Mayoritas sektor perdagangan sebenarnya menguat. Namun, tekanan besar dari sejumlah sektor dan saham berkapitalisasi besar membuat IHSG tetap berakhir di zona merah.

Koreksi paling dalam dicatatkan oleh sektor energi yang tertekan 3,62%. Sektor lain yang ikut melemah cukup dalam adalah sektor finansial dan konsumer.

Secara spesifik, saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang masuk periode ex-date dividen menjadi pemberat utama IHSG dengan kontribusi pelemahan 20,66 indeks poin. Emiten lain yang ikut membebani kinerja IHSG antara lain BBCA, BMRI, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).

Beralih ke nilai tukar, tekanan di pasar saham juga sejalan dengan pelemahan rupiah. Nilai tukar rupiah kembali harus menutup perdagangan Selasa kemarin di zona merah terhadap dolar AS. Pelemahan terjadi di tengah penguatan dolar AS di pasar global.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup di posisi Rp17.835/US$ atau melemah tipis 0,06%. Pelemahan ini sekaligus memperpanjang tekanan terhadap rupiah dalam tiga hari perdagangan beruntun.

Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di rentang Rp17.835-Rp17.870/US$. Mata uang Garuda mengawali perdagangan di level Rp17.850/US$, lalu sempat melemah lebih dalam sebelum tekanannya berkurang menjelang penutupan.

Pelemahan rupiah masih dipengaruhi sentimen eksternal, terutama dinamika penguatan dolar AS di pasar global. Penguatan greenback membuat ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi lebih terbatas.

Dolar AS menguat seiring masih adanya kekhawatiran pasar terhadap potensi suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama di Amerika Serikat. Kondisi ini muncul setelah bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75%.

Selain itu, proyeksi suku bunga terbaru The Fed atau dot plot juga mengindikasikan peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Bahkan, sebagian pejabat The Fed masih memperkirakan adanya potensi kenaikan suku bunga pada rapat berikutnya.

Meski demikian, penguatan dolar AS masih tertahan oleh perkembangan positif dalam negosiasi AS dan Iran. Harapan damai antara kedua negara membuat tekanan terhadap aset berisiko sedikit lebih terbatas, meski ketidakpastian pasar masih belum sepenuhnya mereda.

Dari pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik  ke level 7,218% pada perdagangan Selasa. Kenaikan ini menjadi kenaikan yield SBN 10 tahun dalam empat hari perdagangan beruntun.

Sebagai catatan, kenaikan yield menunjukkan harga SBN sedang turun. Kondisi ini biasanya mencerminkan tekanan jual di pasar obligasi, karena imbal hasil dan harga obligasi bergerak berlawanan arah.


Add logo_svg as a preferred
source on Google

Bursa saham Amerika Serikat atau yang dikenal dengan Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Tekanan terutama datang dari aksi jual saham teknologi, khususnya saham-saham yang berkaitan dengan chip memori dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Indeks S&P 500 melemah 1,44% ke level 7.365,46. Nasdaq Composite yang banyak berisikan saham-saham teknologi terkoreksi lebih dalam, yakni 2,21% ke level 25.587,04. Sementara Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 45,87 poin atau 0,09% ke level 51.666,84.

Tekanan di Wall Street masih merupakan lanjutan dari pelemahan sektor teknologi pada perdagangan sebelumnya. Pada Senin, Nasdaq sudah melemah 1,3%, terutama karena tekanan pada saham Alphabet.

Aksi jual kemudian merembet ke pasar global, khususnya Asia. Indeks Kospi Korea Selatan menjadi salah satu yang paling tertekan setelah saham-saham terkait chip memori rontok. Saham SK Hynix, yang sebelumnya menjadi motor reli berbasis euforia AI di Korea Selatan, anjlok lebih dari 12%.

Tekanan tersebut membuat indeks Kospi sempat turun hampir 10%. Padahal, indeks acuan Korea Selatan itu masih mencatat kenaikan sekitar 95% sepanjang tahun ini. Di Jepang, Nikkei 225 juga turun 3,55%, sekaligus memutus reli delapan hari beruntun.

Di Wall Street, tekanan pada saham chip juga terlihat jelas. Saham Micron Technology yang diperdagangkan di AS jatuh 13%. Sandisk juga terkoreksi 13%, sementara Seagate Technology melemah lebih dari 5%.

Saham chip dan semikonduktor lain ikut tertekan. Intel turun 6%, sementara Advanced Micro Devices (AMD) dan Qualcomm masing-masing melemah hampir 6% dan 8%.

Tekanan besar pada sektor teknologi membuat State Street Technology Select Sector SPDR ETF (XLK) turun 4%. Sementara VanEck Semiconductor ETF (SMH), yang melacak saham-saham semikonduktor, jatuh 7%.

Meski begitu, tekanan indeks utama Wall Street sempat berkurang dari level terendahnya. Hal ini terjadi karena beberapa saham teknologi di luar sektor chip seperti Microsoft dan Amazon masih mampu menguat.

Saham-saham defensif juga membantu menahan tekanan lebih dalam. Walmart, Procter & Gamble, dan Johnson & Johnson menguat, sementara saham International Business Machines (IBM) melesat 5% setelah mendapat kenaikan rekomendasi menjadi overweight dari JPMorgan. Saham Sherwin-Williams dan Merck juga ikut menguat.

Saham Alphabet masih melanjutkan pelemahan dengan turun 1% pada perdagangan Selasa. Sebelumnya, saham induk Google itu jatuh 5% pada Senin karena kekhawatiran pasar terhadap hengkangnya sejumlah talenta penting AI dari perusahaan tersebut.

Senior Portfolio Manager Morgan Stanley Investment Management Andrew Slimmon menilai pelemahan saham-saham penerima manfaat AI terjadi karena posisinya sudah terlalu ramai di pasar.

"Penerima manfaat AI sedang mengalami aksi jual, dan menurut saya mereka tidak mahal, tetapi posisinya sudah terlalu ramai," kata Slimmon dikutip dari CNBC International

Menurut Slimmon, tema AI sudah sangat menarik perhatian para momentum trader. Ketika kondisi tersebut terjadi, aksi jual tajam seperti saat ini bisa muncul. Namun, dia menilai koreksi tersebut masih tergolong sehat.

Tekanan di Wall Street menjadi sentimen penting bagi pasar Asia pada perdagangan hari ini. Koreksi tajam pada saham teknologi dan semikonduktor dapat mempengaruhi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham negara berkembang.

Memasuki perdagangan Rabu (24/6/2026), pelaku pasar keuangan Tanah Air akan mencermati sejumlah sentimen penting dari dalam dan luar negeri.

Sentimen utama datang dari pengumuman MSCI 2026 Market Classification Review. Indonesia masih dipertahankan dalam status Emerging Market, tetapi MSCI memberi sejumlah catatan terkait transparansi kepemilikan saham, free float, hingga dugaan perdagangan terkoordinasi di pasar saham domestik.

Dari dalam negeri, pasar juga akan mencermati data uang beredar periode Mei 2026 yang menunjukkan likuiditas perekonomian tumbuh lebih kencang. Pada saat yang sama, sejumlah kebijakan dan isu domestik lain ikut menjadi perhatian, mulai dari penerapan komisi baru ojek online sebesar 8% mulai 1 Juli 2026 hingga perkembangan Patriot Bond dan Merah Putih Bond.

Perkembangan Perang

Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran telah menyetujui inspeksi nuklir tanpa batas waktu. Namun, Teheran membantah adanya kesepakatan tersebut, menambah ketidakpastian terhadap kesepakatan damai yang baru disepakati kedua negara.

AS dan Iran juga masih berbeda pandangan terkait sejumlah isu penting, mulai dari program nuklir, pencairan aset Iran yang dibekukan, pengelolaan Selat Hormuz, hingga konflik Israel-Hezbollah di Lebanon. Meski begitu, Trump menyebut negosiasi berjalan baik.

Di tengah proses perdamaian, dukungan publik AS terhadap perang melemah. Senat AS bahkan menyetujui resolusi penghentian perang dengan Iran, meski bersifat simbolis.

Sementara itu, lalu lintas kapal di Selat Hormuz kembali normal setelah kesepakatan yang menjamin kebebasan pelayaran selama 60 hari. Namun Iran mengisyaratkan kemungkinan mengenakan tarif bagi kapal setelah periode tersebut berakhir, sesuatu yang ditolak Washington.

Kesepakatan damai juga mencakup pencabutan sanksi AS, pembebasan aset Iran yang dibekukan, serta dana rekonstruksi senilai US$300 miliar. Namun, isu program nuklir dan penarikan pasukan Israel dari Lebanon masih menjadi titik sengketa utama dalam negosiasi lanjutan.

MSCI Pertahankan RI di Emerging Market, Tapi Beri Catatan

MSCI akhirnya merilis hasil MSCI 2026 Market Classification Review pada Rabu dini hari waktu Indonesia. Dalam pengumuman tersebut, Indonesia masih bertahan sebagai Emerging Market, tetapi mendapat peringatan keras terkait transparansi pasar.

MSCI menyoroti persoalan shareholder transparency dan dugaan coordinated trading behavior di pasar saham Indonesia. Dua isu tersebut dinilai membatasi kemampuan investor institusi global untuk menilai free float yang sebenarnya dan menggunakan harga pasar sebagai acuan dalam menyusun portofolio maupun mereplikasi indeks.

MSCI juga mengakui sejumlah langkah perbaikan yang telah diumumkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Langkah tersebut mencakup peningkatan keterbukaan pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih rinci, pengenalan kerangka High Shareholding Concentration (HSC), serta roadmap kenaikan minimum free float menjadi 15%.

Namun, MSCI menegaskan bahwa yang paling penting bagi investor institusi global bukan hanya pengumuman reformasi, melainkan implementasi yang konsisten dan dampak yang berkelanjutan di pasar.

MSCI akan terus menilai cakupan, konsistensi, dan efektivitas langkah-langkah tersebut dalam konteks penentuan free float dan investability pasar Indonesia.

Jika kemajuan yang cukup tidak terlihat hingga MSCI Index Review November 2026, MSCI akan mempertimbangkan sejumlah opsi perlakuan untuk pasar Indonesia. Opsi tersebut termasuk kemungkinan mengenai reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

Uang Beredar RI Tumbuh Lebih Kencang

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) pada Selasa kemarin melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) untuk periode Mei 2026 tumbuh lebih tinggi.

BI mencatat, posisi M2 pada Mei 2026 mencapai Rp10.415,9 triliun atau tumbuh 10,8% secara tahunan (yoy). Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang sebesar 9,2% (yoy).

"Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 15,3% (yoy) dan uang kuasi sebesar 6,0% (yoy)," kata Kepala Departemen Komunikasi sekaligus Direktur Eksekutif BI Ramdan Denny Prakoso dalam siaran pers, Selasa (23/6/2026).

Peningkatan pertumbuhan M2 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan aktiva luar negeri bersih.

Dari sisi kredit, penyaluran kredit perbankan pada Mei 2026 tumbuh 10,8% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan April 2026 yang sebesar 9,4% (yoy).

Pertumbuhan kredit tersebut kembali menembus level dua digit setelah dalam beberapa bulan terakhir bertahan di zona single digit. Capaian ini juga menjadi pertumbuhan kredit tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir, atau sejak Agustus 2024, ketika kredit perbankan tumbuh 10,9% (yoy).

Kenaikan kredit ini menunjukkan fungsi intermediasi perbankan masih berjalan cukup kuat, meski BI kembali menaikkan suku bunga acuan dan pasar keuangan domestik masih dibayangi tekanan rupiah.

Sementara itu, aktiva luar negeri bersih pada Mei 2026 tumbuh 5,2% (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 3,7% (yoy).

BI juga mencatat uang primer atau M0 adjusted pada Mei 2026 tumbuh 14,2% (yoy), relatif stabil dibandingkan April 2026 yang sebesar 14,3% (yoy). Secara nominal, M0 adjusted tercatat sebesar Rp2.214,6 triliun.

"Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 17,4% (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 15,8% (yoy)," kata Denny.

Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, BI menjelaskan pertumbuhan M0 adjusted telah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas atau pengendalian moneter adjusted.

Bagi pasar, kenaikan pertumbuhan M2 dan kredit menjadi sinyal bahwa likuiditas domestik masih cukup kuat. Namun, kondisi ini tetap akan dibaca bersama arah suku bunga BI, tekanan rupiah, serta perkembangan inflasi, karena likuiditas yang terlalu longgar di tengah tekanan eksternal dapat mempengaruhi ruang kebijakan moneter ke depan.

Rilis Awal PMI Manufaktur Jepang

Aktivitas manufaktur Jepang kembali menguat pada Juni 2026. Rilis awal S&P Global Japan Manufacturing PMI menunjukkan aktivitas pabrik Jepang masih berada di zona ekspansi dan bahkan tumbuh lebih kuat dari ekspektasi pasar.

S&P Global mencatat PMI manufaktur Jepang naik ke level 54,9 pada Juni 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan posisi Mei dan juga melampaui ekspektasi pasar yang berada di level 54,5.

Capaian tersebut juga mendekati posisi April yang sebesar 55,1, yang merupakan ekspansi terkuat sejak Januari 2022. Dengan realisasi Juni ini, aktivitas pabrik Jepang sudah mencatat pertumbuhan selama enam bulan beruntun.

Penguatan manufaktur Jepang ditopang oleh kenaikan output dan pesanan baru yang lebih cepat. Pertumbuhan output menjadi yang tercepat kedua sejak Januari 2022.

Pesanan baru juga tumbuh lebih kuat, dengan penjualan naik pada laju tercepat sejak Januari 2022. Kenaikan permintaan sebagian didorong oleh aksi penumpukan stok oleh pelanggan di tengah gangguan rantai pasok dan kekhawatiran kenaikan harga ke depan akibat konflik di Timur Tengah.

Meski begitu, penjualan ke luar negeri masih tumbuh sedikit lebih lambat. Sementara itu, dari sisi tenaga kerja, penyerapan pekerja di sektor manufaktur meningkat pada laju tercepat dalam lebih dari delapan tahun.

Dari sisi harga, inflasi biaya input dan harga output mulai mereda. Namun, tekanannya masih berada di dekat level tertinggi sejak akhir 2022, terutama karena kenaikan biaya energi, bahan bakar, dan bahan baku.

Sentimen bisnis manufaktur Jepang juga masih bertahan di zona positif. Hal ini menunjukkan pelaku industri masih melihat prospek ke depan cukup baik, meskipun risiko dari harga energi dan gangguan pasokan global belum sepenuhnya mereda.

Potongan Komisi Ojol Turun Jadi 8%

Aplikator transportasi online GoTo dan Grab akan mulai menerapkan potongan komisi sebesar 8% untuk layanan transportasi penumpang roda dua atau ojek online (ojol) mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini sejalan dengan aturan baru yang diteken Presiden Prabowo Subianto terkait perlindungan pekerja transportasi online.

Kepastian tersebut disampaikan setelah pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menggelar pertemuan dengan manajemen GoTo dan Grab Indonesia di Gedung Nusantara III, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (23/6/2026).

Pertemuan tersebut dihadiri Wakil Ketua DPR dari Fraksi Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR dari Fraksi PKB Cucun Ahmad Syamsurijal, Wakil Direktur Utama PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk Catherine Hindra Sutjahyo, serta CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi.

"Saya bersama dengan manajemen GoTo dan Grab yang tadi kami sudah mengadakan pembicaraan-pembicaraan bersama Pak Cucun juga mengenai pemberlakuan tarif atau pemberlakuan komisi untuk kendaraan transportasi online roda dua yang penerapannya selama ini mungkin ditunggu-tunggu oleh pengemudi," ujar Dasco.

Sebagai catatan, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah mengumumkan perubahan struktur komisi antara aplikator dan mitra transportasi online pada 1 Mei 2026. Dasar hukumnya adalah Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026, yang mengatur potongan terhadap mitra turun dari 20% menjadi 8%.

Melalui konferensi pers tersebut, GoTo dan Grab memastikan ketentuan baru itu akan mulai berlaku pada 1 Juli 2026.

"Sudah jelas barusan bagaimana komitmen kami semua di DPR RI mengawal dari proses panjang perjuangan teman-teman di ojek online dan komitmen Bapak Presiden Prabowo betul-betul berpihak terhadap seluruh pengemudi ojek online yang sudah sama-sama kita dengar tadi dari GoTo dan Grab sekali lagi per 1 Juli 2026 tarif 8:92 ini sudah berlaku ya," ujar Cucun.

Kebijakan ini menjadi perhatian karena akan berdampak langsung pada ekosistem transportasi online. Bagi mitra pengemudi, penurunan potongan komisi dari 20% menjadi 8% berpotensi meningkatkan pendapatan bersih. Namun bagi aplikator seperti GoTo dan Grab, pasar akan mencermati dampaknya terhadap struktur biaya, margin, dan strategi bisnis setelah aturan berlaku pada 1 Juli 2026.

Purbaya Dorong Patriot Bond dan Merah Putih Bond

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali mendorong pemilik dana besar untuk masuk ke instrumen Patriot Bond dan Merah Putih Bond milik BPI Danantara.

"Jadi, kalau Anda punya uang banyak, masuk ke situ cepat-cepat. Seperti saya bilang gitu kan, 6 bulan saya kasih waktu masuk," ujar Purbaya saat ditemui di Pelabuhan Tanjung Priok, Selasa (23/6/2026).

Purbaya menjelaskan, pemerintah memberikan perlindungan hukum terhadap sumber dana yang digunakan untuk membeli Patriot Bond dan Merah Putih Bond. Menurutnya, uang yang masuk ke instrumen tersebut tidak akan dipersoalkan sumbernya.

"Terjemahan yang betul adalah, uang yang dipakai untuk Patriot Bond, tidak akan diutak-atik sumbernya dari mana gitu aja. Tapi kalau dia punya bisnis lain, ya bisa dikejar aja. Kalau dia melakukan bisnis yang... Tapi uang yang masuk situ aman," kata Purbaya.

Dia menegaskan, perlindungan tersebut hanya berlaku untuk dana yang masuk ke Patriot Bond dan Merah Putih Bond. Jika investor memiliki bisnis lain, maka bisnis tersebut tetap bisa diperiksa seperti biasa.

"Uang yang masuk aja, uang yang di luar mah terserah," katanya.

Purbaya juga menolak jika skema Patriot Bond dan Merah Putih Bond disamakan dengan tax amnesty. Menurutnya, dalam tax amnesty semua dana yang masuk mendapat fasilitas pembebasan, sementara pada Patriot Bond perlindungan hanya berlaku untuk dana yang ditempatkan pada instrumen tersebut.

"Tax amnesty kan bebas semua. Ini nggak. Uang yang masuk ke situ," kata Purbaya.

"Tapi kalau dia punya perusahaan segala macam, dia diperiksa biasa, tapi uang yang masuk ke situ aman. Tapi, perusahaannya enggak imun. Jadi, nggak seperti tax amnesty," jelasnya.

Perlindungan tersebut diatur dalam Pasal 50A Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 yang merevisi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan atau P2SK.

Dalam Pasal 50A ayat (5), negara menjamin dan melindungi pembelian instrumen surat utang khusus dari penuntutan pidana umum, pidana khusus termasuk pidana perpajakan, serta gugatan perdata.

Selain itu, pada ayat (6), data dan informasi pembelian Patriot Bond dan Merah Putih Bond tidak dapat dijadikan dasar pengenaan pajak maupun bukti hukum di pengadilan. Perlakuan khusus ini berlaku untuk transaksi di pasar primer.

PMI Manufaktur AS Tertinggi Sejak 2022


Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Amerika Serikat versi S&P Global naik menjadi 55,7 pada Juni 2026 dari 55,1 pada Mei, melampaui ekspektasi pasar sebesar 54,8 dan menjadi level tertinggi sejak Mei 2022.

Kenaikan ini menunjukkan kondisi bisnis sektor manufaktur AS terus membaik sejak Agustus tahun lalu, dengan laju pertumbuhan yang semakin kuat sejak mencapai titik terendah pada Februari. Pertumbuhan produksi meningkat ke level tercepat sejak Juli 2021, didorong oleh lonjakan pesanan baru terbesar sejak April 2022.

Selain itu, persediaan bahan baku mencatat kenaikan terbesar sejak Mei 2025 dan menjadi peningkatan terbesar kedua sepanjang sejarah survei. PMI juga terdorong oleh memanjangnya waktu pengiriman pemasok yang merupakan yang terbesar sejak Agustus 2022.

Namun, penguatan sektor manufaktur sebagian tertahan oleh penurunan tenaga kerja yang cukup tajam. Jumlah pekerja di sektor manufaktur mencatat kontraksi terbesar sejak Mei 2020.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini: 

  • Media Briefing Badan Komunikasi Pemerintah bersama Kepala BKP dan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus di kantor BKP, Jakarta Pusat

  • Komisi VI DPR menggelar RDP dengan Dirut Pelni dan Dirut ASDP

  • Komisi V DPR menggelar RDP dengan eselon I Kementerian Transmigrasi

  • Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menghadiri China-Indonesia Think Thank and Media Forum di The Ritz-Carlton Mega Kuningan Jakarta Selatan

  • OPPO Reno 16 Series Hands-On Experience di Lotte Mall Kuningan Jakarta

  • Hari Nasional Republik Arab Mesir di The Westin, Jakarta Selatan.

  • Forum Tingkat Tinggi "Building Regional and Global Health Resilience in ASEAN" di kantor Dewan Ekonomi Nasional, Jakarta Pusat. Turut hadir Menteri Kesehatan

  • Opini Bank Sentral Jepang
  • Neraca transaksi berjalan AS Kuartal I-2026
  • Uang beredar (M2) AS Mei 2026 

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

CNBC INDONESIA RESEARCH

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.



Most Popular
Features