The Fed Beri Sinyal Kenaikan Suku Bunga, Kini Semua Mata Tertuju ke BI
- Pasar keuangan RI ditutup beragam, IHSG dan Rupiah melemah sementara SBN menguat.
- Wall Street ambruk etelah keputusan The Fed
- Keputusan BI Rate serta Federal Funds Rate menjadi penggerak utama pasar pada hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada perdagangan kemarin Rabu (17/6/2026). Bursa saham dan mata uang Rupiah ditutup melemah sementara Surat Berharga Negara (SBN)BN kembali di zona penguatan setelah bertubi-tubi mengalami pelemahan pada beberapa pekan terakhir
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan masih menghadapi tantangan pada hari ini dan sepanjang pekan ini di tengah banyaknya pengumuman penting. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini dan satu pekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memangkas koreksi pada akhir perdagangan kemarin, Rabu (17/6/2026).
Setelah turun 1% menjelang pukul 15.00, IHSG menutup perdagangan dengan koreksi 0,55% atau -34,23 poin ke level 6.220,74.
Sebanyak 391 emiten turun, 288 naik, dan 137Â tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 24,70 triliun, melibatkan 34,10 miliar saham dalam 2,37 juta saham. Kapitalisasi pasar pun parkir di level Rp 10.780 triliun.
Mengutip Refinitiv, utilitas menjadi sektor yang anjlok paling dalam, yakni -8,82%. Hal ini seiring dengan koreksi tajam pada saham Barito Renewables Energy (BREN). Emiten Prajogo Pangestu tersebut turun 12% membebani IHSG sebesar -18,81 poin.
Adapun IHSG memangkas koreksi digendong oleh Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang dikerek ke atas pada akhir perdagangan. BBRI menutup perdagangan kemarin dengan kenaikan 3% dan menopang 14,11 poin ke IHSG.
Pada penutupan perdagangan kemarin tercatat net foreign inflow sebesar Rp2,51 triliun namun apabila ditelaah hal ini terjadi akibat saham Merdeka Gold Resources (EMAS) mengalami transaksi net foreign sebesar 2,81 triliun di pasar nego pada average 6.170.
Apabila transaksi ini dikeluarkan maka asing masih mencatatkan penjualan bersih sekitar Rp300,68 miliar.
Emiten lain yang menjadi beban IHSG adalah Barito Pacific (BRPT), Impack Pratama Industri (IMPC), Astra (ASII), hingga Petrindo Jaya Kreasi (CUAN).
Sebagai informasi, hingga perdagangan Senin (15/6/2026),IHSG sudah naik 17,09% dalam lima hari perdagangan terakhir sejak penutupan terendah pada 8 Juni 2026.
Secara persentase, apabila indeks mengalami kenaikan sebesar 20% dari titik terendah tersebut, maka batas konfirmasi bull market akan berada di level 6.381,49.
Lebih lanjut, untuk benar-benar memvalidasi kembalinya pasar ke dalam fase bullish yang solid secara jangka menengah, IHSG masih memiliki satu target utama pada minggu ini.
Indeks dituntut untuk berhasil melakukan reclaim dan menutup weekly candle di atas level 6.452,78 pada akhir pekan ini. Tercapainya target teknikal mingguan tersebut tentu sangat bergantung pada asumsi dasar bahwa iklim investasi di Indonesia dan perekonomian dunia tetap berada dalam kondisi yang terkendali.
Di sisi domestik, pemulihan IHSG ditopang oleh langkah antisipatif dari pemerintah beserta jajaran pemangku kepentingan institusional. Pemerintah telah mengomunikasikan adanya sense of awareness yang tinggi terhadap dinamika pasar modal dan stabilitas makroekonomi nasional.
Lanjut ke mata uang Rupiah, mata uang Garuda harus mengakui kekuatan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (17/6/2026). Di tengah penantian pasar akan hasil keputusan suku bunga bank sentral AS malam nanti.
Merujuk data Refinitiv, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,23% terhadap greenback ke posisi Rp17.730/US$. Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya, Senin (15/6/2026), rupiah sempat ditutup menguat di bawah level Rp17.700/US$, tepatnya di posisi Rp17.690/US$.
Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah sudah mengawali perdagangan di zona merah. Mata uang Garuda dibuka melemah 0,25% ke level Rp17.735/US$, lalu konsisten berada dalam tekanan hingga penutupan perdagangan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau menguat tipis 0,01% ke posisi 99,554.
Pergerakan dolar AS cenderung terbatas di tengah penantian pasar terhadap keputusan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve (The Fed).
Pelaku pasar cenderung menahan diri untuk mengambil posisi besar menjelang hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan diumumkan kemarin. Keputusan tersebut menjadi perhatian karena merupakan rapat kebijakan pertama The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.
The Fed diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, pelaku pasar akan mencermati pernyataan kebijakan, proyeksi ekonomi, dan konferensi pers untuk melihat arah kebijakan The Fed ke depan.
Perhatian utama pasar tertuju pada apakah The Fed akan mulai meninggalkan bias pelonggaran kebijakan, terutama ketika risiko inflasi dinilai masih tinggi.
Sementara di pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun kembali melemah ke 6,91% pada Rabu (17/6/2026) kemarin, dari hari sebelumnya yang ditutup di level 7,165%
Penurunan imbal hasil ini mengindikasikan bahwa kepercayaan dari investor domestik maupun asing mulai kembali ke pasar obligasi tanah air setelah mengalami penjualan secara ekstrim pada pekan lalu hingga mencapai 7,479% pada perdagangan Rabu (10/6/2026).
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street melemah pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indoensia.
Saham-saham Wall Street ditutup melemah setelah investor mulai mempertanyakan arah kebijakan moneter menyusul sinyal dari sejumlah pejabat The Federal Reserve yang membuka peluang kenaikan suku bunga tahun ini guna meredam inflasi.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 507,12 poin atau 0,98%, setelah sebelumnya sempat mencetak rekor intraday tertinggi baru untuk hari ketiga berturut-turut. Dow ditutup di level 51.492,55.
Sementara itu, indeks S&P 500 terkoreksi 1,21% ke posisi 7.420,10 dan Nasdaq Composite merosot 1,34% menjadi 26.021,66.
Saham-saham teknologi raksasa menjadi penekan utama pasar. Microsoft, Meta Platforms, Alphabet, dan Amazon seluruhnya ditutup di zona merah. Sentimen pasar juga tertekan oleh saham SpaceX yang turun untuk pertama kalinya sejak melantai di bursa pada Jumat lalu.
Meski demikian, penguatan saham-saham chip seperti Intel dan Micron Technology membantu membatasi pelemahan pasar yang lebih dalam.
Pada akhir rapat kebijakan dua hari yang merupakan pertemuan pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh, bank sentral AS memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%.
Namun, ringkasan proyeksi ekonomi terbaru (Summary of Economic Projections/SEP) menunjukkan sejumlah pejabat The Fed kini memperkirakan suku bunga perlu dinaikkan pada 2026.
Proyeksi median suku bunga Fed Funds pada akhir tahun kini berada di level 3,8%, naik dari 3,4% dalam proyeksi Maret lalu. Kenaikan ini mengindikasikan komite melihat setidaknya satu kali kenaikan suku bunga masih diperlukan pada 2026.
Warsh mengungkapkan dirinya tidak menyerahkan proyeksi suku bunga pribadi, sehingga menambah ketidakpastian terhadap arah kebijakan ke depan.
Merespons keputusan tersebut, yield Treasury AS melonjak. Yield obligasi pemerintah tenor dua tahun naik lebih dari 16 basis poin menjadi 4,216%.
"Reaksi pasar saat ini sebagian besar dipicu oleh dot plot yang jauh lebih hawkish. Arah angin telah berubah cukup besar dalam gambaran inflasi," kata Kepala Ekonom New Century Advisors, Claudia Sahm, dikutip dari CNBC International.
Investor juga menyoroti pernyataan Warsh yang berulang kali menegaskan komitmen The Fed terhadap stabilitas harga selama konferensi pers.
