MARKET DATA

Bukan Emas, Ini Mesin Uang Terbesar ANTAM

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
15 June 2026 14:10
Gedung Antam. (CNBC Indonesia TV)
Foto: Gedung Antam. (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT ANTAM (Persero) Tbk mencatatkan rekor kinerja keuangan tertinggi sepanjang sejarah operasionalnya pada tahun buku 2025.

Perusahaan membukukan laba tahun berjalan atau laba bersih sebesar Rp7,92 triliun, yang menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 106% dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya di angka Rp3,85 triliun.

Pertumbuhan laba bersih yang masif ini didorong oleh total pendapatan konsolidasian yang mencapai Rp84,64 triliun, sebuah peningkatan sebesar 22% dari pendapatan tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp69,19 triliun.

Struktur Pendapatan Lini Bisnis Komoditas

Lini bisnis utama ANTAM terbagi ke dalam tiga segmen operasional strategis, yakni Logam Mulia dan Pemurnian, Nikel, serta Bauksit dan Alumina. Sektor logam mulia memegang kendali penuh terhadap volume perputaran arus kas perusahaan dengan kontribusi pendapatan emas mencapai Rp66,47 triliun, yang setara dengan 78,53% dari total omzet konsolidasian perusahaan.

Di posisi kedua, sektor nikel menyumbangkan total pendapatan sebesar Rp14,85 triliun yang berasal dari agregasi penjualan bijih nikel domestik sebesar Rp12,75 triliun dan penjualan ekspor feronikel sebesar Rp2,10 triliun.

Selanjutnya, sektor bauksit dan alumina memberikan kontribusi pendapatan gabungan sebesar Rp2,92 triliun, yang terbagi atas penjualan produk hilir alumina sebesar Rp1,83 triliun dan penjualan bijih bauksit sebesar Rp1,09 triliun. Pendapatan sisanya disumbangkan oleh penjualan komoditas perak dan pendapatan jasa pemurnian logam mulia.

eban keuangan, serta penghasilan operasi lain dikelola secara terpusat oleh korporasi.

Oleh karena itu, tingkat profitabilitas fundamental dari masing-masing komoditas dianalisis menggunakan metrik laba kotor. Pada tahun 2025, ANTAM berhasil membukukan total laba kotor sebesar Rp13,68 triliun.

Meskipun sektor emas menyumbang nyaris 80% dari total pendapatan, margin laba kotor dari sektor ini sangat terbatas. Laporan keuangan menunjukkan bahwa ANTAM harus mengeluarkan biaya sebesar Rp60,73 triliun murni untuk pembelian bahan baku logam mulia dari pihak ketiga.

Akibat tingginya harga pokok perolehan bahan baku ini, profitabilitas riil dari sektor perdagangan emas ritel tergerus secara signifikan sebelum dikonversi menjadi laba usaha.

Sebaliknya, sektor nikel beroperasi sebagai mesin utama pencetak margin keuntungan bagi ANTAM. Komoditas bijih nikel merupakan hasil penambangan langsung dari konsesi lahan tambang milik perusahaan, sehingga struktur biaya produksinya sangat efisien dan tidak terbebani oleh biaya pembelian bahan baku dari pihak luar.

 

Lonjakan volume penjualan bijih nikel domestik yang menyentuh angka 14,58 juta wet metric ton dipadukan dengan optimalisasi harga jual, menjadikan sektor nikel sebagai penyumbang terbesar terhadap akumulasi laba kotor konsolidasian perusahaan.

Kalkulasi Profitabilitas dan Transmisi Menuju Laba Bersih

Akumulasi laba kotor dari ketiga segmen utama komoditas tersebut mencapai Rp11,80 triliun. Selisih sebesar Rp1,88 triliun untuk mencapai total laba kotor konsolidasian Rp13,68 triliun bersumber dari sektor jasa logam mulia, keuntungan entitas asosiasi, serta penyesuaian operasional lainnya. Pemulihan nilai realisasi persediaan secara akuntansi juga berperan dalam menekan angka total beban pokok penjualan konsolidasian menjadi Rp70,96 triliun.

Soliditas laba kotor yang dihasilkan oleh efisiensi sektor nikel dan perputaran volume sektor emas tersebut kemudian dikurangi oleh beban usaha sebesar Rp5,28 triliun, sehingga menghasilkan laba usaha sebesar Rp8,39 triliun.

 

Kinerja operasional ini semakin diperkuat oleh adanya penghasilan operasi lain sebesar Rp786,63 miliar yang bersumber dari penyesuaian nilai wajar imbalan kontinjensi atas transaksi divestasi entitas anak perusahaan.

Setelah memperhitungkan beban keuangan yang berhasil ditekan turun menjadi Rp167,10 miliar, bagian laba dari entitas asosiasi sebesar Rp182,65 miliar, serta pengurangan beban pajak penghasilan sebesar Rp1,82 triliun, ANTAM berhasil mengunci total laba bersih secara mutlak di angka Rp7,92 triliun.

Dominasi sektor nikel dengan marjin 37,71% menjadi alasan utama komoditas ini merupakan mesin pencetak laba bersih perusahaan. Lonjakan volume penjualan bijih nikel dari tambang milik sendiri menjadi katalis utama yang melesatkan profitabilitas ANTAM hingga mencetak rekor laba bersih pada tahun ini.

Berikut adalah estimasi perhitungan laba kotor dan marjin profitabilitas dari masing-masing segmen operasional pada tahun 2025.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular