MARKET DATA

Bencana Datang Lebih Cepat, Amerika Kewalahan Menanggung Biayanya

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia
11 June 2026 13:58
Kebakaran hutan Los Angeles, Amerika Serikat, terus meluas dan menewaskan setidaknya dua orang serta menghancurkan ratusan bangunan. (REUTERS/Ringo Chiu)
Foto: Kebakaran hutan Los Angeles, Amerika Serikat, terus meluas dan menewaskan setidaknya dua orang serta menghancurkan ratusan bangunan. (REUTERS/Ringo Chiu)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bencana di Amerika Serikat (AS) semakin memakan ongkos besar.

Pada 1980-an, bencana alam bernilai miliaran dolar di Amerika Serikat masih tergolong peristiwa yang relatif jarang. Kini situasinya berbeda.

Hanya dalam enam tahun pertama dekade 2020-an, kerugian akibat bencana yang terkait dengan iklim telah mencapai US$901 miliar. Angka itu hampir menyamai total kerugian sepanjang dekade 2010-an yang menembus US$1 triliun.

Dengan kata lain, tagihan yang dulu membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk terkumpul kini hampir tercapai sebelum dekade berakhir.

Data Climate Central menunjukkan perubahan tersebut tidak hanya terlihat pada besarnya kerugian, tetapi juga pada jenis dan frekuensi bencana yang terjadi.

Ongkos yang Terus Membesar

Biaya bencana bernilai miliaran dolar di Amerika Serikat meningkat hampir tanpa jeda selama empat dekade terakhir.

Pada 1980-an, total kerugiannya mencapai US$227 miliar. Angka itu naik menjadi US$347 miliar pada 1990-an, lalu melonjak menjadi US$643 miliar pada 2000-an.

Memasuki 2010-an, total kerugian untuk pertama kalinya menembus US$1 triliun.

Yang mencolok adalah dekade 2020-an. Hingga Maret 2026, total kerugian sudah mencapai US$901 miliar-nyaris menyamai keseluruhan kerugian sepanjang 2010-an.

Lonjakan terbesar terjadi pada 2000-an ketika total biaya bencana meningkat sekitar 85% dibanding dekade sebelumnya.

Sejak saat itu, grafiknya tidak pernah benar-benar kembali turun.

Dari Kekeringan ke Badai Tropis

Yang berubah bukan hanya besar kerugiannya, tetapi juga sumber kerugiannya.

Pada 1980-an, kekeringan menjadi penyumbang biaya terbesar dengan nilai mencapai US$122 miliar, lebih dari separuh total kerugian dekade tersebut. Sementara kerugian akibat badai tropis masih berada di kisaran US$48 miliar.

Empat dekade kemudian, gambarnya berbalik.

 

Hingga Maret 2026, badai tropis telah menimbulkan kerugian sekitar US$412 miliar. Badai hebat atau severe storm menyusul dengan kerugian US$252 miliar.

Artinya, pusat gravitasi kerugian ekonomi ikut bergeser.

Jika dulu kekeringan mendominasi tagihan bencana, kini badai tropis dan cuaca ekstrem menjadi penyumbang kerusakan terbesar.

Satu Badai, US$123 Miliar

Tidak semua kerugian tersebut datang dari banyak kejadian kecil.

Sebagian berasal dari beberapa bencana yang sangat mahal.

Yang terbesar sejauh ini adalah Hurricane Ian yang menghantam Amerika Serikat pada September 2022. Kerugiannya diperkirakan mencapai US$123 miliar.

Ian juga tercatat sebagai salah satu badai paling kuat yang menghantam Amerika Serikat sejak 1900.

Sementara itu, kebakaran hutan telah menyebabkan kerugian lebih dari US$100 miliar sepanjang dekade 2020-an.

Bukan Hanya Lebih Mahal

Masalahnya bukan sekadar setiap bencana menjadi lebih mahal.

Jumlah bencananya juga bertambah.

Pada 1980-an, Amerika Serikat mencatat 33 bencana terkait iklim dengan kerugian minimal US$1 miliar. Pada dekade 2020-an, jumlahnya sudah mencapai 143 kejadian hingga 2026.

Artinya, kerugian meningkat bukan hanya karena muncul beberapa peristiwa luar biasa mahal. Peristiwa bernilai miliaran dolar kini terjadi jauh lebih sering dibanding beberapa dekade lalu.

Ketika Masa Lalu Tidak Lagi Cukup

Selama bertahun-tahun, perusahaan dan industri asuransi mengandalkan data historis untuk mengukur risiko.

Logikanya sederhana: apa yang pernah terjadi kemungkinan akan memberi petunjuk tentang apa yang akan terjadi berikutnya.

Pendekatan itu menjadi lebih rumit ketika biaya dan frekuensi bencana meningkat jauh lebih cepat dibanding banyak model yang digunakan untuk menghitung risiko.

Dalam kondisi seperti ini, masa lalu masih berguna. Namun tidak lagi cukup.

Bagi perusahaan asuransi, tantangannya bukan sekadar menghitung peluang satu bencana besar terjadi. Mereka juga harus memperkirakan kemungkinan beberapa peristiwa mahal muncul dalam periode yang berdekatan.

Risiko yang Bergerak Lebih Cepat

Di balik semua angka ini, cerita utamanya sebenarnya bukan tentang badai, kebakaran hutan, atau kekeringan.

Cerita utamanya adalah risiko.

Dalam empat dekade, biaya bencana meningkat dari US$227 miliar menjadi hampir US$1 triliun per dekade. Pada saat yang sama, jumlah bencana bernilai miliaran dolar juga terus mencetak rekor baru.

Bagi perusahaan, investor, dan industri asuransi, tantangannya bukan lagi memahami apa yang telah terjadi.

Tantangannya adalah memperkirakan apa yang mungkin terjadi berikutnya.

Semakin Mahal, Semakin Sulit Diprediksi

Selama puluhan tahun, bencana alam diperlakukan sebagai risiko yang bisa dihitung.

Data terbaru menunjukkan perhitungannya menjadi semakin rumit.

Ketika biaya terus naik dan kejadian ekstrem semakin sering muncul, persoalannya bukan lagi sekadar berapa besar kerugian yang ditimbulkan satu bencana.

Melainkan seberapa cepat bencana berikutnya datang sebelum tagihan sebelumnya selesai dibayar.



(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular