MARKET DATA

Iran Tak Takluk Meski Digempur, Trump Kehabisan Opsi

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia
12 June 2026 18:05
Donald Trump Buat Geger, Dorong Rusia Serang NATO
Foto: Infografis/ Donald Trump Buat Geger, Dorong Rusia Serang NATO/Aristya rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berkali-kali menggambarkan Iran sebagai pihak yang sudah kalah. Pada Rabu (10/6/2026), Trump bahkan menyebut Teheran telah "completely defeated".

Masalahnya, Iran tidak bertingkah seperti pihak yang kalah.

Setelah lebih dari 100 hari menghadapi serangan dan blokade dari Amerika Serikat serta Israel, Iran masih mampu menjatuhkan helikopter Amerika, menyerang Israel, dan meluncurkan rudal ke negara-negara Teluk. Alih-alih menunjukkan tanda-tanda menyerah, Teheran justru terlihat terus mencari cara menaikkan taruhan.

Semakin lama konflik berlangsung, semakin jelas bahwa masalah Trump bukan bagaimana memulai perang melainkan bagaimana mengakhirinya.

Tiga Tekanan Sekaligus

Trump kini menghadapi tiga persoalan pada saat yang sama.

Iran terus mengancam lalu lintas energi global melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman minyak paling penting di dunia. Israel masih menjalankan agenda keamanannya sendiri. Sementara di Washington, kelompok hawkish terus mendorong langkah yang lebih agresif terhadap Teheran.

Ketiga tekanan itu mengarah ke tujuan yang berbeda.

Namun semuanya menuntut respons dari White House.

Iran melu8ncurkan gelombang serangan rudal ke Israel, Minggu (7/6/2026). (Tangakapan Layar Video/Reuters)Iran melu8ncurkan gelombang serangan rudal ke Israel, Minggu (7/6/2026). (Tangakapan Layar Video/Reuters) Foto: Iran melu8ncurkan gelombang serangan rudal ke Israel, Minggu (7/6/2026). (Tangakapan Layar Video/Reuters)

 

Iran Belum Menunjukkan Tanda Menyerah

Jika tujuan perang adalah memaksa lawan menerima syarat damai, tanda-tandanya belum terlihat.

Pekan ini Iran menembak jatuh helikopter Amerika, menyerang Israel, dan meluncurkan rudal ke negara-negara Teluk. Serangkaian aksi tersebut menunjukkan bahwa para penguasa di Teheran masih bersedia mengambil risiko konflik yang lebih luas.

Bagi Trump, itu menciptakan dilema yang tidak nyaman.

Tekanan yang lebih besar berisiko memicu eskalasi baru. Namun tanpa tekanan, peluang memaksa Iran menerima syarat Washington juga semakin kecil.

Karena itu, pemerintahan Trump tetap mencoba menjaga jalur negosiasi tetap terbuka, bahkan ketika konflik belum benar-benar mereda.

Sekutu dengan Prioritas Berbeda

Untuk membuka jalan menuju kesepakatan yang lebih luas, Washington membutuhkan situasi kawasan yang lebih tenang. Namun Israel memiliki perhitungan yang tidak selalu sama dengan Amerika.

Trump ingin menurunkan tensi. Benjamin Netanyahu ingin tetap terlihat tegas di tengah tekanan politik domestik menjelang pemilu. Akibatnya, langkah yang dianggap membantu diplomasi di Washington belum tentu dianggap menguntungkan di Yerusalem.

Bagi Iran, perbedaan itu menciptakan peluang.

Semakin sulit Amerika dan Israel bergerak dalam satu arah, semakin besar ruang yang dimiliki Teheran untuk bertahan.

Pasar Masih Tenang

Sejauh ini, harga minyak memang bergerak mengikuti setiap perkembangan di Timur Tengah. Namun kenaikannya masih jauh dari skenario yang paling ditakuti pasar.

Ada beberapa alasan.