Pernyataan itu dipandang sebagai sinyal bahwa Warsh kemungkinan tidak akan agresif memangkas suku bunga seperti yang sebelumnya diperkirakan pasar setelah dirinya ditunjuk Presiden Donald Trump.
"Dia benar-benar ingin menunjukkan bahwa fokusnya adalah menjaga stabilitas harga. Itu berarti kebijakan moneter tidak akan semudah yang diperkirakan banyak orang pada awal tahun ketika pasar masih berharap pemangkasan suku bunga," ujar CEO DoubleLine Capital Jeffrey Gundlach.
"Hari ini dia sama sekali tidak terdengar seperti sosok yang siap memangkas suku bunga," tambahnya.
Pergerakan pasar keuangan domestik dan global pada paruh kedua pekan ini memasuki fase krusial. Para pelaku pasar kini mengalihkan fokus pada sejumlah agenda makroekonomi utama yang berpotensi menentukan arah aliran modal asing serta stabilitas nilai tukar.
Keputusan suku bunga The Fed serta Bank Indonesia akan menjadi fokus utama pasar hari ini. Berikut adalah sentimen yang akan menggerakkan pasar pada hari ini:
Perkembangan Perang
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu (17/6/2026) menandatangani memorandum of understanding (MoU) yang bertujuan mengakhiri perang antara kedua negara, menurut seorang pejabat AS kepada Reuters.
Pejabat tersebut menjelaskan bahwa dokumen itu sebelumnya telah ditandatangani secara digital pada Minggu lalu oleh Wakil Presiden AS JD Vance dan kepala negosiator Iran Mohammad Baqer Qalibaf, serta disaksikan oleh Trump. Penandatanganan terbaru oleh Trump dan Pezeshkian menjadi langkah formal untuk memperkuat kesepakatan tersebut.
Presiden AS Donald Trump membela kesepakatan sementara dengan Iran yang dicapai pekan ini. Menurutnya, perjanjian tersebut berhasil mencegah bencana ekonomi global, meski ia mengancam akan kembali menyerang jika Teheran melanggar komitmennya.
"Kami akan membombardir mereka jika melanggar perjanjian," kata Trump dalam konferensi pers usai KTT G7 di Prancis, dikutip dari Reuters.
Trump mengatakan lalu lintas kapal di Selat Hormuz meningkat tajam sejak gencatan senjata diumumkan tiga hari lalu. Ia berharap kesepakatan ini menjadi awal perdamaian yang lebih luas di Timur Tengah.
Perang yang pecah sejak serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari telah memicu lonjakan harga energi, meningkatkan tekanan inflasi, dan memunculkan kekhawatiran krisis pangan global.
Trump mengatakan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran akan segera ditandatangani. Sementara itu, pejabat AS mulai mengungkap rincian perjanjian yang terdiri dari 14 poin tersebut.
Dalam kesepakatan itu, Iran berjanji tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Selain itu, akan dibentuk dana senilai US$300 miliar untuk rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran, meski AS tidak diwajibkan menyumbang dana tersebut.
Perjanjian juga menetapkan penghentian permanen operasi militer di seluruh front, termasuk di Lebanon.
AS dan Iran sepakat untuk merundingkan perjanjian damai final dalam waktu maksimal 60 hari, yang dapat diperpanjang atas persetujuan kedua pihak.
Meski demikian, Trump menegaskan kesepakatan tersebut belum bersifat final. Ia memperingatkan AS dapat kembali melancarkan serangan jika Iran tidak mematuhi isi perjanjian.
"Jika mereka tidak berperilaku baik, kami akan kembali menjatuhkan bom tepat di atas kepala mereka," kata Trump.
The Fed Beri Sinyal Kenaikan Suku Bunga
The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di level 3,50%-3,75% pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Juni 2026. Namun, bank sentral AS memberi sinyal semakin kuat bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin dilakukan tahun ini seiring inflasi yang tetap jauh di atas target 2%.
Dalam pernyataan resminya, The Fed Fed menyatakan bahwa aktivitas ekonomi AS masih tumbuh solid.
Di sisi lain, inflasi masih berada di atas target 2% Fed. Karena itu, Fed menegaskan komitmennya untuk mengembalikan stabilitas harga.
Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmen bank sentral untuk mengembalikan inflasi ke target. Dalam pernyataan terbarunya, The Fed juga menghapus seluruh panduan arah suku bunga (forward guidance), menandai perubahan pendekatan di bawah kepemimpinan Warsh.
Sinyal paling jelas terlihat dari dokumen dot plot. Berdasarkan 18 proyeksi yang masuk, median perkiraan suku bunga akhir 2026 naik menjadi 3,8% dari 3,4% pada Maret.
Dari 19 pembuat kebijakan, sembilan pejabat kini memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga, delapan memperkirakan suku bunga tetap, dan hanya satu yang masih melihat peluang pemangkasan.
Warsh juga menolak memberikan petunjuk mengenai langkah The Fed berikutnya. Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini membuat forward guidance tidak lagi relevan.
Di sisi lain, The Fed menaikkan proyeksi inflasi 2026 menjadi 3,6% untuk inflasi umum dan 3,3% untuk inflasi inti. Sebaliknya, proyeksi pertumbuhan ekonomi diturunkan menjadi 2,2%.
Dengan dot plot yang semakin hawkish dan proyeksi inflasi yang lebih tinggi, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada tahun ini kini semakin terbuka.
Penjualan Ritel AS Mei 2026
Menyusuri sentimen sejak Rabu kemarin, perhatian pelaku pasar global banyak tersita oleh rilis data penjualan ritel Amerika Serikat periode Mei 2026 yang menunjukkan lonjakan signifikan di tengah tekanan inflasi.
Penjualan ritel tercatat melesat 6,9% secara tahunan, menandai akselerasi tajam dari kenaikan 4,8% pada bulan April sekaligus melampaui ekspektasi pasar. Angka tersebut merupakan lonjakan tahunan tertinggi sejak Januari 2023.
Faktor pendorong utama pertumbuhan konsumsi ini berasal dari penerimaan stasiun pengisian bahan bakar yang meroket hingga 26,5%.
Kenaikan eksponensial pada sektor energi ini merupakan imbas langsung dari tren tingginya biaya bahan bakar akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Rilis data ini menjadi indikasi kuat bahwa konsumen di Amerika Serikat masih memiliki daya beli yang tangguh dalam menopang perekonomian nasional.
Kondisi fundamental yang solid ini pada gilirannya dapat mempengaruhi kalkulasi bank sentral Amerika Serikat terkait arah kebijakan moneter dan jadwal pelonggaran suku bunga ke depan.
Klaim Pengangguran AS Juni 2026 Minggu Kedua
Pada Kamis hari ini, AS akan merilisq data ketenagakerjaan mingguan Amerika Serikat. Jumlah klaim tunjangan pengangguran awal tercatat mengalami kenaikan sebanyak 4.000 klaim menjadi 229.000 pada pekan pertama Juni.
Angka ini menyentuh level tertingginya dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, sekaligus berada di atas proyeksi pasar yang sebelumnya memperkirakan penurunan ke level 219.000.
Di sisi lain, indikator klaim pengangguran lanjutan yang kerap dijadikan proksi bagi tingkat pengangguran struktural juga mengalami kenaikan tipis menjadi 1.795.000 klaim.
Meskipun mencatatkan peningkatan kuantitatif dari posisi terendahnya pada awal Mei lalu, deretan angka ini secara historis masih mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif solid.
Resiliensi persisten pada sektor tenaga kerja ini terus memperpanjang periode tingkat pemutusan hubungan kerja yang rendah, sebuah situasi yang dapat menahan laju penurunan inflasi sektor jasa dan memperumit ruang penurunan suku bunga.
Suku Bunga Bank Indonesia (BI Rate)
Dari ranah domestik, agenda fundamental yang menjadi pusat perhatian pada perdagangan Kamis hari ini adalah pengumuman hasil akhir Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia.
Mayoritas pelaku pasar memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan kembali menaikkan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) kali ini yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026. Namun kini, jaraknya menipis.
Dari 14 institusi yang berpartisipasi dalam polling CNBC Indonesia, delapan memperkirakan BI Rate akan naik 25 basis poin menjadi 5,75%. Sementara enam institusi lainnya memperkirakan BI mempertahankan suku bunga di level 5,50%.
Dengan hasil tersebut, median proyeksi dalam polling CNBC Indonesia berada di level 5,75%.
Perdebatan ini muncul karena BI baru saja dua kali menaikkan suku bunga dalam waktu berdekatan. Pada RDG Bulanan Mei 2026, BI lebih dulu menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.
Kemudian, pada RDG Mingguan pada pekan lalu, Senin (9/6/2026), BI kembali mengejutkan pasar dengan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Artinya, dalam waktu kurang dari satu bulan, BI sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar total 75 basis poin.
Kelompok analis yang memperkirakan BI menahan suku bunga menilai kenaikan mendadak pada awal Juni sudah cukup untuk meredam tekanan terhadap rupiah.
Namun, sebagian menilai tekanan terhadap rupiah masih terlalu besar untuk diabaikan sehingga ruang kenaikan suku bunga tambahan masih terbuka.
Melansir Refinitiv, level terlemah rupiah sepanjang sejarah berada di posisi Rp18.170/US$ yang terbentuk pada penutupan perdagangan Senin (8/6/2026).
Meski demikian, sejak BI Rate dinaikkan dalam RDG Mingguan pada pekan lalu, rupiah mulai sedikit bernapas. Mata uang Garuda berhasil menguat dalam beberapa hari setelahnya.
Terakhir, pada penutupan perdagangan Rabu (17/6/2026), rupiah terparkir di posisi Rp17.730/US$.
Meski berhasil rebound, nilai tukar rupiah masih jauh lebih lemah dibandingkan pertengahan tahun lalu yang berada di kisaran Rp16.000 per dolar AS.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan utama mengapa mayoritas ekonom dalam polling CNBC Indonesia masih memilih skenario kenaikan suku bunga.
Di balik perdebatan tersebut, BI kini menghadapi dilema yang tidak mudah.
Menahan suku bunga dapat membantu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik. Namun, menaikkan suku bunga berpotensi memperkuat daya tarik aset rupiah dan membantu menjaga stabilitas nilai tukar.
MSCI Global Market Accessibility Review Juni 2026
Setelah merespons arah kebijakan moneter Bank Indonesia hari ini, fokus manajer investasi global dan institusi domestik akan langsung tertuju pada pengumuman MSCI Global Market Accessibility Review yang dijadwalkan rilis pada Jumat (19/6/2026) besok subuh.
Hasil tinjauan tahunan ini memiliki implikasi masif karena mengevaluasi tingkat aksesibilitas pasar modal di berbagai negara beserta kualitas infrastruktur pasarnya.
Bagi pasar ekuitas Indonesia, pengumuman besok subuh ini selalu menjadi sorotan krusial. Setiap penyesuaian metodologi klasifikasi pasar, perlakuan khusus terhadap instrumen ekuitas, maupun tinjauan terkait regulasi batasan bobot saham publik atau aturan free float akan berdampak terstruktur pada komposisi portofolio reksa dana pasif global.
Keputusan ini berpotensi akan memicu penyesuaian posisi investasi dalam volume transaksi yang besar. Hal ini juga berpotensi menciptakan volatilitas likuiditas dan harga saham emiten berkapitalisasi raksasa di Bursa Efek Indonesia pada penutupan perdagangan akhir pekan nanti.
Selain Accessibility Review, MSCI juga akan segera merilis MSCI Annual Market Classification Review pada Rabu (24/6/2026) subuh mendatang.
Rilis ini akan menjadi penentu bagi pasar ekuitas di Indonesia terkait akankah Indonesia tetap berada di Emerging Market atau dalam kasus terburuknya bisa turun ke dalam Frontier Market seperti yang ditakuti oleh Investor beberapa bulan terakhir sejak diedarkannya surat pemberitahuan terkait transparansi pasar oleh MSCI pada Rabu (28/1/2026).
Berikut ini adalah keterangan dari MSCI Global Market Accessibility Review yang dirilis pada Juni 2025:
MSCI Global Market Accessibility Review Juni 2025 (dok. MSCI) |
MSCI Global Market Accessibility Review Juni 2025 Part 2 (dok. MSCI) |
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
-
Rapat Koordinasi Tingkat Menteri Tim Pengarah Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Provinsi Aceh, Provinsi Sumatera Utara, dan Provinsi Sumatera Barat bertempat di Ruang Rapat Lantai 14, Gedung Kemenko Bidang PMK, Jakarta Pusat
-
Proses eksekusi Blok 15 Gelora Bung Karno eks Hotel Sultan, Jakarta Pusat.=
-
Media Briefing & Press Conference Hasil Kajian UMKM PERBANAS 2026 dengan tema "Revitalisasi Bisnis Model UMKM dalam Mendorong Pertumbuhan Kredit dan Ekonomi Nasional" di Four Seasons Hotel, Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Ketua Umum PERBANAS/CEO BRI Group
-
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menyelenggarakan Edukasi Wartawan terkait Market Outlook Obligasi Semester 2 Tahun 2026 oleh Penilai Harga Efek Indonesia via Microsoft Teams.=
-
Konferensi pers AAUI terkait update asuransi umum dan reasuransi triwulan I tahun 2026 di Gedung Permata Kuningan, Jakarta Selatan.
-
Konferensi pers hasil rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia via zoom meeting.
- Tingkat Pengangguran Inggris April 2026
- Tingkat Suku Bunga Bank of England Juni 2026
- Klaim Pengangguran AS Juni Minggu Kedua 2026
- MSCI Accessibilty Review Juni 2026
- a
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Apollo Global Interactive Tbk (BOGA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Paperocks Indonesia Tbk (PPRI)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Arthavest Tbk (ARTA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Saraswanti Anugerah Makmur Tbk (SAMF)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Agung Menjangan Mas Tbk (AMMS)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Ingria Pratama Capitalindo Tbk (GRIA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Telefast Indonesia Tbk (TFAS)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Blue Bird Tbk (BIRD)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Lupromax Pelumas Indonesia Tbk (LMAX)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Map Boga Adiperkasa Tbk (MAPB)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Bank Bumi Arta Tbk (BNBA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (OPMS)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Bumi Resources Tbk (BUMI)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Indonesian Paradise Property Tbk (INPP)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Bahtera Bumi Raya Tbk (PGJO)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Pondok Indah Padang Golf Tbk (PIPG)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Ecocare Indo Pasifik Tbk (HYGN)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Saham Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Soho Global Health Tbk (SOHO)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Trans Power Marine Tbk (TPMA)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Mandom Indonesia Tbk (TCID)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Buana Finance Tbk (BBLD)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Surya Citra Media Tbk (SCMA)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Gajah Tunggal Tbk (GJTL)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai Selamat Sempurna Tbk (SMSM)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk (GHON)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Idea Indonesia Akademi Tbk (IDEA)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk (IFII)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Ateliers Mecaniques D Indonesie Tbk (AMIN)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Sat Nusapersada Tbk (PTSN)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Topindo Solusi Komunika Tbk (TOSK)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Elnusa Tbk (ELSA)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Bank Mestika Dharma Tbk (BBMD)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk (SCCO)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Champion Pacific Indonesia Tbk (IGAR)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Selaras Citra Nusantara Perkasa Tbk (SCNP)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Madusari Murni Indah Tbk (MOLI)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Multifiling Mitra Indonesia Tbk (MFMI)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Asia Pramulia Tbk (ASPR)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Jakarta Setiabudi Internasional Tbk (JSPT)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Kabelindo Murni Tbk (KBLM)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai ALAM SUTERA REALTY Tbk (ASRI)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Metrodata Electronics Tbk (MTDL)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Jasa Berdikari Logistics Tbk (LAJU)
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Add
source on Google Next Article Perang Mereda: Jepang, China & The Fed Malah Bikin RI Ketar-Ketir

