MARKET DATA
Newsletter

MSCI Tegaskan RI di Emerging Market-Awas Amukan Dolar Bisa Rusak Pesta

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
24 June 2026 06:17
Ilustrasi Wall Street. (AP/Richard Drew)
Foto: CNBC Indonesia TV

Bursa saham Amerika Serikat atau yang dikenal dengan Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Tekanan terutama datang dari aksi jual saham teknologi, khususnya saham-saham yang berkaitan dengan chip memori dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Indeks S&P 500 melemah 1,44% ke level 7.365,46. Nasdaq Composite yang banyak berisikan saham-saham teknologi terkoreksi lebih dalam, yakni 2,21% ke level 25.587,04. Sementara Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 45,87 poin atau 0,09% ke level 51.666,84.

Tekanan di Wall Street masih merupakan lanjutan dari pelemahan sektor teknologi pada perdagangan sebelumnya. Pada Senin, Nasdaq sudah melemah 1,3%, terutama karena tekanan pada saham Alphabet.

Aksi jual kemudian merembet ke pasar global, khususnya Asia. Indeks Kospi Korea Selatan menjadi salah satu yang paling tertekan setelah saham-saham terkait chip memori rontok. Saham SK Hynix, yang sebelumnya menjadi motor reli berbasis euforia AI di Korea Selatan, anjlok lebih dari 12%.

Tekanan tersebut membuat indeks Kospi sempat turun hampir 10%. Padahal, indeks acuan Korea Selatan itu masih mencatat kenaikan sekitar 95% sepanjang tahun ini. Di Jepang, Nikkei 225 juga turun 3,55%, sekaligus memutus reli delapan hari beruntun.

Di Wall Street, tekanan pada saham chip juga terlihat jelas. Saham Micron Technology yang diperdagangkan di AS jatuh 13%. Sandisk juga terkoreksi 13%, sementara Seagate Technology melemah lebih dari 5%.

Saham chip dan semikonduktor lain ikut tertekan. Intel turun 6%, sementara Advanced Micro Devices (AMD) dan Qualcomm masing-masing melemah hampir 6% dan 8%.

Tekanan besar pada sektor teknologi membuat State Street Technology Select Sector SPDR ETF (XLK) turun 4%. Sementara VanEck Semiconductor ETF (SMH), yang melacak saham-saham semikonduktor, jatuh 7%.

Meski begitu, tekanan indeks utama Wall Street sempat berkurang dari level terendahnya. Hal ini terjadi karena beberapa saham teknologi di luar sektor chip seperti Microsoft dan Amazon masih mampu menguat.

Saham-saham defensif juga membantu menahan tekanan lebih dalam. Walmart, Procter & Gamble, dan Johnson & Johnson menguat, sementara saham International Business Machines (IBM) melesat 5% setelah mendapat kenaikan rekomendasi menjadi overweight dari JPMorgan. Saham Sherwin-Williams dan Merck juga ikut menguat.

Saham Alphabet masih melanjutkan pelemahan dengan turun 1% pada perdagangan Selasa. Sebelumnya, saham induk Google itu jatuh 5% pada Senin karena kekhawatiran pasar terhadap hengkangnya sejumlah talenta penting AI dari perusahaan tersebut.

Senior Portfolio Manager Morgan Stanley Investment Management Andrew Slimmon menilai pelemahan saham-saham penerima manfaat AI terjadi karena posisinya sudah terlalu ramai di pasar.

"Penerima manfaat AI sedang mengalami aksi jual, dan menurut saya mereka tidak mahal, tetapi posisinya sudah terlalu ramai," kata Slimmon dikutip dari CNBC International

Menurut Slimmon, tema AI sudah sangat menarik perhatian para momentum trader. Ketika kondisi tersebut terjadi, aksi jual tajam seperti saat ini bisa muncul. Namun, dia menilai koreksi tersebut masih tergolong sehat.

Tekanan di Wall Street menjadi sentimen penting bagi pasar Asia pada perdagangan hari ini. Koreksi tajam pada saham teknologi dan semikonduktor dapat mempengaruhi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham negara berkembang.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features