China dan sejumlah importir besar berhasil menahan pertumbuhan permintaan energi. Amerika Serikat dan negara eksportir lain meningkatkan produksi. Beberapa negara juga mulai menggunakan cadangan energinya untuk meredam gangguan pasokan.

 

Presiden AS Donald Trump menunjuk ke arah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat mereka berjabat tangan dalam konferensi pers setelah bertemu di klub Mar-a-Lago milik Trump di Palm Beach, Florida, AS, Senin (29/12/2025). (REUTERS/Jonathan Ernst)Presiden AS Donald Trump menunjuk ke arah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat mereka berjabat tangan dalam konferensi pers setelah bertemu di klub Mar-a-Lago milik Trump di Palm Beach, Florida, AS, Senin (29/12/2025). (REUTERS/Jonathan Ernst) Foto: Presiden AS Donald Trump menunjuk ke arah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat mereka berjabat tangan dalam konferensi pers setelah bertemu di klub Mar-a-Lago milik Trump di Palm Beach, Florida, AS, Senin (29/12/2025). (REUTERS/Jonathan Ernst)

 

Kombinasi tersebut membantu menjaga pasar tetap relatif stabil.

Masalahnya, tidak ada yang bisa berlangsung selamanya.

Permintaan bahan bakar biasanya meningkat selama musim panas. Cadangan energi juga akan terus menyusut jika konflik berkepanjangan. Bantalan yang hari ini meredam guncangan bisa berubah menjadi sumber tekanan baru beberapa bulan ke depan.

Yang Dipertaruhkan Bukan Lagi Iran

Pada titik ini, persoalannya bukan lagi siapa yang unggul di medan konflik. Yang dipertaruhkan adalah stabilitas energi global.

Iran masih memiliki kemampuan mengganggu lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Semakin lama ketidakpastian berlangsung, semakin besar risiko terhadap pasokan minyak, inflasi, dan harga energi yang dibayar konsumen di berbagai negara.

Dampaknya mungkin belum sepenuhnya terasa hari ini.

Namun pasar energi memiliki kebiasaan yang sama dengan konflik geopolitik: risikonya sering terlihat kecil, sampai tiba-tiba tidak lagi kecil.

Pilihan yang Tidak Menyenangkan

Semakin lama perang berlangsung, semakin jelas bahwa Trump tidak memiliki banyak pilihan yang benar-benar baik.

Meningkatkan tekanan militer berisiko memperbesar gangguan energi global. Membiarkan situasi berjalan tanpa arah juga membawa biaya yang terus bertambah. Sementara tujuan perang yang lebih ambisius terlihat semakin sulit dicapai.

Suasana usai serangan pesawat tak berawak Iran di Bahrain, Kamis (11/6/2026). (Tangkapan Layar Video/REUTERS)Suasana usai serangan pesawat tak berawak Iran di Bahrain, Kamis (11/6/2026). (Tangkapan Layar Video/REUTERS) Foto: Suasana usai serangan pesawat tak berawak Iran di Bahrain, Kamis (11/6/2026). (Tangkapan Layar Video/REUTERS)

 

Akibatnya, ruang kompromi yang sebelumnya tampak tidak menarik justru mulai terlihat lebih realistis.

Bukan karena itu pilihan yang baik. Tetapi karena alternatif lainnya terlihat lebih buruk.

Biaya Sebuah Perang

Perang sering dimulai dengan tujuan yang jelas.

Masalahnya, tujuan tersebut jarang bertahan utuh setelah berbulan-bulan konflik, tekanan politik, dan konsekuensi ekonomi mulai menumpuk.

Yang semakin terlihat saat ini adalah bahwa biaya perang tidak hanya ditanggung oleh pihak yang berada di medan tempur. Ia juga dibayar melalui harga energi, ketidakpastian pasar, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih rapuh.

Pada akhirnya, hasil terbaik yang mungkin muncul bukanlah kemenangan besar yang dijanjikan di awal.

Melainkan kesepakatan yang cukup untuk mencegah keadaan menjadi lebih buruk.



(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular