MARKET DATA
Newsletter

The Fed Beri Sinyal Kenaikan Suku Bunga, Kini Semua Mata Tertuju ke BI

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
18 June 2026 06:25
wall street
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (ketiga kiri) saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Januari 2025 dengan Cakupan Triwulanan pada Rabu (15/1/2025). (REUTERS/Willy Kurniawan)

Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street melemah pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indoensia.

Saham-saham Wall Street ditutup melemah setelah investor mulai mempertanyakan arah kebijakan moneter menyusul sinyal dari sejumlah pejabat The Federal Reserve yang membuka peluang kenaikan suku bunga tahun ini guna meredam inflasi.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 507,12 poin atau 0,98%, setelah sebelumnya sempat mencetak rekor intraday tertinggi baru untuk hari ketiga berturut-turut. Dow ditutup di level 51.492,55.

Sementara itu, indeks S&P 500 terkoreksi 1,21% ke posisi 7.420,10 dan Nasdaq Composite merosot 1,34% menjadi 26.021,66.

 

Saham-saham teknologi raksasa menjadi penekan utama pasar. Microsoft, Meta Platforms, Alphabet, dan Amazon seluruhnya ditutup di zona merah. Sentimen pasar juga tertekan oleh saham SpaceX yang turun untuk pertama kalinya sejak melantai di bursa pada Jumat lalu.

Meski demikian, penguatan saham-saham chip seperti Intel dan Micron Technology membantu membatasi pelemahan pasar yang lebih dalam.

Pada akhir rapat kebijakan dua hari yang merupakan pertemuan pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh, bank sentral AS memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%.

Namun, ringkasan proyeksi ekonomi terbaru (Summary of Economic Projections/SEP) menunjukkan sejumlah pejabat The Fed kini memperkirakan suku bunga perlu dinaikkan pada 2026.

Proyeksi median suku bunga Fed Funds pada akhir tahun kini berada di level 3,8%, naik dari 3,4% dalam proyeksi Maret lalu. Kenaikan ini mengindikasikan komite melihat setidaknya satu kali kenaikan suku bunga masih diperlukan pada 2026.

Warsh mengungkapkan dirinya tidak menyerahkan proyeksi suku bunga pribadi, sehingga menambah ketidakpastian terhadap arah kebijakan ke depan.

Merespons keputusan tersebut, yield Treasury AS melonjak. Yield obligasi pemerintah tenor dua tahun naik lebih dari 16 basis poin menjadi 4,216%.

"Reaksi pasar saat ini sebagian besar dipicu oleh dot plot yang jauh lebih hawkish. Arah angin telah berubah cukup besar dalam gambaran inflasi," kata Kepala Ekonom New Century Advisors, Claudia Sahm, dikutip dari CNBC International.

Investor juga menyoroti pernyataan Warsh yang berulang kali menegaskan komitmen The Fed terhadap stabilitas harga selama konferensi pers.

Pernyataan itu dipandang sebagai sinyal bahwa Warsh kemungkinan tidak akan agresif memangkas suku bunga seperti yang sebelumnya diperkirakan pasar setelah dirinya ditunjuk Presiden Donald Trump.

"Dia benar-benar ingin menunjukkan bahwa fokusnya adalah menjaga stabilitas harga. Itu berarti kebijakan moneter tidak akan semudah yang diperkirakan banyak orang pada awal tahun ketika pasar masih berharap pemangkasan suku bunga," ujar CEO DoubleLine Capital Jeffrey Gundlach.

"Hari ini dia sama sekali tidak terdengar seperti sosok yang siap memangkas suku bunga," tambahnya.

(gls/gls) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features